Pubertas Dini Picu Masalah Psikologis

Ilustrasi anak-anak.
Sumber :
  • pixabay/Kadie

VIVA.co.id – Pubertas merupakan proses alami yang dialami setiap perempuan, meski fasenya tidak selalu sama. Namun, jika proses ini datang di saat ia masih disibukkan bermain boneka, Anda harus merasa waspada.

Dilansir laman Times of India, hal ini menjadi tren yang mengkhawatirkan di kalangan anak-anak perempuan perkotaan. Beberapa anak perempuan di pedesaan, mulai mengalami menstruasi di usia 15-16 tahun, tapi anak perempuan di perkotaan mulai mengalami menstruasi di usia sedini 8 tahun.

Pubertas dini atau dikenal juga dengan pubertas prekoks, berarti tanda-tanda pubertas seperti tumbuhnya payudara, bulu di area intim dan ketiak, serta menstruasi, muncul lebih awal dari biasanya.

Pubertas dini dapat memicu banyak masalah psikologis dan ketidaknyamanan fisik pada anak perempuan, karena pikiran dan tubuhnya belum cukup matang untuk menghadapi perubahan itu. Belum lagi, perubahan mood yang sangat drastis, gejala PMS, dan perubahan emosi remaja lainnya.

Dr. Vaishaki Rustagi, konsultan Endokrinologi Pediatrik di Max Super Speciality Hospital di India, mengatakan bahwa pubertas dini bisa memicu perkembangan dorongan seksual di usia dini.

"Ini bisa berbahaya karena anak perempuan ini belum cukup matang secara mental untuk memahami dan mengarahkan secara positif dorongan ini," katanya.

Anak-anak perempuan yang matang terlalu dini, secara alamiah menarik perhatian yang tidak diinginkan dari lawan jenisnya. Sementara itu, seberapapun berkembangnya fisik anak perempuan, kematangan psikososialnya masih tertanam pada usia kornologisnya. Karena itu, dia tidak mampu menyimpulkan apa yang terjadi pada dirinya.

Rustagi menambahkan, anak perempuan ini akan menjadi canggung secara sosial dan mulai menghindari interaksi sosial, dan terkadang bisa memicu depresi.

Anak perempuan yang memulai pubertasnya lebih awal dibanding teman-teman seusianya, biasanya merasa cukup cemas. Dr. Duru Shah, Direktur Gynaecworld dan Presiden Terpilih Society of Assisted Reproduction (ISAR), mengatakan bahwa anak-anak perempuan ini memiliki penilaian diri yang rendah dan sangat sadar akan citra tubuhnya.

"Ini membuat mereka berisiko depresi. Orangtua memiliki peran penting dalam hal ini," kata Shah.

Jika perlu, konseling psikologi diberikan pada anak perempuan maupun orangtuanya. Bagi orangtua, penting untuk memastikan bahwa anak Anda tidak terpapar obat-obatan hormonal yang mengandung estrogen dan testoterone.

Selain itu, menjaga berat badan yang sehat pada anak bisa menjadi salah satu cara untuk mencegah pubertas dini.