Konsumsi Daging Anjing Dikhawatirkan Picu Penularan Rabies

Seorang penjaja sate daging anjing di menjual dagangannya di suatu kawasan wisata.
Sumber :
  • VIVA.co.id/AnimalAustralia.org

VIVA.co.id – Konsumsi daging anjing di Jakarta dan sekitarnya belakangan ini cukup tinggi. Hal tersebut dibuktikan dari banyaknya pemasok yang menyediakan puluhan ekor daging anjing ke beberapa rumah makan yang khusus menyediakan masakan olahan daging hewan itu.

Di beberapa daerah, konsumsi daging anjing adalah hal yang biasa. Ini mempersempit habitat para anjing sehingga perlu adanya kebijakan.

"Sebenarnya penjualan daging anjing itu di Indonesia adalah budaya. Ya, memang sebagian daerah masih memakan daging anjing tapi sebaiknya penangkapan anjingnya harus dikontrol," ujar Rika Anggraini selaku GM Corporate Communication The Body Shop Indonesia saat ditemui di Jakarta Pusat, Minggu 3 September 2017.

Dia menuturkan bahwa tak sedikit daging anjing yang ditawarkan pemasok adalah anjing liar. Dan bukan tidak mungkin hal tersebut  dapat menyebabkan risiko yang cukup serius seperti munculnya penyakit rabies.

Menurutnya, untuk saat ini masih sedikit tempat penyembelihan hewan anjing yang terdata bebas dari rabies. Untuk itu, perlu ada kejelian dalam membeli daging atau mengonsumsi hewan yang sejatinya kurang lazim untuk dikonsumsi.

"Perlu adanya perhatian dan kejelian, baik dari membeli daging mentah atau makan di tempat yang menyediakan daging anjing. Sebab untuk saat ini masih sedikit tempat sembelih daging anjing yang terbebas dari rabies," kata Rika. (ren)