Mungkinkah Wanita Orgasme Saat Alami Pemerkosaan?

Ilustrasi wanita.
Sumber :
  • Pexels/Pixabay

VIVA – Orgasme seringkali dipercaya sebagai puncak kenikmatan dalam suatu hubungan seksual, yang dilakukan atas dasar suka sama suka. Namun, dalam kasus perkosaan, apakah wanita juga bisa merasakan orgasme.

Dilansir laman westland.academy, dalam studi yang berjudul Sexual arousal and orgasm in subjects who experience forced or non consensual sexual stimulation- a review, disebutkan bahwa  4-5 persen wanita yang mengalami kekerasan seksual, merasakan orgasme ketika diperkosa.

Tapi, benarkah orgasme berarti seorang korban menikmati perkosaan itu? Roy J. Levin, seorang psikolog seksual dan penulis studi itu menjelaskan bahwa kemungkinan orgasme yang terjadi hanya manifestasi gairah secara genital, bukan gairah secara mental.

"Tampaknya ada mekanisme otonom yang menciptakan gairah pada tingkat sub-kortikal untuk mengaktifkan dan meningkatkan aliran darah vagina, yang dengan demikian meningkatkan produksi cairan pelumas area kewanitaan," kata dia dalam studinya.

Fakta lain yang juga dibuktikan dalam studi berjudul 'Prepared for Anything An Investigation of Female Genital Arousal in Response to Rape Cues' yang diunggah dalam jurnal Psychology Science, mengungkapkan bahwa wanita menunjukkan gairah genital pada semua jenis rangsangan yang disajikan, termasuk narasi yang tidak konsensual dan kekerasan, seperti perkosaan, bahkan saat mengalami gangguan dan kecemasan.

Studi itu mengatakan bahwa gairah non-spesifik alat kelamin wanita, mempersiapkan tubuh untuk aktivitas seksual. Ini juga berfungsi untuk melindungi organ genital melawan cedera.

"Ini disebut sebagai alat kelamin wanita non-konkordansi. Dengan demikian, respons fisik tubuh tidak menandakan hasrat seksual, atau persetujuan," tulis studi tersebut.

Selain itu, studi berbeda dengan judul Journal of sexual medicine: Activation of Adrenergic receptors during sexual arousal facilitates vaginal lubrication by regulating vaginal epithelial, adrenalin memainkan peran besar dalam siklus respons seksual seperti orgasme.

Menurut studi itu, pelumasan vagina yang diinduksi adrenalin dapat menambah pembentukan cairan neurogenik.

"Selama penyerangan, korban mungkin mengalami (aktivitas) adrenalin dan sebagai hasilnya, pelepasan cairan vagina ini," tulis studi itu.

Dengan ini, terlihat sebuah perjuangan antara keinginan mental untuk melakukan hubungan seks tanpa persetujuan dan reaksi tubuh yang tidak terkendali. Sayangnya, hal ini dapat menciptakan perasaan konflik dan ketakutan terhadap persepsi seseorang tentang keabsahan pengalaman mereka sendiri.

Karena itu, Levin mengatakan bahwa penting untuk tidak menyalahkan korban ketika terjadinya perkosaan. Menyalahkan korban, lanjut Levin, hanya akan mengabadikan budaya perkosaan ini.