Plantungan, Kamp Ngeri Tapol Wanita Kini Destinasi Wisata

Kawasan wisata Plantungan yang dulu jadi kamp penjara wanita serta bekas rumah sakit lepra di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Dwi Royanto

VIVA.co.id - Nama Plantungan memang tak setenar Pulau Buru yang menjadi tempat pembuangan para tahanan politik dengan cap Partai Komunis Indonesia. Namun kamp penjara yang terletak di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, itu menjadi saksi kisah tragis perempuan Indonesia saat itu.

VIVA.co.id berkesempatan melihat kembali kawasan yang menyisakan cerita kelam masa lalu itu. Nyaris tak ada bangunan tersisa di bekas kurungan wanita serta rumah sakit lepra terbesar Indonesia masa kolonial Belanda itu.

Sejak tahun 2000, Plantungan resmi dibuka menjadi objek wisata oleh pemerintah setempat. Kawasan yang dulunya berada di Kabupaten Kendal itu kini masuk wilayah Kabupaten Batang, tepatnya masuk Desa Pesanggrahan, Kecamatan Bawang. Perubahan kawasan setelah bencana banjir bandang yang memisahkan kawasan perbatasan itu di tahun 1991.

Untuk masuk kawasan itu, ada dua alternatif jalan, yakni via Kecamatan Plantungan tepatnya melewati pertigaan kantor polisi Plantungan. Pengunjung lalu harus menuruni jalan yang cukup terjal hingga sampai lokasi parkir di kompleks Lembaga Pemasyarakatan Kepemudaan Plantungan. Setelah itu, pengunjung harus berjalan sekitar seratus meter melewati jembatan gantung Sungai Lampir. Baru setelahnya akan sampai di objek wisata dengan sebuah gardu loket masuk dengan tiket Rp3.000 per orang.

FOTO: Kawasan wisata Plantungan yang dulu jadi kamp penjara wanita serta bekas rumah sakit lepra di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. (VIVA.co.id/Dwi Royanto)

Alternatif kedua, pengunjung bisa masuk via Dusun Sanggrahan, Sangubanyu, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang. Lokasi kampung berada persis di atas objek wisata dan pengunjung bisa menuruni jalan setapak menuju loket utama.

Memasuki kawasan ini, hawa udara pegunungan terasa. Pemandangan nan asri juga menjadi eksotisme tersendiri berada di destinasi alam yang kini populer itu. Anda akan disambut beberapa kandang binatang, seperti kera, landak, kijang serta hewan lain. Hewan-hewan itu menjadi kebun binatang mini.

Di seberang kandang-kandang itu berdiri beberapa bangunan permanen untuk lokasi pemandian air panas. Letaknya bahkan sangat dekat dengan sungai serta batu-batuan besar sisa banjir puluhan tahun silam. Ada juga deretan warung, bangunan musala, serta kolam renang yang ramai dengan pengunjung, khususnya anak-anak.

Sepintas, orang tak menyangka jika dulunya kawasan itu menjadi saksi tragis sejarah masa lampau. VIVA.co.id pun mencoba mengulik cerita sejarah tempat itu dari penjaga tiket dan warga sekitar.

Sukiswandi salah satunya. Pria asli kampung Pesanggrahan itu mengaku menjadi saksi betapa kawasan itu terus berubah dari waktu ke waktu. Mulai bangunan bekas rumah sakit lepra peninggalan Belanda hingga saat aktif difungsikan sebagai kurungan tahanan politik wanita korban tragedi 1965.

"Yang paling saya ingat adalah klinik tahanan wanita. Puing-puing klinik penjara itu masih tersisa di dekat loket tiket masuk," kata Sukiswandu ditemui VIVA.co.id pada Senin, 4 September 2017.

Puing yang dimaksud adalah tiga bangunan pondasi klinik. Menurutnya, pada tahun 1971 hingga 1979 klinik itu menyimpan kenangan yang tak terlupakan. Sebagai warga asli kampung Pesanggrahan, Sukiswandi mengingat betul orang-orang yang bekerja di klinik bekas bangunan rumah sakit lepra itu. Pun sekitar 800 tahanan wanita yang kerap berobat di sana.

"Saya masih bujang waktu itu. Kebetulan orang kampung sini boleh untuk berobat di klinik penjara. Dulu pegawai serta tahanan wanitanya cantik-cantik. Kita yang masih bujang kerap pura-pura sakit untuk bisa diobati di klinik itu," ujar kakek dengan satu cucu itu.

Meski jadi primadona, Sukiswandi dan pemuda desa seusianya kala itu tak pernah sekalipun masuk kawasan kamp penjara. Selain penjagaan yang ketat oleh oknum tentara, kawasan penjara sengaja diberi kawat berduri yang tertutup rapat. Sukiswandi bahkan tak mengetahui pasti bagaimana kehidupan para tapol yang menghuni penjara Plantungan.

FOTO: Kawasan wisata Plantungan yang dulu jadi kamp penjara wanita serta bekas rumah sakit lepra di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. (VIVA.co.id/Dwi Royanto)

Di tahun 1979, seingat Sukiswandi, operasional kamp tahanan perempuan itu berakhir. Ratusan perempuan yang menghuni kawasan itu berangsur dipindahkan di beberapa tahanan di Indonesia.

"Bangunan penjara akhirnya dibongkar total oleh pemerintah. Saat ini yang tersisa, ya, bangunan yang kini masih difungsikan jadi penjara di seberang sungai," ujar pria 67 tahun itu.

Namun hingga kini, menurut Sukiswandi, beberapa perempuan yang pernah menghuni kamp itu terkadang masih ada yang berkunjung ke Plantungan. Tujuan mereka untuk napak tilas kenangan tragis yang dialaminya selama ditahan beberapa tahun di kawasan itu.

Rumah sakit lepra

Jauh sebelum jadi kamp penjara wanita, bangunan di Plantungan adalah rumah sakit lepra. Berbagai sumber menyebut rumah sakit isolasi penderita lepra itu dibangun Belanda pada 1870 dan menjadi rumah sakit lepra terbesar di Indonesia.

Meski tak merasakan masa-masa aktif bangunan itu, Sukiswandi masih hafal cerita kejayaan rumah sakit itu dari mendiang ayahnya, Sunarto. Kebetulan Sunarto dahulunya menjadi salah satu perawat rumah sakit khusus penderita lepra zaman Belanda itu.

"Kata bapak saya, kenapa rumah sakit lepra dibangun di Plantungan karena di sini ada air panas alami yang bisa dibuat terapi. Makanya, kini air panas jadi destinasi wisata di sini," katanya.

Singkat cerita, rumah sakit itu berhenti beroperasi di tahun 1960 dan seluruh pasien dipindahkan di lokasi baru, yakni di Semarang dan Jepara. Baru akhirnya bangunan itu difungsikan sebagai kamp tahanan khusus perempuan yang dianggap berafiliasi terhadap partai terlarang PKI. (ms)