Jejak 'Indonesia' di Piala Dunia

Tim Hindia Belanda di Piala Dunia 1938
Sumber :
  • Youtube/FIFA TV

VIVA – "Bahwa tim yang punya hak untuk tampil di Piala Dunia 1938, adalah pemenang antara laga NIVU versus PSSI." Begitu perjanjian yang tertulis dalam Gentlement's Agreement yang diteken oleh kedua belah pihak pada 1937.

Hindia Belanda memang dapat durian runtuh. Jatah Asia seharusnya diberikan kepada Jepang. Namun, mereka ketika itu sedang berperang dengan China. Ketiadaan transportasi juga membuat Jepang kesulitan berangkat ke Prancis. Akhirnya, Jepang menyatakan diri tak bisa berpartisipasi di Piala Dunia 1938.

Slot Asia akhirnya kosong. Dan undangan jatuh kepada Hindia Belanda dan masuk melalui NIVU. Alhasil, Hindia Belanda jadi tiga negara di luar Eropa yang bersaing di Piala Dunia. Begitu laporan yang ada dalam Encyclopedia of World Cup (Tom Durnmore, 2015).

Di masa kolonial, organisasi sepakbola yang diakui bukanlah Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia alias PSSI. Melainkan, Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU).

NIVU merupakan otoritas sepakbola bentukan Pemerintah Hindia Belanda. Mereka yang mendapat pengakuan dari pemerintah Hindia Belanda untuk menjalankan roda kegiatan sepakbola saat itu. Sementara PSSI yang lahir lebih dulu ketimbang NIVU, dibentuk oleh sekelompok pribumi, yang dipimpin oleh Ir Soeratin. PSSI dibentuk sebagai simbol perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Meski kegiatan PSSI tak diakui, nyatanya tim yang mereka miliki lebih kuat ketimbang NIVU. Tim besutan PSSI mampu mengimbangi Nan Hwa (klub asal China), yang sebelumnya menghajar NIVU 4-0. Nan Hwa diimbangi oleh tim PSSI dengan skor 2-2. Pertandingan melawan Nan Hwa digelar pada Minggu 8 Agustus 1937. Koran Sin Tit Po mengabarkan, kedua tim memakai formasi yang sama, 2-6-2.

Tim PSSI saat itu sempat tertekan oleh eksplosivitas permainan Nan Hwa. Namun, mereka justru mampu unggul 2-1 jelang injury time. Namun, pada akhirnya tim PSSI kebobolan di menit-menit akhir. Dari laporan surat kabar tersebut, terlihat para pemain Nan Hwa terguncang saat tahu ditahan imbang oleh tim PSSI.

Hasil pertandingan ini membuat NIVU berniat untuk melanggar Gentlement's Agreement yang mereka buat dengan PSSI. NIVU takut kalah saing dengan tim bentukan PSSI untuk berangkat ke Piala Dunia 1938. Dan mereka melanggar perjanjian dengan mendaftar langsung ke FIFA.

Kabar ini sampai ke telinga PSSI. Mereka protes. Tapi, tetap saja tak bisa berbuat apa-apa. Sebab, FIFA sudah berfatwa bahwa organisasi yang diakui adalah NIVU.

NIVU kemudian menyiapkan tim di bawah arahan Cristoffel van Mastenbroek. Seleksi dilakukan. Walau ada instruksi ke pemain lokal dari PSSI agar tak ikut seleksi, nyatanya banyak dari mereka yang mencoba peruntungan. Mastenbroek awalnya lebih memprioritaskan talenta Belanda ketimbang lokal. Namun, pada kenyataannya, kualitas pemain lokal jauh lebih baik dan membuat Mastenbroek menyertakan mereka.

Para pemain lokal yang masuk skuat merupakan mereka yang memiliki darah Jawa, Ambon, Tionghoa, Sumatera, dan Belanda. Tan Mo Heng, Tan Hong Djien, Isaak Pattiwael, Achmad Nawir, Frans Meeng, Sutan Anwar, adalah deretan nama lokal yang memperkuat tim Hindia Belanda kala itu.

“Memang, awalnya ada upaya dari Belanda untuk menghalangi para pemain asli Indonesia masuk ke skuat Timnas saat itu. Tapi, kualitas tak bisa dibohongi. Mereka punya kualitas yang bagus dan akhirnya lolos seleksi,” ujar anak Isaak Pattiwael, Yohannes Pattiwael kepada VIVA.

