Selain Protein, Ini Kandungan Tersembunyi Dalam Tempe

Makan tempe
Sumber :
  • Eat This

VIVA Lifestyle – Tempe merupakan salah satu bentuk pangan tradisional yang kerap digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk dikonsumsi sebagai sumber nutrisi, baik itu camilan mau pun lauk pendamping nasi. Di balik kenikmatan tempe, rupanya ada ragam khasiat tersembunyi yang tak disadari oleh masyarakat luas.

Tempe goreng, bacem, hingga tumis kerap menjadi makanan sehari-hari orang Indonesia. Siapa sangka, tempe yang harga jualnya murah dan mudah ditemui, ternyata bisa menjadi pangan fungsional. Apa sih maksudnya?

"Definisi pangan fungsional, harus pangan, tidak boleh kapsul atau obat, pangan yang ada khasiat ekstra di luar fungsi tradisional sebagai zat gizi," ujar pakar gizi, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, MSc, dalam acara virtual Program Indofood Riset Nugraha (IRN) bersama Indofood, baru-baru ini.

Prof Pur menambahkan bahwa kita dapat mengidentifikasi suatu pangan itu sebagai fungsional apabila ada khasiat ekstra yang bermanfaat bagi tubuh. Ada pun salah satu sumber pangan yang mudah dijumpai dan dapat dikonsumsi lantaran rasanya yang nikmat adalah tempe. 

Apalagi, tempe begitu lekat dengan berbagai kalangan, tak terkecuali anak-anak. Bahkan, tempe sendiri kerap diolah untuk beragam makanan yang dapat dinikmati oleh anak-anak sehingga bermanfaat baik untuk kesehatan jangka panjang.

Tempe.

Photo :
  • Pixabay/ Bintang_Galaxy

"Tempe memang sumber protein tapi kalau ada sifat lain misal vitamin B12, sumber antioksidan karena ada mikroorganisme yang tumbuh di sana yang khas, maka dia berpotensi jadi memberikan khasiat ekstra," tutur  Prof Pur. 

Pangan fungsional dekat dengan kita. Ada 2 hal. Bisa dr sisi produknya sendiri dmn produknua dibagi 2. Bisa reformulasi. Satu lagi, pangan yg ada yg lokal. Di sekitar kita byk sekali. 

Trmpe makanan sgt umum. Gmn caranya menasionalkam tempe. Akhirnya kita secara industri standardkan semua sistemnya. Ternyata tetap diminati oleh konsumen. 

Ada pun pemenuhan kebutuhan pangan masih menjadi tantangan bersama. Untuk itu, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (“Indofood”) melalui IRN tahun akademik 2022/2023 mengajak mahasiswa S1 tingkat akhir untuk meneliti potensi pangan Indonesia.

Direktur PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk dan Ketua Program IRN Suaimi Suriady mengatakan bahwa saat ini dunia menghadapi tantangan berat dan nyaris tiada henti. 

Berbagai krisis seperti perubahan iklim, tensi geopolitik dan juga COVID-19 yang memasuki tahun ke-3 mempengaruhi cadangan pangan dunia dan mendisrupsi rantai pasok global. Sehingga menyebabkan terjadi kenaikan harga pangan yang dipengaruhi langsung oleh kenaikan harga energi dan pupuk. 

"Dalam menjawab tantangan tersebut, telah terjadi perubahan besar terhadap pendekatan produksi pangan dengan munculnya teknologi baru untuk produksi pangan, meningkatnya upaya eksplorasi sumber pangan baru yang berasal dari laut dan darat, baik sumber daya nabati maupun hewani," kata dia.

Mempertimbangkan kondisi saat ini, maka Program Indofood Riset Nugraha (IRN) periode 2022-2023 menetapkan tema Penelitian Pangan Fungsional Berbasis Potensi dan Kearifan Lokal.

Program IRN berperan sebagai sarana tumbuhnya ide-ide brilian dari para mahasiswa dengan menggali kekayaan alam Indonesia yang dapat dikembangkan menjadi sumber pangan, dan berpotensi dikembangkan sebagai sumber pangan fungsional, selain itu, pangan fungsional diharapkan dapat memberikan kontribusi pada peningkatan kesehatan masyarakat.

Program IRN yang merupakan program Corporate Social Responsibility Indofood di bawah pilar Building Human Capital, terbuka bagi mahasiswa S1 dari berbagai jurusan yang tengah menyelesaikan tugas akhir. Objek penelitian adalah sumber pangan yang berasal dari pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, kelautan serta peternakan. 

Adapun cakupan bidang penelitian meliputi bidang agro teknologi (budidaya), teknologi proses dan pengolahan, gizi dan kesehatan masyarakat, serta bidang sosial, budaya, ekonomi dan pemasaran.

Para peserta program penelitian IRN akan mendapatkan pendampingan dari Tim Pakar IRN selama penelitian. Tim pakar yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, MSc berjumlah delapan (8) orang berasal dari berbagai bidang.