Cara Negara Lain Menjaga Warisan

Kastil Kumamoto di Jepang hancur sebagian usai diguncang gempa
Sumber :
  • VIVA/Ezra Natalyn Sihite

Pada tahun 2005 misalnya, survei menunjukkan bahwa warga Jepang hingga 60 persen menilai bahwa kepuasaan hal nonmaterial lebih penting. Sementara hanya 35 persen yang menganggap hal material lebih penting. Tahun 2010, persepsi warga Jepang bahwa hal nonmaterial lebih penting naik lagi dan mencapai angka sekitar 63 persen. Sementara yang memilih aspek material hanya sekitar 35 persen.

Rumit dan Mahal

Tak hanya Jepang negara yang patut dicontoh dalam hal proteksi cagar budaya. Italia, salah satu negara yang dianggap paling "nyeni" di benua Eropa juga bisa menjadi referensi. Italia dengan peninggalan budaya Romawi memang menyimpan banyak peninggalan sejarah yang menyimpan berjuta kisah baik fakta maupun legenda.

EraRenaissance atau periode "Lahir Kembali", berkembangnya ilmu pengetahuan di Eropa pada abad ke-15 hingga ke-16 turut memengaruhi produk budaya dan seni. Peninggalan sejarah era itu ditandai antara lain kuatnya kultur dalam hal arsitektur.

Namun pemerintah Italia juga harus menghadapi tantangan terkait cagar budaya antara lain mempertahankan proteksi peninggalan budayanya atau membiarkannya tergerus zaman dengan bangunan baru lantaran anggaran pelestarian dan pemeliharaannya bukan hal yang murah.

Seorang pria melihat bangunan di Katedral Milan di Italia. (REUTERS/Jorge Silva)

Yang patut menjadi perhatian, Italia menerapkan revitalisasi bangunan peninggalan atau kuno yang dikolaborasikan dengan konsep urban. Artinya, sejumlah bangunan lama di sejumlah wilayahnya dilestarikan dengan tetap menjadikannya sebagai tempat kegiatan masyarakat maupun komunitas tanpa harus mengubah intrinsik dan filosofi bangunan tersebut.

Sayangnya untuk merevitalisasi dengan konsep seperti ini bukanlah hal yang mudah dan murah. Pakar dari Departemen Teknik Fisika Universitas La Sapienza, Roma bernama Livio Santoli mempublikasikan konsepnya mengkonservasi bangunan bersejarah.

Melalui jurnal yang ditulisnya bertajuk “Historic Buildings: Conservation, Management and Policy Issues”, ahli tersebut mengungkap detailnya revitalisasi yang harus melibatkan banyak pihak untuk mengkonservasi sebuah bangunan bersejarah yang sudah rusak.

Dia memberikan beberapa contoh bangunan bersejarah di Italia yang perlu direvitalisasi. Bangunan itu selama ini berada tak terlalu jauh dari lingkungan yang sudah menjadi perkotaan, namun sempat ditelantarkan. Di antaranya bangunan Stefano dei Ferri in Tivoli, Roma, biara S.Antonio da Padova in Tivoli Roma yang sempat dijadikan vila dan bangunan S.Francesco in Palombara Sabina di Roma.