Begini Asal-usul Lontong Cap Go Meh, Masakan Khas Imlek

Lontong Cap Gomeh
Sumber :
  • VIVA.co.id/Diza Liane

VIVA Kuliner – Setelah merayakan Tahun Baru Imlek, ada satu lagi tradisi yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Tionghoa yakni, perayaan Cap Go Meh atau sering disebut sebagai festival lampion. Dalam kebudayaan Tionghoa, Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 dan terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek.

Pada acara ini biasanya masyarakat keturunan Tionghoa biasanya berkumpul sambil menikmati berbagai masakan spesial, salah satunya adalah Lontong Cap Go Meh. Lontong Cap Gomeh adalah masakan fusi yang diadaptasi dari masakan jawa. Yang isinya terdiri dari banyak lauk pauk dan bahan yang disatukan untuk menjadi salah satu kesenangan meriah dan menyenangkan. Scroll selanjutnya ya.

Ada sejumlah versi tentang sejarah hidangan gurih ini. Salah satunya adalah karena imigran China di abad ke-14 tidak diizinkan membawa wanita bersama mereka, mereka menikahi perempuan Jawa setempat, sehingga menciptakan budaya Peranakan Tionghoa-Jawa.

Resep Lontong Cap Go Meh by @cook_27106561

Photo :
  • Cookpad @cook_27106561

Saat mereka menetap di Jawa, mereka juga menjadi terbiasa dengan masakan tradisional istri mereka. Sejak saat itu, setiap Tahun Baru Imlek, Yuanxiao tradisional (bola nasi) diganti dengan lontong, kue beras lokal yang kemudian disajikan dengan berbagai masakan Jawa.

Oleh karena itu, Lontong Cap Go Meh diyakini melambangkan asimilasi dua budaya, suasana perayaan Tahun Baru dan simbol keberuntungan, di mana bentuk memanjang dari Lontong dikatakan sebagai simbol Umur Panjang. Telur yang dimasak saat Pindang melambangkan keberuntungan dan kaldu santan kunyit yang mewakili Emas sebagai simbol kekayaan.

Dilansir dari laman Indonesia.travel, nama Lontong Cap Go Meh sendiri, memiliki sejarah yang berasal bertahun tahun, ketika Sam Po Kong, yang lebih dikenal dengan Laksamana Zheng He, yang menginjakkan kaki di Semarang di Jawa Tengah untuk pertama kalinya.

Resep Lontong Cap Go Meh by @vaness09

Photo :
  • Cookpad @vaness09

Di sini dia mengumumkan akan mengadakan kompetisi, untuk perayaan Cap Go Meh dimana bagi siapa yang bisa membuat sup terbaik untuk hari yang menguntungkan itu. Seiring tersiar kabar itu terdengar hingga ke seorang kepala desa atau Datuk satu hari sebelumnya, tapi dia tetap memutuskan untuk bergabung meski memiliki waktu yang sedikit.

Akhirnya, dia memasak semua yang tersedia di dekatnya dan menciptakan sup versinya. Sam Po Kong mencicipi setiap sup yang diciptakan oleh setiap peserta yang berasal dari seluruh wilayah, yang masing-masing dibuat dengan resep khusus.

Ketika para pemenang akan segera selesai, Datuk bertanya bagaimana dengan supnya. Sam Po Kong kemudian meminta salah satu pasukannya untuk mendaftarkan prestasi Datuk sebagai Luang Tang Shiwu Ming, yang berarti sup imdengan berbagai jenis bahan ini masuk dalam peringkat 15.

Resep Lontong Cap Go Meh by @maennangpawon

Photo :
  • Cookpad @maennangpawon

Dalam dialek Hokkien, pasukan tersebut mengatakannya sedikit berbeda yakni: Luan Dang Cap Go Mia yang dia nyatakan dengan suara keras. Datuk dan peserta lainnya kemudian berasumsi bahwa Sam Po Kong menamai sup Lontong Cap Go Meh karena sajiannya mengandung Lontong sebagai salah satu hidangan utamanya. Sejak saat itu, ciptaan sup asli Datuk menjadi terkenal dengan nama itu sampai hari ini.

Setidaknya ada 9 masakan yang dimasak secara individual untuk disiapkan untuk Lontong Cap Go Meh. Mulai dari: Lontong, kue beras memanjang yang dimasak dalam bungkus daun pisang; Opor Ayam, Sayur Lodeh, Sambal Goreng Ati, Telur Pindang, Koya, Sambal Terasi, Pickles dan Udang Renyah.

Lontong Cap Go Meh ini merupakan sajian yang disajikan dalam tradisi Tahun Baru Imlek, yang masih banyak dilakukan di kota-kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur, termasuk di Semarang.

Saat ini, di seluruh Indonesia, Lontong Cap Go Meh disajikan sebagai Menu harian di restoran yang menyajikan masakan Peranakan dan Indonesia, seperti di Merah Delima, Sate Khas Senayan dan lainnya di Jakarta dan kota-kota lainnya.