Kacang-kacangan Bisa Cegah Diabetes

Kacang-kacangan.
Sumber :
  • Pixabay

VIVA.co.id – Kacang-kacangan sudah cukup lama dikenal mengandung serat dalam jumlah yang tinggi, yang dapat membantu pencernaan dan membersihkan saluran pencernaan. Kacang-kacangan juga mengandung kadar protein yang tinggi, sehingga akan memberikan cukup energi dan membantu tubuh untuk membangun otot. Kacang-kacangan secara alami bebas kolesterol, dan mengandung sangat sedikit lemak jenuh.

Tak hanya itu saja manfaatnya. Peneliti dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Fransiska Rungkat Zakaria bahkan menemukan inovasi, cara terbaik untuk mencegah penyakit diabetes.

Ia menjelaskan bahwa untuk mencegah penyakit diabetes dapat dilakukan dengan mengkonsumsi hasil pertanian utuh seperti kacang-kacangan. Penyakit diabetes itu sendiri terjadi karena pola makan yang salah seperti mengonsumsi makan industri yang mengandung pengawet dan juga perisa makanan.

Ia pun menilai, Indonesia sedang menghadapi ancaman kesehatan yang berat yaitu kekurangan gizi dan kelebihan gizi. Terlihat dari tingginya angka kematian dan beban kesehatan penyakit tidak menular (PTM) yang telah melebihi 60 persen dari beban negara.

"PTM disebabkan oleh perubahan gaya hidup manusia modern seperti perubahan pola makan,” kata Prof. Fransiska lewat rilis yang diterima VIVA.co.id, Selasa, 11 Juli 2017.
 
Ia juga menjelaskan bahwa kebanyakan makanan industri itu menggunakan bahan baku yang telah dimurnikan, seperti beras putih, terigu, gula pasir, margarin, garam dan minyak goreng. Artinya apa? Bahan baku tersebut membawa kalori yang sangat tinggi tetapi miskin akan protein, lemak baik, vitamin, mineral, serat dan komponen bioaktif. Akibatnya, angka kegemukan, diabetes, penyakit jantung, kanker, Alzheimer dan PTM lainnya semakin meningkat di Indonesia dan di belahan bumi lainnya.
 
Kementerian Kesehatan pada tahun 2013 telah mengeluarkan Peraturan Gula, Garam, Lemak (GGL) yang mewajibkan pelabelan pangan untuk mencantumkan kandungan GGL pada produk pangan beserta peringatan akan risiko konsumsi GGL dalam jumlah yang berlebihan. Permenkes 2013 tentang regulasi GGL harusnya diterapkan di industri pada tahun 2016. Sayangnya penerapan ini tidak terlaksana karena adanya hambatan dari industri pangan dan perekonomian. Permenkes ini ditunda penerapannya sampai tahun 2019. Disamping itu, penerapan pajak GGL, dapat dimulai dengan penerapan pajak impor gula.

“Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi ancaman kesehatan ini selain penerapan Kemenkes adalah dukungan pada produk pertanian yang menghasilkan komoditi yang tepat dan dapat dikonsumsi oleh masyarakat dalam keadaan utuh tanpa melalui pengolahan yang intensif,” ujarnya.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan memproduksi kacang-kacangan dan peningkatan ketersediaan di pasar serta peningkatan konsumsinya di skala rumah tangga. Kacang-kacangan merupakan tanaman yang mengandung protein, lemak, vitamin, mineral, serat  komponen bioaktif yang tinggi.

Produk kacang-kacangan ini di antaranya buncis, kacang tanah, kacang panjang, kedelai hitam dan sorgum. Hasil riset Prof. Fransiska tentang mengonsumsi makanan yang berbahan dasar kedelai hitam, baik hasil olahannya terbukti secara ilmiah mampu menurunkan kadar gula dalam darah dan mencegah terjadinya penyakit diabetes.

“Sebagian kacang-kacangan yang mengandung lemak tinggi tidak atau sedikit sekali mengandung pati. Karakter rendah pati dan jika dikonsumsi dalam bentuk utuh (whole) akan sedikit dan lambat menaikkan kadar gula darah sehingga sangat baik untuk mencegah dan mengendalikan diabetes serta PTM lainnya,” katanya.