Cara Negara Lain Menjaga Warisan
- VIVA/Ezra Natalyn Sihite
Bangunan Kastil Kumamoto yang ada di Jepang. (VIVA/Ezra Natalyn Sihite)
Takamori merupakan salah satu wilayah di bagian timur Kumamoto yang diketahui terdampak cukup besar akibat gempa beruntun tahun 2016 itu.
Kembali ke situs sejarah dan budaya, akibat kerusakan yang disebabkan gempa, kastil Kumamoto tengah dipugar. Oleh karena itu, meski para turis masih bisa menyaksikan lambang kebesaran Lord Kiyomasa Kato tersebut dari area luar, namun pengunjung tak boleh masuk ke halaman istana maupun ke dalam kastil. Istana yang dibangun pada 1562-1611 didirikan dengan gaya strategi pertahanan kuat masih harus dipreservasi.
Otoritas menyatakan, butuh setidaknya 20 tahun untuk membangun kembali situs tersebut hingga siap dikunjungi. Sebegitu panjang waktu yang dibutuhkan untuk melakukan revitalisasi tak lain karena kastil Kumamoto direnovasi dengan menggunakan teknik konstruksi tradisional. Berikut harus tahan gempa. Para turis yang ingin memasuki kastil indah itu harus menunggu dan boleh memasukinya tahun 2037 mendatang.
Yang menarik, pembangunan kembali kastil Kumamoto dibiayai dengan anggaran yang multisumber. Meskipun sebagian besar didapatkan dari pemerintah pusat dan pemerintah lokal, namun pengelola juga membuka situs yang diperuntukkan bagi umum. Siapa saja boleh menyumbang dana pembangunan kembali. Mereka sangat gencar mempromosikan pembiayaan cagar budaya ini.
Jumlah anggaran yang sangat besar dan diperkirakan bisa berubah dari waktu ke waktu membuat pemerintah lokal dan Kementerian Kebudayaan Jepang gencar mempromosikan perbaikan situs megah itu. Kumamoto dengan tangan terbuka menerima sumbangan dari orang asing yang mengunjungi wilayahnya, bahkan juga dari mereka yang belum pernah secara langsung menyaksikan keindahan kastil itu.
Satu Setengah Abad
Sejarah mencatat, perlindungan warisan budaya dan kekayaan nasional di Jepang adalah sebuah perjalanan panjang. Lebih dari 150 tahun sudah pelestarian situs dan warisan kekayaan budaya sudah menjadi isu di negara ini. Itu sebabnya, berbagai monumen yang usianya bahkan sudah beribu tahun masih bisa disaksikan oleh generasi masa kini.
Wacana perlindungan terhadap kekayaan budaya sudah mengemuka pada aturan Proclamation1871 yang menyebutkan bahwa bangunan dan barang-barang bersejarah dan bernilai seni budaya di Jepang harus disimpan dan didokumentasikan. Pada saat itu setidaknya ada lebih dari 200 ribu item termasuk situs bangunan yang masuk dalam daftar proteksi.