Dr Aisah Dahlan Ungkap Cara Nasihati Anak Laki-laki Agar Didengar

Ilustrasi ibu dan anak/parenting.
Sumber :
  • Freepik/bristekjegor

VIVALifestyle – Memiliki anak terutama anak laki-laki yang sedang di fase remaja tentu memiliki tantangan tersendiri bagi ibu. Tak sedikit dari mereka melakukan kesalahan di masa remaja lantaran rasa ingin tahu mereka yang begitu besar.

Alhasil orang tua sering dihubungi wali kelas murid mereka tentang kenakalan anak laki-laki mereka. Mendapati kabar tentang anaknya yang nakal di sekolah tidak sedikit dari orang tua yang langsung menasihati anak-anaknya.

Namun pernahkah ibu merasa anak Anda tidak mendengarkan ketika sedang dinasehati? Atau terkadang merasa anak seperti membangkang dengan gayanya yang sering jarang menatap ibunya ketika dinasehati?

Terkait dengan hal itu, dokter sekaligus praktisi neuroparenting, dr. Aisah Dahlan angkat bicara. Dijelaskannya bahwa sudah naluri seorang pria tidak suka kontak mata dengan wanita. Maka lebih baik, tidak menasihati anak laki-laki dengan saling tatap-tatapan.

“Ibu kalau punya anak laki-laki karena laki-laki tidak suka kontak mata tidak usah nasehati anak laki-laki tatap-tatapan,” ujarnya dikutip dari potongan video yang diunggah di akun TikTok @UNGKAPIN.

Lebih lanjut diungkap dr. Aisah Dahlan mengungkapkan dahulu dirinya juga sempat merasakan seperti yang umum dirasakan ibu-ibu lainnya ketika menasihati anak laki-laki. Saat menasihati anak laki-lakinya, dr. Aisah Dahlan melihat putranya seperti cuek.

“Saya sering melihat ibu-ibu (seperti itu), termasuk saya. Mau menasihati lanang (anak laki-laki dr. Aisha). ‘Lanang ibu mau bicara’ pas dia liat saya matanya dia begini gayanya bu (gelengkan kepala sambil memutar badan seolah cuek). Ibunya marah kan? ‘Yang sopan kalau bicara sama ibu, liat muka ibu nak’ pas dia liat, saya liat lagi (anaknya masih bertingkah seperti itu),” jelasnya.

Setelah memahami ilmu tentang parenting, dr. Aisah Dahlan menjelaskan bahwa sikap atau tingkah anak laki-laki yang seperti itu bukan berarti mereka membangkang. Melainkan katanya lantaran anak laki-laki tidak kuat menatap mata seorang ibu.

ilustrasi orang tua prank ke anak

Photo :
  • freepik

“Bukan dia mau membangkang, dia tidak kuat tatap mata. Maka kalau kita mau bicara sama anak laki-laki, dan kita berharap anak laki-laki melihat kita. Kita tunduk, kita ambil kertas tulis. Dia pasti liat kita nulis,” kata dia. 

Lebih lanjut, ketika sedang menasihati anak laki-laki katanya, langsung saja. Namun perhatikan ketika menasihati anak laki-laki ibu harus berbicara dengan topik yang ingin dibicarakan tidak boleh berganti-ganti topik.

“Kalau kita lihati anak laki-laki, dan anak laki-laki tidak melihat kita, kita tidak usah marah. Ngomong saja, tapi ibu bicara sama anak laki-laki topik tidak boleh diganti-ganti. Satu (topik) berhenti, laki-laki sulit begitu. Laki-laki tidak bisa begitu, itu perempuan bisa begitu,” katanya.

Dr. Aisah juga menjelaskan bahwa menasihati anak laki-laki itu adalah 10 menit yang dilanjutkan dengan jeda. Dia juga meminta ibu untuk anak mengulang apa yang telah diutarakannya. 

“Kalau nasehati anak laki-laki bicara saja kalau dia tidak lihat kita biar dia pasti dengar. Yang penting setelah itu 10 menit ibu berhenti. Ibu tanya sama dia, ‘paham nak? Ngerti nak?’ ‘Iya buk) sudah cukup,” katanya. 

Dia menambahkan,”Ibu-ibu sering berlanjut, ‘paham nak?’ ‘Paham bu’ ‘coba nak ulang tadi ibu ngomong apa’ disuruh ulang anaknya, sudah malam 7 ribu kata sudah habis di sekolah (kata per hari yang dikeluarkan pria). Ini yang membuat ibu-ibu marah sama anak laki-lakinya. Anak laki memang begitu,” katanya.