Heboh, Seniman Indonesia Gelar Event 'Makan Mayit'

Event 'Makan Mayit' yang menghebohkan dunia maya, digelar oleh pop-up store Little Shop of Horrors.
Sumber :
  • Instagram @roodkapje

VIVA.co.id – 'Makan Mayit'. Namanya sudah cukup menggelitik rasa ingin tahu orang yang mendengarnya. 'Makan Mayit' adalah sebuah event yang digelar oleh sebuah pop-up store bernama Little Shop of Horrors milik seniman Indonesia, Natasha Gabriella Tontey.

Acara yang sempat menghebohkan publik beberapa waktu lalu ini digelar dua kali pada 28 Januari dan 25 Februari 2017 lalu.

Awalnya Little Shop of Horror membuka pop-up shop di toko Footurama di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Pop-up store ini dibuka pada 21 Januari 2017 lalu dan diakhiri pada gelaran kedua event 'Makan Mayit' beberapa waktu lalu.

Setelah foto-fotonya banyak beredar di media sosial, banyak yang mengira acara ini dihelat sebuah restoran. Namun, bukan demikian adanya.

Berdasarkan penulusuran VIVA.co.id dari media sosial Instagram, Little Shop of Horror adalah sebuah project yang dibuat oleh Natasha pada gelaran Koganecho Bazaar 2015 di Yokohama, Jepang dan 'Makan Mayit' menjadi bagian dari 'pertunjukan' yang disuguhkan dari project tersebut.

"Little Shop of Horrors is not a brand. It is a project that I made during my artist in residence programme in Koganecho Bazaar 2015 in Yokohama," tulis Natasha melalui akun Instagram @littleshopofhorrors.jp pada 22 Januari 2017 lalu.

"@roodkapje (akun Instagram milik Natasha Gabriella Tontey) is bringing the horrors to Indonesia by emphasizing the topic of cannibalism. Little Shop of Horrors that will be held in Footurama will explore the psychodynamics of cannibal fantasies in a performative dinner entitled "Fresh Flesh Feast” or "Makan Mayit" in Bahasa Indonesia," tulis akun resmi milik Footurama, 18 Januari 2017 lalu.

Ya, kanibalisme adalah topik yang memang sengaja ia angkat menjadi tema gelaran makan malam tersebut. Kanibalisme adalah hal tabu di banyak kalangan masyarakat Indonesia khususnya.

"Through this project, NGT would like to create an experimentation of sharing community through the medium of collective and personal fear amongst the locals,” tulisnya.

Dalam beberapa unggahan, Natasha dan Footurama sudah memberi peringatan mengenai gelaran yang kontroversial bagi banyak orang seperti video-video, properti dan makanan yang ada di acara makan malam tersebut.

Dari unggahan foto milik Little Shop of Horrors dan Footurama, gelaran makan malam 'kanibal' ini dibuat dengan suasana kelam dan kesan seram terasa bagi yang tidak biasa. Makanan di sajikan dalam potongan tubuh boneka yang ‘dimutilasi’.

Tak lupa terdapat hidangan seperti otak dan makanan seperti agar-agar berbentuk tubuh bayi mungil, lengkap dengan cairan bercampur darah sehingga tampilan makanan ini menyerupai janin segar yang baru keluar dari rahim.

Untuk menikmati sensasi makan malam 'kanibal' ini konsumen harus mengeluarkan biaya Rp500 ribu dan hanya dibatasi sebanyak 15 peserta saja. Seperti yang tertulis di media sosial Instagram, 25 Februari 2017 adalah event terakhir yang dihelat oleh Little Shop of Horrors.

"Before closing up our pop-up shop, Little Shop of Horrors will held a performative dinner called "Makan Mayit II" for the very last time on Saturday, February 25th, that includes four course meal, which will be prepared and devoured in a cannibalistic manner," tulis Footurama pada 23 Februari lalu.

Hingga saat ini, VIVA.co.id masih mencoba menghubungi Natasha Gabriella Tontey untuk mengetahui lebih dalam mengenai project ini. Seluruh artikel ditulis berdasarkan penelusuran melalui media sosial Instagram.