Mengenal Transplantasi Sel Punca, Penanganan pada Kanker Darah

Ilustrasi sel punca
Sumber :
  • Pixabay

VIVA – Penyakit leukimia yang diderita Shakira, putri penyanyi dangdut Denada, membutuhkan perawatan yang cukup mahal. Denada sebelumnya pernah mengaku harus menjual apartemennya di kawasan Menteng, untuk membayar biaya perawatan gadis mungilnya itu.

Biaya ratusan juta sudah pasti harus digelontorkan Denada, demi menyelamatkan nyawa buah hati tercinta. Pengobatan untuk kanker darah sendiri sangat beragam yang mencakup kemoterapi, imunoterapi, hingga yang paling efektif yaitu transplantasi sumsum tulang belakang.

Transplantasi sumsum tulang belakang, yang dikenal juga dengan transplantasi sel punca (stem cell) alogenik, adalah salah satu perawatan yang paling efektif untuk mengobati kanker darah. Sel sumsum tulang belakang yang sehat akan diambil dari donor, dan kemudian ditanamkan pada pasien kanker darah. 

"Berlawanan dengan mitos yang beredar, pasien bisa mendapatkan sel punca dari donor yang tidak memiliki hubungan darah, atau bahkan mendapatkan sel punca hematopoetik (haemotopoietic stem cells/HSC) dari stok darah tali pusat yang tersimpan di bank darah tali pusat," ujar Konsultan Senior Hematologi di PCC, dr. Lim Ziyi, kepada VIVA beberapa waktu lalu.

Meski terbilang efektif, penanganan dengan transplantasi sel punca ini memerlukan dana yang tidak sedikit. Untuk sumber sel punca yang berasal dari milik sendiri saja, bisa memakan biaya hingga ratusan juta rupiah.

"Dengan perawatan 3-4 minggu, perawatannya sekitar 60 ribu dolar AS, atau setara dengan Rp899 jutaan," ujar Konsultan Hematologi di PCC, dr. Colin Phipps Diong beberapa waktu lalu.

Adapun proses donasi sumsum tulang belakang merupakan prosedur bedah yang menempatkan donor di bawah kondisi bius total, dan biasanya hanya membutuhkan waktu satu hari. Beberapa donor mungkin mengalami rasa sakit atau kelelahan sebagai efek samping dari proses pemberian obat/terapi beberapa hari sebelum operasi, yang berfungsi mendorong produksi sel darah mereka.

"Namun, kebanyakan donor merasa balk-baik saja setelah proses donasi sumsum tulang belakang dilakukan," sambung Dokter Lim.