Becak, si Musuh Pembangunan
- ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho
Dari catatannya, beberapa tukang becak terlibat dalam usaha pelacuran. Mereka mengantarkan para pelacur, yang kala itu lazim disebut 'Wanita P'. "Saya ngilu menyaksikannya," kata Bang Ali. "Ada pula yang disebut Becak Komplit, karena kendaraan roda tiga itu membawa keliling Wanita P."
Pasang Surut
Beragam upaya terus digencarkan para petinggi Ibu Kota untuk melenyapkan becak. Namun sejarah mencatat upaya itu selalu gagal. Padahal skenario membinasakan becak sudah dilakukan sejak lama.
Faktanya becak tetap saja masih bercokol, walau populasinya semakin mencuil dan tersingkir dari jantung ingar bingar kota. Ketatnya aturan juga makin membuat penarik becak berdeging di pinggiran metropolitan. Argumennya jelas, menyambung nyawa dan menghidupi keluarga.
Nasib para tukang becak baru lebih baik setelah Tjokropranolo alias Bang Nolly menjabat Gubernur DKI pada 1977. Jebolan militer itu justru memberi kelonggaran bagi para tukang becak tetap mengais rezeki dengan besi tuanya.
Tetapi napas penarik becak tak panjang, karena usai Bang Nolly lengser digantikan R Soeprapto pada 1982, pengetatan kembali diberlakukan. Erwiza dalam tulisannya mengatakan jumlah becak lalu terus menurun populasinya.
Pukulan keras bagi penarik becak terus berlanjut pada era Gubernur Wiyogo Atmodarminto. Di era kepemimpinannya sampai-sampai lahir Perda 11 tahun 1988 yang melarang operasi becak.
Kendaraan resmi yang tercatat dalam Perda hanyalah kereta api, taksi, bus, dan angkutan roda tiga bermotor. Wiyogo lalu kembali memojokan becak usai turut membawa masuk 10 ribu minica --becak, helicak, minicar-- pengganti becak.
Pada 1998, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso pernah memberi izin becak beroperasi kembali. Keputusan diambil karena krisis ekonomi. Tetapi tetap saja area operasinya tak bebas, karena hanya diperkenankan mencari rezeki di wilayah penyangga ibu kota; Tangerang, Depok, Bekasi, gang perumahan, dan pinggiran kota.
Kebijakan itu belakangan jadi blunder buatnya, karena kemudian banyak sekali becak yang kembali masuk ke kota. Ditambah dengan serbuan becak dari berbagai daerah. Bang Yos lalu melarang kembali dan menyikat becak-becak melalui razia dan berujung dengan pembuangan ke laut.
Sejumlah becak yang mangkal di Tambora, Jakarta Barat. (VIVA/Syaefullah)