Pentingnya Perawatan Paliatif bagi Anak Penderita Kanker

Ilustrasi kanker.
Sumber :
  • Pixabay/PDPics

VIVA.co.id – Pasien dengan penyakit yang kronis dan tidak ada harapan hidup lama, juga berhak mendapatlan perawatan yang maksimal. Dan yang terpenting, mereka tetap perlu memiliki kualitas hidup yang baik, yakni merasa bahagia dan tenang meski penyakit telah merenggut nyawanya.

Karenanya, pasien tidak hanya membutuhkan perawatan pengobatan untuk fisik saja, tapi juga perawatan paliatif yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

Menurut pemaparan dr. Siti Anissa Nuhonni, Sp.KFR(K), perawatan paliatif menurut definisi dari WHO adalah perawatan yang diberikan kepada pasien yang penyakitnya tidak mungkin disembuhkan. Namun, pasien itu tetap berhak mendapatkan terapi aktif dari tenaga-tenaga kesehatan sehingga penderitaannya berkurang.

“Pendekatan terapi aktif ini bisa operasi, kemoterapi, atau radiasi yang dapat membuat penderitaan pasien berkurang. Penderitaan pasien kanker ini bisa nyeri, mual, muntah, sesak napas, diare serta aspek ketidaknyamanan yang membuat menangis sehingga kualitas hidup terjaga tetap baik," ujarnya saat temu media di kawasan Menteng, Jakarta, Kamis, 8 Desember.

Dengan kualitas hidup yang baik ini, lanjut Nuhonni, maka ketika pasien dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, dia akan kembali dalam iman. Artinya, menjaga kebahagiaan adalah kualitas hidup yang harus dipertahankan. "Itu yang ingin kita capai. Meninggal memang bagian akhir dari kehidupan kita, tapi mereka bisa meninggal dalam hidup yang penuh dengan kepuasan. Khususnya orang yang beragama, dia harus meninggal dalam iman," ujarnya menambahkan.

Begitu juga yang harus diberikan pada anak-anak yang menderita kanker. Bagaimana tatalaksana penderita kanker anak berbeda dengan dewasa. Pertama, karena anak-anak masih dalam proses tumbuh dan berkembang. Pada anak yang normal saja, tumbuh kembang antara anak yang satu dengan lainnya pasti memiliki perbedaan. Apalagi jika anak ini mengalami penyakit yang memengaruhi tumbuh kembangnya dari aspek fisik, psikis, kultural, serta spiritualnya.

"Inilah yang diberikan agar bagaimana orangtua mendampingi anaknya tidak mudah marah dan kesal karena ada yang mengganggu dalam proses perkembangan anak," ujar Nuhonni.

Kemudian, secara fisiologis dan terapi yang diberikan juga tidak sama. Dosis obat dan efek samping juga berbeda. Efek samping yang tidak menyenangkan ini juga bisa menghambat proses fisiologis anak seperti berjalan, kemudian sekolah juga akan terhambat. Karena itulah, dokter anak yang menangani pasien kanker anak harus mengambil langkah yang hati-hati.

Dunia anak-anak yang penuh dengan bermain, keinginan untuk bersosialisasi dan belajar juga tidak harus dipisahkan dari anak-anak penderita kanker. "Pendekatan inilah yang mungkin tidak semua diketahui oleh orangtua dan guru sehingga kami yang memiliki ilmu harus bisa membagikan ini. Bantuan pasien kanker anak tidak hanya sebatas pengobatan, tapi banyak sekali yang bisa diberikan.”