Becak, si Musuh Pembangunan

Sejumlah tukang becak berkumpul di Kudus, Jawa Tengah
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho

Becak diperkenalkan Seiko-san, warga Jepang, yang tinggal di Makassar. Pemilik toko sepeda itu membuat becak setelah mengalami seretnya penjualan. Ia lalu putar otak agar tumpukan sepeda yang tak terjual bisa dikurangi. Hingga terciptalah kendaraan roda tiga, becak.

Kata becak (betjak) berasal dari dialek Hokkian, yaitu be chia, yang artinya kereta kuda. Kendaraan ini juga kerap disapa 'roda tiga' oleh masyarakat. Meski awalnya becak digunakan untuk keperluan para pedagang mengangkut barang, namun lambat laun akhirnya dipergunakan sebagai kendaraan umum.

Becak Berdaulat

Sama seperti di Tokyo, becak juga populer di Jakarta. Di masa kejayaan, becak merupakan moda transportasi favorit pilihan warga. Apalagi becak memasang tarif merakyat, tak mencekik kantong penumpang.

Populasi becak terus bertambah. Jika di awal kemunculan becak hanya berjumlah 100 unit, pada 1941 bertambah menjadi 2.400 dan berlipat-lipat di tahun berikutnya.

Dalam buku 'Dekolonisasi Buruh Kota dan Pembentukan Bangsa' karya Erwiza Erman (2013), disebutkan para penarik becak di ibu kota merupakan warga Betawi, Indramayu, Cirebon, Brebes, dan Tegal, daerah-daerah Pantai Utara Jawa.

Sebagian dari mereka adalah migram musiman yang datang pada waktu tidak musim ke sawah atau pada musim paceklik. Becak yang ditarik juga bukan punya mereka, karena hasil menyewa dari para tauke (majikan yang punya barang).

Ada faktor lain yang membuat becak semakin berdaulat di masa kejayaan. Populasi becak terus bertambah seiring meningkatnya angka kriminalitas, serta pencurian sepeda pada tahun-tahun pertama dan kedua masa pendudukan Jepang.

Walau menjamur, bukan berarti penarik becak dapat hidup layak. Karena pada masa penjajahan Jepang, penarik becak mengeluhkan jumlah setoran ke tauke yang acap berubah-ubah. Ini terjadi seiring perubahan tarif sewa yang diberlakukan Pemerintah Jepang.

Nasib para pengayuh becak baru lebih berjaya di masa kemerdekaan. Saking lumayannya pendapatan, becak terus menjamur di ibu kota.

Keberadaan becak di Jakarta sekitar tahun 1980. (bijakcendekiasoekarno.blogspot.co.id)

Bayangkan, pada 1948 populasi becak menembus 9.000 unit. Pada 1951 jumlah becak di Jakarta tercatat 25.000 yang dikemudikan 75.000 orang dalam tiga shift.