Susu Kecoak Bakal Jadi Superfood Selanjutnya

Ilustrasi susu.
Sumber :
  • Pixabay

VIVA.co.id - Sebuah tim peneliti di Institute for Stem Cell Biology and Regenerative Medicine di India percaya bahwa susu dari kecoak Pasifik bisa menjadi superfood selanjutnya. Mereka mengungkapkan bahwa kristal-kristal karya protein yang dilaktasi serangga ini untuk memberi makan anak-anaknya mampu memberikan manfaat kesehatan yang luar biasa jika dikonsumsi manusia.

Spesies kecoak tersebut adalah satu-satunya jenis kecoak yang melahirkan anak-anaknya, bukan dengan cara bertelur seperti spesies kecoak lainnya. Susu mereka terdiri dari kristal-kristal yang diinfus dengan protein dan dilaporkan mengandung energi tiga kali lipat lebih banyak dari yang terkandung di dalam susu sapi.

"Kristal-kristal ini seperti makanan komplit mereka. Kristal tersebut mengandung protein, lemak dan gula. Jika Anda melihat dalam turunan protein, mereka memiliki semua asam amino esensial," ujar Sanchari Banerjee, peneliti utama studi, dikutip dari Times of India.

Susu kecoak bukan saja sumber nutrisi yang luar biasa, melainkan makanan yang dirilis sesuai waktu tertentu. Artinya, setelah kristal-kristal protein dicerna, semakin banyak protein yang terus akan dirilis di seluruh tubuh. Demikian menurut penulis studi, Subramanian Ramaswamy.

Tim peneliti melihat zat tersebut sebagai sesuatu yang suatu hari nanti dapat diproduksi secara massal. Namun, bukan berarti mereka menyarankan orang untuk memerah kecoak untuk mengambil susu mereka yang kaya akan nutrsisi. Sebaliknya, para peneliti telah memetakan urutan kristal dan berencana untuk mereplikasi proses di laboratorium dengan menggunakan ragi, untuk menghasilkan kristal dalam jumlah besar.

Apakah ini berarti masyarakat akan segera melihat produk susu kecoak atau suplemen makanan kecoak di pasaran? Meski hal itu terbilang masih terlalu jauh, namun para peneliti mengatakan kita bisa menuju ke arah itu.

"Mereka bisa menjadi suplemen protein yang fantastis," kata Ramaswamy.

Studi tersebut telah diterbitkan bulan Juni 2016 lalu di jurnal International Union of Crystallography.