Becak, si Musuh Pembangunan

Sejumlah tukang becak berkumpul di Kudus, Jawa Tengah
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho

Agenda lain, Bung Karno menghadirkan bemo sebagai bagian untuk menghapus becak dari Tanah Air. Alasannya, Bung Karno merasa iba dengan pemandangan adanya seseorang yang harus rela berpeluh keringat menggenjot pedal becak demi sesuap nasi. Apalagi pedal diinjak setelah adanya tawar-menawar ongkos, sungguh pedih di matanya.

Nasib penarik becak semakin tragis di bawah kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin. Bang Ali bahkan menentukan 'zona bebas becak'. Rencana pemberangusan terhadap becak dimulai pada 1967. Saat DPRD-GR Jakarta mengesahkan Perda tentang Pola Dasar dan Rencana Induk Jakarta 1965-1985. Dalam regulasi itu becak tidak diakui sebagai kendaraan angkutan umum.

Ketika itu jumlah becak di Jakarta sudah tembus 160.000 unit yang dikemudikan 320.000 orang dalam dua shift. Becak dianggap terus menjadi momok bagi Pemda DKI, karena jadi biang macet, membuat kumuh perkotaan, berhubung banyak beroperasi di stasiun kereta, pasar, terminal bus, dan sejumlah persimpangan jalan.

Bahkan catatan Erwiza Erman, pada 1970 ada larangan produksi becak baru dan surat izin juga tak dikeluarkan lagi. Jadilah banyak perusahaan pembuat becak bangkrut imbas kebijakan itu.

Keberadaan becak di Jakarta sekitar tahun 1980. (www.mediamaya.net)

Pemerintah dan polisi juga acap dibuat geleng-geleng para penarik becak. Hal itu pula yang membuat mereka makin mantap untuk segera memberangusnya. Dalam artikel Majalah Tjaraka berjudul 'Keringat jang Menitik Disepandjang Djalan' edisi 28 Januari 1969, ditulis lengkap bagaimana aksi nakal para tukang becak saat beroperasi.

"Ciri khas abang becak di ibu kota ini ialah kebandelan mereka terhadap peraturan lalu lintas. Untuk menghemat waktu dan jarak, tidak segan-segan mereka memotong jalan yang terlarang, bahkan yang penuh dengan simpang siur kendaraan."

"Tidak mengherankan kalau abang-abang becak ini termasuk orang-orang yang membantu setan jalanan menyabut nyawa-nyawa penumpang atau sekali-sekali mungkin nyawanya sendiri." Artikel tersebut tentu menyiratkan betapa gawatnya persoalan becak di ibu kota.

Sementara itu dalam Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977 (1993: 205), Ali Sadikin menyatakan becak pantas diberangus karena dianggap tak lagi menjawab kebutuhan masyarakat.

Tenaga yang dikeluarkan tak sebanding dengan pendapatan yang didapat alias menyedihkan. Kata Bang Ali, banyak dari mereka tidur di becak masing-masing jika malam tiba. Mereka bahkan juga dekat dengan 'dunia lendir'.