Wisata Religi Kampung Wali Tertua di Jawa Tengah

Wonobodro, komplek wisata religi tertua di Batang, Jawa Tengah.
Sumber :
  • VIVA/Dwi Royanto

VIVA – Nama Wonobodro mungkin tak terdengar asing di telinga masyarakat muslim di tanah Jawa. Bagi para peziarah, Wonobodro tentu menjadi tujuan wajib karena tedapat makam ulama terkemuka, yakni Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Makdum As-Samarkandy atau biasa dikenal Syekh Maghribi. 

Makam Syekh Maghribi berada di bukit Wonobodro, perbukitan yang tak begitu tinggi di Desa Wonobodro, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, Jawa tengah. Banyak yang menyebut kawasan ini sebagai kampung wali, karena ulama penyebar Islam ini berusia cukup tua sebelum hadirnya Walisongo di Tanah Jawa.

Selain di Wononobodro, makam Syekh Maghribi memang diyakini ada di daerah lain, seperti di Gresik, Pemalang dan Yogyakarta. Di Wonobodro, komplek makam Syekh Maghribi masih asri dan terjaga kealamiannya. Selain Syekh Maghribi, juga terdapat makam Ki Ageng Wonobodro atau Ki Ageng Pekalongan, tokoh  pendiri Kota Pekalongan, Syekh Jambu Karang, dan Syekh Fakir Sugih, serta beberapa makam pengikut Syekh Maghribi.

Lokasi makam dengan pusat Kota Batang terbilang cukup jauh, yakni sekitar 27 kilometer ke selatan. Namun situs makam ini terbilang ramai pengunjung, baik Jawa dan luar Jawa. Wonobodro bahkan lama masyhur sebagai wisata religi paling legendaris di Jawa Tengah.

Kasdu'i, salah satu juru kunci pemakaman, menuturkan bukit Wonobodro akan dibanjiri ribuan orang ketika memasuki bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Namun paling banyak yakni pada 13 Muharam, tepat tanggal wafatnya Syekh Maghribi.

Ia menjelaskan, situs makam Syekh Maghribi yang dirawatnya adalah situs makam tokoh penyebar Islam tertua. Ia dan masyarakat sekitar meyakini bahwa kawasan Wonobodro sebagai kampung wali sebelum menyebar ke sudut-sudut pulau Jawa.
 
"Syekh Maghribi tidak hanya meninggalkan jejak di Wonobodro melainkan juga membuat pemukiman dan meninggal di tempat ini. Saya meyakini bukit Wonobodro bukan sekadar petilasan, melainkan pemakaman," kata Kasdu'i kepada VIVA, Selasa, 30 Januari 2018.

Berdasarkan nama, Kasdu'i menjelaskan Wonobodro dahulunya merupakan kawasan hutan yang dijadikan tempat untuk melakukan bebadran. Bebadran memiliki arti orang-orang yang melakukan laku tertentu untuk mencapai kemuliaan hidup. Kemuliaan hidup bisa berupa pemangku jabatan atau kekuasaan untuk mendapatkan penghormatan tertinggi di masyarakat.

Karisma Syekh Maghribi, dikenang oleh seluruh masyarakat Islam Pantai Utara. Beliau pula yang merupakan tokoh pendiri pesantren pertama di tanah Jawa. Putra dari ulama Persia, Maulana Jumadil Kubro, itu datang ke tanah Jawa dari Negeri Champa (Kamboja) sekitar tahun 1400-an.

Doa Terkabul

Masyarakat Islam pesisir meyakini bahwa berdoa di makam Syekh Maghribi kemungkinan besar keinginannya akan terkabul. Tak hanya masyarakat biasa, sejumlah pejabat kerap berziarah ke tempat ini.

“Banyak pemimpin Jawa Tengah yang berkunjung. Bahkan saat pencalonan presiden kemarin ada satu calon yang sengaja datang ke sini. Katanya ingin mendapatkan ilham dari Syekh,” katanya.

Kekuatan doa di makam syekh Maghribi dipercayai Muharjo Suwito, salah seorang peziarah asal Kecamatan Subah, Batang. Dia sering datang ke tempat ini untuk melakukan napak tilas perjalanan Syekh Maghribi. 

Kepercayaan Suwito diawali dari kisah rakyat Syekh Maghribi yang bertemu dengan Dewi Roso Wulan atau adik Sunan Kalijaga. Dewi Roso Wulan diberi nasihat oleh Syekh Maghribi untuk melakukan tirakat, agar anak-anaknya nanti bisa mendapat kemulian hidup.

“Dari pertemuan itulah, Dewi Roso melahirkan Joko Tarub yang kemudian menikahi Dewi Nawang Wulan. Dan melahirkan seorang pemimpin di Jawa," ujar Suwito.

Tak hanya magnet makam, di bukit Wonobodro juga terdapat sebuah pancuran yang diyakini sebagai petilasan tempat mengambil wudhu Syekh Maghribi. Banyak peziarah yang mengambilnya untuk dibawa pulang. Konon, dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Tidak jauh dari situs makam, ada juga sebuah pohon besar berdiameter delapan meter. Masyarakat setempat  menyebutnya pohon Jlamprang, karena memiliki penampakan urat-urat kayu yang sudah tua dan garis-garis amat menonjol. Dilihat dari lingkaran pada lapisan kayunya, diperkiraan pohon ini hidup satu zaman dengan Syekh Maghribi. 

“Pohon tersebut merupakan tongkat Syekh Maghribi yang ditancapkan saat hendak solat. Begitu lamanya salat Syekh, hingga tumbuh menjadi pohon," ucap Kasdu’i. (ren)