Dicap Pengkhianat

Akhirnya, ada 11 pemain lokal dan Tionghoa yang masuk skuat Timnas Hindia Belanda saat itu. Tak mudah bagi mereka hidup dalam lingkungan sosial saat memutuskan untuk memperkuat Timnas Hindia Belanda. Pasalnya, masyarakat sempat menilai mereka pengkhianat bangsa karena mau membela panji merah-putih-biru.

Cap pengkhianat yang diberikan terhadap mereka tak membuat semangat para pemain tersebut luntur. “Ya, ketika itu Indonesia belum ada. Hanya merah-putih-biru. Namun, yang patut disorot adalah semangat juang anak-anak bangsa. Mereka mau membuktikan diri, orang Indonesia itu bisa,” ujar Yohannes.

Cuma ada satu semangat dari mereka yang dicap ‘pengkhianat’ oleh pribumi saat itu. Yakni, ingin mengibarkan nama Indonesia di pentas internasional. Dengan bermainnya para pemain asli Indonesia di Piala Dunia, barisan pemain pribumi itu berharap bahwa ada talenta lokal yang memang memiliki kualitas kelas wahid.

“Mereka tak peduli, tak mendengarkan, apa kata orang. Kakek saya tak peduli dengan ucapan orang-orang yang menyebutnya pengkhianat atau apa lah itu. Tapi, kalau beliau dan rekan-rekannya tak ngotot bergabung, apakah ada pribumi yang main di Piala Dunia?” ujar cucu Isaak Pattiwael, John Pattiwael.

Sosok Yohannes Pattiwael saat ditemui VIVA di Jakarta. (VIVA/M Ali Wafa)

Masa bodoh, itu yang mereka pilih. Cacian dan segala macam hinaan mereka terima, selama berlatih di bawah arahan Mastenbroek. Dan sepanjang periode tersebut, skema antimainstream, 2-3-5, jadi andalan Mastenbroek.

Skema dua bek, tiga gelandang, dan lima penyerang, memang tak begitu terkenal di masa sekarang. Namun, strategi ini sebenarnya sangat populer sejak abad 19. Namun, pada akhirnya ditinggalkan karena skema 3-2-2-3 lebih berkembang.

Mastenbroek memilih skema ini karena sadar akan potensi yang dimiliki oleh timnya ada di lini depan. Saat itu, kecepatan pemain seperti Isaac dan Tan Hong Djien, memang berada di atas rata-rata dan jadi andalan bagi Indonesia. Formasi ini pun terus dibawa hingga Piala Dunia 1938 di Prancis digelar.

Persiapan di Negeri Tulip dan Cedera yang Bikin Panik

Surat kabar Tionghoa Sin Po menulis, Timnas Hindia Belanda berangkat menuju Eropa pada 18 Maret 1938. Mereka berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok dengan menggunakan kapal MS Johan van Oldenbarnevelt.

Para pemain Timnas Hindia Belanda tak langsung berlabuh di Prancis. Mereka terlebih dulu singgah di Belanda. Pada pertengahan Mei 1938, mereka baru tiba di Negeri Kincir Angin. Hotel Duinoord di kota Wassenaar, jadi kamp mereka selama di Belanda. Selama melakoni pemusatan latihan di Belanda, laporan dari surat kabar Het Volksdagblad, Timnas Hindia Belanda tak cuma dilatih oleh Mastenbroek. Pelatih dari KNVB, Bob Glendenning, turut membantu persiapan mereka.

“Menjadi sebuah kondisi menguntungkan saat pelatih dari KNVB, Bob Glendenning, diperbantukan untuk melatih mereka memahami segala macam taktik dan strategi jelang Piala Dunia,” demikian laporan dari koran Limbursch Dagblad, edisi 28 Mei 1938.

Selain mendapatkan pelatih dari KNVB, Timnas Hindia Belanda juga diberi kesempatan untuk beruji coba dua kali. Ada dua tim yang diketahui menjadi lawan uji coba Timnas Hindia Belanda, HBS Craeyenhout dan Harleem.

Uji coba kontra HBS yang digelar pada 25 Mei 1938, berakhir dengan skor imbang 2-2 (tercatat dalam koran Sin Po edisi 27 Mei 1938). Lalu, partai melawan Harleem berakhir dengan kemenangan Timnas Hindia Belanda, 5-3. Tapi, ada informasi juga yang menyebutkan Timnas Hindia Belanda juga pernah menghadapi Ajax Amsterdam sebelum bersaing di Piala Dunia 1938.

