Gedung Konferensi Asia-Afrika Ternyata Bekas Tempat Hiburan

Gedung Merdeka di Bandung, Jawa barat, pada tahun 2017.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Adi Suparman

VIVA.co.id - Dunia mengenal Gedung Merdeka sebagai tempat penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955. Masyarakat Indonesia kini mengetahui gedung di Jalan Asia-Afrika, Bandung, Jawa Barat, itu sebagai museum yang menyimpan benda koleksi dan foto Konferensi Asia-Afrika.

Namun barangkali tak banyak yang mafhum bahwa gedung yang dibangun di atas lahan seluas 7,200 meter persegi itu adalah tempat hiburan orang-orang Belanda di Bandung pada era kolonial.

Gedung itu awalnya dinamai Societeit Concordia. Dibangun pada tahun 1895 dan kemudian direnovasi oleh dua arsitek ternama Belanda pada masa itu, Van Galen Last dan CP Wolff Schoemaker. Mereka juga guru besar pada Institut Teknologi Bandung (dahulu bernama Technische Hoogeschool te Bandoeng).

Societeit Concordia setelah renovasi menjadi lebih mewah dan megah. Arsitekturnya bergaya art deco, ciri desain yang lahir setelah Perang Dunia I. Lantainya menggunakan marmer Italia. Ruangan tempat minum-minum dan bersantai terbuat dari kayu cikenhout. Penerangannya menggunakan lampu-lampu bias kristal yang tergantung gemerlapan.

Tak ganjil jika gedung itu jadi tempat favorit orang-orang Belanda di Bandung pada masanya--mulai pegawai perkebunan, perwira militer, pejabat, pengusaha, dan kalangan elite lain. Biasanya mereka bersenan-senang di gedung itu setiap hari libur kerja, terutama saat malam. Hiburan paling umum ialah berdansa, menonton pertunjukan kesenian, atau sekadar makan malam.

Pada masa akhir abad 19 itu, dansa atau pertunjukan semacam teater memang sarana hiburan paling lazim bagi kelas elite kolonial. Belum dikenal teknologi perfilman sehingga belum ada pertunjukan bioskop, apalagi televisi.

"Jadi, kalau cari hiburan, ya, pasti mereka ke suatu tempat di mana ada pertunjukan musik, tarian. Semuanya masih live (pertunjukan langsung)," kata Aji Bimarsono, pemerhati sejarah sekaligus Ketua Bandung Heritage, kepada VIVA.co.id.

Daya tarik Societeit Concordia memudar pelan-pelan, kata Aji, setelah mulai populer jenis hiburan audivisual semacam film. Muncul sejumlah gedung bioskop di Bandung, terutama di sekitar Alun-alun. Kalangan elite Belanda mulai beralih menonton film untuk hiburan dan mulai meninggalkan dansa-dansa di Societeit Concordia.

Setelah tak lagi ramai sebagai tempat hura-hura, gedung Societeit Concordia beralih fungsi. Di masa pendudukan Jepang pada 1942 sampai 1945, gedung itu dijadikan pusat kebudayaan yang disebut Dai Toa Kaman. Sempat digunakan sebagai markas pemuda Indonesia untuk menghadapi tentara Jepang karena setelah Proklamasi Kemerdekaan, Nipon belum mau menyerahkan kekuasaannya.

FOTO: Gedung Merdeka pada tahun 1955.

Societeit kemudian didaulat sebagai tempat penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika pada 1954. Gedung itu dipilih sebagai lokasi pertemuan tingkat dunia para pemimpin negara-negara Asia dan Afrika karena dianggap paling besar dan paling megah di Bandung. Lokasinya juga dinilai strategis, di jantung kota Bandung, dekat dengan hotel-hotel terbaik pada masa itu, yakni Hotel Savoy Homann dan Hotel Preanger.

Societeit Concordia sebagai tempat hiburan, menurut Aji, sebenarnya masih ada, namun lokasinya dipindahkan ke daerah lain. Dibuktikan pada peta masa itu yang masih terdapat nama Societeit Concordia. "Masih tetap ada, kalau dilihat peta lama," katanya, tanpa menunjukkan lokasi tepatnya. (hd)