Konsumsi Makanan Tak Aman Penyebab Utama Malnutrisi di Indonesia

Ilustrasi anak kekurangan gizi
Sumber :
  • VIVA/Sherly

VIVA – Sekitar 600 juta kasus penyakit yang disebabkan oleh makanan terjadi setiap tahun di seluruh dunia. Di Indonesia, kasus keracunan makanan sudah menjadi wabah yang memprihatinkan.

Menurut data Direktorat Kesehatan Lingkungan dan Public Health Emergency Operation Center (PHEOC) dari Kementerian Kesehatan, ada 163 wabah penyakit bawaan makanan di seluruh Indonesia pada tahun 2017. Data ini menunjukkan bahwa wabah keracunan makanan adalah masalah kesehatan masyarakat yang cukup besar di Indonesia.

Praktik sanitasi dan kebersihan yang buruk termasuk makanan yang tidak aman adalah penyebab utama malnutrisi di Indonesia. Konsumsi makanan yang tidak aman menyebabkan penyakit bawaan makanan, yang berujung pada kekurangan gizi. Itu terjadi karena kehilangan gizi dan kapasitas penyerapan yang buruk, terutama bayi dan anak kecil yang rentan terhadap penyakit bawaan makanan.

Makanan yang tidak aman merupakan ancaman bagi kesehatan manusia dan ekonomi. Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Indonesia, Dr. N. Paranietharan mengatakan, pentingnya menjadikan makanan yang aman sebagai prioritas.

"Akses pada makanan yang aman dan bergizi cukup adalah kunci untuk kehidupan yang lebih sehat dan lebih produktif. Kita dapat mencapai ini dengan memastikan makanan yang berkualitas dan aman secara konsisten tersedia untuk semua orang," ujarnya dikutip dari siaran pers Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Sabtu 8 Juni 2019.

Di Indonesia, Kementerian Pertanian serta Kementerian Kelautan dan Perikanan bertanggung jawab untuk mengatur makanan segar. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terutama mengendalikan makanan olahan, Kementerian Kesehatan dan otoritas kesehatan setempat menjaga makanan siap saji, sedangkan Kementerian Perdagangan, Industri, dan badan pemerintahan lain juga memiliki peran dalam sistem pangan.

BPOM dan Kementerian Kesehatan didukung oleh FAO dan WHO telah membangun kapasitas otoritas yang kompeten dalam keamanan pangan untuk menilai sendiri sistem kontrol makanan mereka. Keamanan pangan adalah kunci untuk mencapai beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG).