Lezaatnesia, Sensasi Nostalgia Kuliner Kuno di Semarang

Festival Lezaatnesia, menyajikan kuliner jadul di Semarang.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Dwi Royanto

VIVA.co.id – Anda kebingungan untuk mencari lokasi penjual kuliner jadul di Semarang? Jangan khawatir, sebuah event kuliner kini hadir untuk mengakomodir para penggila makanan kuno dan legendaris di kota yang akrab dengan panganan lumpia itu.

Namanya Lezaatnesia, sebuah festival kuliner yang siap memanjakan lidah pecinta kuliner lawas yang pernah ada di Semarang. Acara diinisiasi Komunitas Kuliner Semarang di pelataran Mal Sri Ratu Jalan Pemuda selama satu pekan, yakni pada 5-10 September 2017.

Firdaus Adinegoro, Koordinator Komunitas Kuliner Semarang mengatakan, festival Lezaatnesia dipilih untuk terus mempertahankan kuliner khas kota itu. Terlebih saat ini penjual kuliner legendaris Semarang kian berkurang, tergerus kuatnya arus modernisasi.

“Semarang sendiri dikenal sebagai surganya kuliner di Indonesia. Dengan event Lezaatnesia ini harapannya bisa memopulerkan kembali kuliner yang pernah ada,” kata Firdaus, Rabu, 6 September 2017.

Panitia sendiri sengaja memilih waktu sehabis liburan Hari Raya Idul Adha. Bahkan rata-rata kuliner yang disiapkan juga tidak berbahan daging.

“Kalau Idul Adha kan semua orang makan daging. Maka kami memberikan alternatif menu lain di luar momentum tersebut,” tuturnya.

Festival Lezaatnesia sendiri menyajikan 70 jenis menu makanan kuno yang pernah populer di zamannya atau bahkan sulit dicari penggemarnya. Menu-menu itu dijual di 60 stan yang disediakan panitia acara. Tentunya dengan harga yang cukup terjangkau.

(VIVA.co.id/Dwi Royanto)

“Puluhan menu yang kami hidangkan di sini merupakan kombinasi antara hidangan lokal dan internasional. Tentunya cita rasa khas Semarang,” ucapnya.

Sejumlah menu kuliner yang ada di sana seperti makanan nasi glewo, bubur kacang tanah, nasi bebek kosek telur asin, nasi tempong, bebek gepuk asap kemangi, sambal panggang, sate jamur, soto bebek, babi asap hingga puluhan kuliner lain.

Sejumlah menu kuliner itu, kata Firdaus, rata-rata dijual warga Semarang dari waktu ke waktu. Namun, beberapa kini sudah sulit ditemui. Seperti halnya nasi glewo yang pernah eksis di era 1970-an.

“Karenanya, kami ingin memperkenalkan lagi nasi glewo kepada masyarakat luas. Ini adalah kuliner yang sangat melegenda di Semarang,” ujar dia.
 
Selain nasi glewo masih ada lagi kuliner kuno yang juga sempat hilang di pasaran. Seperti bubur kacang tanah dan nasi tempong.

Tak hanya menu lokal, festival itu juga memberikan tempat bagi ragam kuliner jadul dari berbagai negara, seperti talam asal Thailand.

“Harga puluhan menu yang dijual di Festival Lezzatnesia cukup murah, mulai dari Rp10 ribu sampai Rp30 ribu. Jadi silakan warga Ibu Kota Jateng untuk datang,” kata Firdaus.