Kenali Beda Pneumonia dengan Virus Corona

Ilustrasi penelitian virus
Sumber :
  • www.pixabay.com/Prylaler

VIVA – Akhir-akhir ini ramai diberitakan merebaknya wabah pneumonia di beberapa negara di Asia. Sebagai gerbang pertama masuknya wisatawan asing, bandara-bandara dan pelabuhan-pelabuhan di Indonesia bersiaga memasang thermal detector untuk mencegah masuknya penyakit ini di tanah air.

Penyakit yang sudah menjangkiti lebih dari 200 orang di China dan mulai menyebar ke negara-negara Asia lainnya, seperti Singapura, Thailand, Korea Selatan ini pertama kali ditemukan di pasar ikan di Wuhan, China.

Penyebaran wabah terjadi ketika ada pengidap pneumonia yang melakukan perjalanan ke negara lain. Pneumonia adalah infeksi atau peradangan akut yang menyerang jaringan paru-paru akibat adanya mikrorganisme seperti virus, bakteri, parasit, dan jamur yang masuk ke dalam tubuh. Biasanya pneumonia disebabkan oleh streptococcus, staphylococcus, dan lagionella. Namun, penyebab merebaknya wabah ini ditelusuri bukan berasal dari virus biasa yang menyebabkan penyakit pneumonia. Virus yang menyebabkan wabah ini adalah novel Coronavirus (nCov) atau virus corona.

Virus corona sebelumnya juga menyebabkan munculnya penyakit Severe Acute Respiratory Infection (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS) yang menjangkiti ribuan orang di dunia.

Bagaimana seseorang dapat terinfeksi?

Sampai saat ini belum diketahui cara virus corona menjangkit tubuh seseorang, namun diperkirakan wabah bisa menular dari manusia ke manusia atau dari hewan ke manusia, karena beberapa investigasi menyebutkan bahwa mereka yang bekerja di pasar ikan (sebagai tempat pertama penularan penyakit ini) banyak terjangkit wabah ini. Beberapa jenis virus corona juga diketahui terdapat di peredaran darah hewan.

Meskipun penyakit ini dapat menyerang orang di segala usia, namun anak kecil, ibu hamil dan lansia harus lebih waspada karena kekebalan tubuh mereka yang tidak sebaik kekebalan tubuh pada orang di usia produktif.

Gejala penyakit

Gejala penyakit pneumonia akibat virus corona sebenarnya sama dengan gejala penyakit pneumonia biasa. Penanganan segera dapat meningkatkan peluang kesembuhan dan juga mencegah penularan terhadap orang lain.

"Segeralah ke dokter,apabila merasakan dan mengalami beberapa kondisi seperti demam dan infeksi saluran pernapasan dengan gejala batuk kering dan pilek," kata Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan Konsultan Paru Kerja dan Lingkungan RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, dr. Feni Fitriani, Sp. P (K), M.Pd.Ked lewat rilis yang diterima VIVA.

Gejala lain yang harus juga diwaspadai lanjut dr Feni termasuk juga sesak dan kesulitan bernapas, juga lesu. Lalu, waspada juga  jika pernah berkunjung atau tinggal di Wuhan, China dalam beberapa minggu terakhir atau pernah berkunjung ke negara-negara yang sudah terjangkit dalam beberapa minggu terakhir.

"Perlu waspada juga jika memiliki kontak fisik atau telah berkomunikasi dengan seseorang yang positif terinfeksi nCoV, lebih khusus, pernah datang ke pasar hewan (hewan hidup dan mati) di negara terjangkit," terang dr Feni.

Pencegahan wabah pneumonia

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengimbau masyarakat agar selalu menjaga kesehatan tubuh dengan mengonsumsi makanan kaya akan serat dan vitamin, istirahat yang cukup, menggunakan masker bila beraktivitas di luar ruangan, dan mencuci tangan saat bepergian terutama ketika berkunjung atau kembali dari negara terjangkit.

dr Feni pun mengatakan, meskipun sudah ada beberapa vaksin untuk mencegah pneumonia, seperti vaksin pneumokokus (PCV atau PPSV23), dan vaksin Hib, namun sayangnya belum ada vaksin khusus untuk mencegah virus penyebab wabah pneumonia yang mewabah saat ini.

"Hal ini karena pneumonia pada kasus outbreak saat ini disebabkan oleh virus corona jenis baru," ujar dr Feni lagi.

Untuk itu, dr Feni kembali mengingatkan beberapa hal yang dapat dilakukan agar terhindar dari virus corona, di antaranya, hindari bepergian ke daerah terjangkit, jangan panik, namun tetap waspada, terutama bila mengalami gejala demam, batuk disertai kesulitan bernapas, segera cari pertolongan ke rumah sakit terdekat

"Memperhatikan higienitas diri, rajin cuci tangan terutama sebelum memegang mulut, hidung, dan mata, atau setelah memegang instalasi publik. Mencuci tangan dengan air dan sabun cair serta bilas setidaknya 20 detik. Cuci dengan air dan keringkan dengan handuk atau kertas."

Jika tidak ada fasilitas cuci tangan, dapat menggunakan handrub dengan kandungan alkohol 70–80 persen. Menjalankan etika batuk dan bersin yang benar, dengan menutup mulut dan hidung dengan tisu atau lengan baju ketika batuk dan bersin. Ketika memiliki gejala saluran napas, gunakan masker dan segeralah berobat ke fasilitas kesehatan.

Apabila terpaksa harus mengunjungi negara outbreak atau negara yang sudah terjangkit wabah ini, dr Feni juga menyarankan, Hindari menyentuh hewan atau burung, hindari mengunjungi pasar basah, peternakan, atau pasar hewan hidup. "Hindari juga kontak dekat dengan orang yang memiliki gejala infeksi saluran napas, patuhi petunjuk keamanan makanan dan aturan kebersihan. Jika merasa kesehatan tidak nyaman ketika di daerah outbreak terutama demam atau batuk, gunakan masker dan cari layanan kesehatan segera."

Setelah kembali dari daerah outbreak, konsultasi ke dokter jika terdapat gejala demam atau gejala lain dan beritahu dokter riwayat perjalanan serta gunakan masker untuk mencegah penularan penyakit.

"Wabah ini memang belum ada obatnya. Namun, dengan menjaga daya tahan tubuh dan menjalani perilaku hidup bersih serta gaya hidup yang sehat, kita dapat mencegah penyebaran penyakit ini lebih luas."