Kembalinya Trah Cendana

Konferensi Pers Partai Berkarya
Sumber :
  • VIVA.co.id/Yunisa Herawati

Pendiri Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred) ini menilai, demokrasi selalu seperti itu. Sebagaimana ada juga yang menginginkan khilafah yang selalu memiliki pendukungnya. "Di sebuah negara tidak akan pernah tunggal. Kita bukan partai tunggal, semua pasti punya pendukungnya," ujar Pemimpin Redaksi NU Online ini.

Savic menilai, situasi itu merupakan tantangan bagi semua elemen yang pro dengan demokrasi, pro dengan pemerintahan yang bersih, yang pro kedamaian, agar mereka bekerja mendidik masyarakat agar tidak salah pilih partai politik.

Terlepas dari itu, dia tidak yakin keberadaan Partai Berkarya dan Garuda itu bukti Orde Baru solid lagi. Karena sejak Reformasi banyak elemen-elemen yang dulunya ada di Orde Baru, menyebar ke banyak tempat. Bila zaman dulu cuma ada 3 partai, Golkar, PPP, PDI. Praktis dulu kekuatannya di Golkar, dan TNI-Polri yang punya fraksi di parlemen.

Setelah Reformasi, fraksi ABRI sudah tidak ada. Sementara Golkar juga sudah terjadi perubahan berkali-kali. Banyak orang-orang di daerah yang juga pindah partai. "Jadi saya kira peta politiknya berubah. Jadi ya tidak semudah itu juga Cendana untuk mengkonsolidasikan para pendukung lamanya," ujar pendiri dan aktivis Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) ini menambahkan.

Tapi soal berhasil tidaknya mereka di Pemilu 2019, Savic menyebut mungkin saja. Meskipun dia belum bisa mengatakan karena belum ada survei yang menunjukkan. Karena itu, dia tidak bisa menyebut berhasil atau tidak. "Ada negara-negara yang mampu melampaui transisi demokrasinya. Ada yang gagal melalui transisi demokrasi. Yang penting kita berdoa bangsa ini tidak gagal melalui transisi demokrasinya," ujarnya berharap.

Meski saat ini masih ada korupsi, partai banyak yang sibuk dengan kepentingannya sendiri dan ada yang terjebak oligarki, ada sentimen-sentimen SARA yang kembali marak, tapi menurutnya situasi saat ini lebih baik dari masa Orde Baru. "Jadi kekuatan yang justru antitesis terhadap demokrasi, ya menurut saya jangan sampai didukung."

Menjual Romantisme

Lolosnya Partai Berkarya dan Garuda dinilai cukup mengejutkan. Namun demokrasi memang sering kali memberi warna baru. "Lolos ke parlemen dulu saja sudah bagus. Itu juga butuh ekstra kerja keras, berdarah-darah," ujar pengamat politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio saat dihubungi VIVA, Senin, 19 Februari 2018.