5 Mitos Seks yang Tak Perlu Dipercaya Lagi

Ilustrasi seks/bercinta.
Sumber :
  • Freepik/jcomp

VIVA Lifestyle – Kegiatan bercinta atau seks memang menjadi topik yang harus dibicarakan bersama pasangan. Apalagi aktivitas ini cukup vital, karena sangat memengaruhi kualitas hubungan dan keharmonisan rumah tangga.

Karena seks merupakan kegiatan yang telah dilakukan sejak jaman dahulu, tak jarang ada mitos-mitos yang beredar. Ditambah lagi dengan mudahnya akses sosial media dan internet, maka mitos-mitos mengenai seks mudah didapat. Ada beberapa mitos berhubungan dengan seks yang tak perlu lagi dipercaya. Berikut mitos dan faktanya. 

Seks = Olahraga

Ilustrasi bercinta.

Photo :
  • Pexels/Burst

Pasti tak sedikit yang pernah mendengar bahwa aktivitas seks adalah olahraga yang menyenangkan dan bisa membakar kalori yang besar. 

Namun, hal ini dibantah oleh penelitian yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine, yang mengklaim pasangan rata-rata melakukan sesi bercinta hanya selama enam menit. Selama rentang yang singkat itu, peningkatan terbesar dalam detak jantung dan tekanan darah hanya terjadi selama sekitar 15 detik selama orgasme, dan cepat kembali normal.

Jadi, jika membakar empat kalori per menit maka itu berarti total kalori yang kita bakar hanya sebesar 24 kalori, jumlah yang sangat kecil untuk dikatakan sebagai olahraga. 

Jangan Berhubungan Seks Saat Akan Bertanding Olahraga 

Ilustrasi lelah usai olahraga

Photo :
  • Planetfitness

Para pelatih olahraga sering mengatakan kepada atlet mereka untuk tidak melakukan hubungan seks sebelum kompetisi besar.

Gagasan ini datang dari Yunani Kuno dan pengobatan Tiongkok tradisional, yang menganggap tidak berhubungan seks akan meningkatkan frustrasi dan agresi, serta meningkatkan energi.

Namun, penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Frontiers in Physiology, menunjukkan seks hanya memiliki sedikit dampak pada kinerja atletik dan mungkin bisa memiliki efek positif sebagai gantinya.

Wanita Pasti Mendapat Klimaks

Orgasme.

Photo :
  • Elite Daily

Orgasme pada pria bisa ditandai dengan keluarnya sperma. Namun, wanita bisa dengan mudah "memalsukan" pernyataannya kepada pasangan bahwa ia sudah mencapai "puncak", padahal sebenarnya belum atau malah tidak.

Dr. Lauren Streicher, seorang profesor kebidanan klinis dan ginekologi di Fakultas Kedokteran Feinberg Universitas Northwestern,  mengatakan bahwa banyak wanita yang mengeluhkan tidak pernah merasakan klimaks. 

“Banyak wanita yang datang kepada kami berpikir ada yang salah dengan mereka karena mereka tidak (mencapai klimaks) saat berhubungan seks,” kata Streicher. “Saat kami memberi tahu mereka bahwa hal ini normal (terjadi), mereka terkejut,” lanjut Streicher. 

Menggunakan Alkohol Agar Sensasi Bercinta Makin Nikmat

Ilustrasi minuman beralkohol.

Photo :
  • U-Report

Ketika dipengaruhi alkohol, banyak yang berfikir seks menjadi lebih nikmat karena sensasi tipsy. Faktanya, mabuk bisa membuat kita tidak mampu membuat keputusan yang tepat tentang seks. 

Berhubungan seks di bawah pengaruh alkohol berarti melakukan seks tidak aman dan bisa berakhir dengan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada mabuk.

Minum Pil KB Sebelum Berhubungan Seks Agar Tak Hamil

Ilustrasi pil KB

Photo :
  • https://www.thehealthsite.com

Nah, hal ini sudah tidak perlu dipercayai lagi, karena tidak akan bekerja. Pil KB terdiri dari serangkaian hormon yang harus dibangun dalam tubuh selama periode waktu agar efektif.

Jika dimakan pada waktu hingga satu bulan penuh atau satu siklus menstruasi penuh, barulah benar-benar efektif untuk mencegah kehamilan. 

Alat Kontrasepsi Mengecilkan Gairah Bercinta

Kondom/alat kontrasepsi.

Photo :
  • Pixabay

Banyak yang takut untuk mengonsumsi pil KB karena dapat mengubah kadar hormon wanita. Namun, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam The Journal of Sexual Medicine, mengonsumsi pil KB tidak berpengaruh pada dorongan bercinta wanita.

Mitos populer lainnya adalah kondom membuat seks kurang menyenangkan. Nyatanya, studi yang dilakukan oleh Indiana University menemukan, pasangan justru memperoleh lebih banyak kesenangan seksual ketika menggunakan alat kontrasepsi. Kemungkinan besar hal ini terjadi karena mereka tak perlu merasa khawatir tentang konsekuensi kehamilan atau PMS (penyakit menular seksual).