Dari catatan RSSSF, Timnas Hindia Belanda memang pernah berlaga di Amsterdam, namun setelah Piala Dunia 1938. Tim yang mereka hadapi setelah Piala Dunia 1938 di Amsterdam adalah Belanda. Hasilnya, mereka kalah dengan skor telak 2-9. Selain Belanda, mereka juga sempat berduel dengan tiga tim lainnya usai Piala Dunia 1938, Sparta Rotterdam, Dordrecht FC, dan HVB.

“Saat wafat, kakek saya berpesan ingin dimakamkan dengan jas dan dasi merah ala Ajax. Itu pesannya. Memang, beliau sangat mengagumi Ajax Amsterdam. Dari catatan yang ada, memang Timnas Hindia Belanda pernah ke Belanda dan gelar uji coba di sana. Mungkin, mereka pernah uji coba dengan Ajax,” ujar John mengenang.

Di masa persiapan, para pemain Timnas Hindia Belanda sebenarnya sempat dipusingkan dengan cederanya Tan Mo Heng. Pergelangan tangan Mo Heng sempat bermasalah. Itu disebabkan oleh beban latihan yang terlalu berat.

“Selanjutnya, Mo Heng bisa pulih dan kembali berlatih. Dia berada dalam performa terbaik dan antusiasme yang luar biasa,” begitu laporan dari surat kabar Belanda, Volksdagblad, edisi 31 Mei 1938.
 
Segala macam persiapan akhirnya rampung pada 1 Juni 1938. Dan, di hari itu, para pemain Timnas Hindia Belanda baru berangkat ke Prancis dengan menggunakan kereta. Hingga akhirnya, 5 Juni 1938, mereka melakoni pertandingan perdana di Piala Dunia.

Para Kurcaci yang Memukau Dunia

Bukan lawan enteng yang dihadapi Timnas Hindia Belanda. Di Piala Dunia 1938, mereka sudah bertemu dengan raksasa sepalbola saat itu, Hungaria. Kebetulan, Hungaria ketika itu masih diperkuat beberapa pemain kelas dunia macam Gyorgy Sarosi dan Gyula Zsengeller.

Catatan resmi FIFA, ada 9.000 penonton yang hadir di Stade Velodrome Municipale untuk menyaksikan laga ini. Hungaria ketika itu menggunakan pakaian serba putih yang jadi baju tempur kebanggaan mereka. Sedangkan Timnas Hindia Belanda memakai seragam oranye, putih, dan biru, warna khas dari negeri Kincir Angin.

Tak dijelaskan secara rinci bagaimana permainan Timnas Hindia Belanda saat itu. Namun, dari catatan yang dikeluarkan majalah Prancis, L’Equipe, Timnas Hindia Belanda mampu mengimbangi permainan Hungaria selama 12 menit.

Gaya main Timnas Hindia Belanda pun disebut-sebut atraktif. Kemampuan olah bola para pemainnya juga diakui oleh media-media internasional saat itu. Hanya saja, menurut catatan The Times, karena gaya main ofensif Hindia Belanda, pertahanan menjadi sangat rapuh.

 Netherland East Indies (Indonesia) saat tampil di Piala Dunia 1938. (Wikimedia.org)

“Kemampuan olah bola para pemain Hindia Belanda begitu apik. Sayang, pertahanannya sangat rapuh,” begitu catatan The Times.

Karena pertahanan yang amburadul, Timnas Hindia Belanda pun diberondong enam gol tanpa balas oleh Hungaria. Sarosi dan Zsellenger yang jadi bintang Hungaria saat itu, masing-masing mencetak dua gol.

Tapi, ada fakta yang baru diketahui belakangan ini. Bahwa, Timnas Hindia Belanda pernah mencetak gol. Di menit-menit awal, Isaac ternyata sempat menjebol gawang Hungaria yang dikawal Jozsef Hada. Namun, gol itu dianulir wasit.

“Ayah saya pernah bercerita ada gol yang sempat dibuatnya. Mungkin, jika gol itu disahkan, jalannya laga akan berbeda,” kata Yohannes.

Timnas Hindia Belanda memang kalah dari segi skor. Namun, ketika itu banyak yang memuji penampilan mereka, khususnya di babak kedua. Di babak kedua, Timnas Hindia Belanda sudah tertinggal empat gol. Ketika itu, yang ada di pikiran mereka hanya satu, menyerang demi cetak gol.

Hungaria sempat kewalahan menerima gempuran-gempuran para pemain Timnas Hindia Belanda. Begitu laporan yang diterima dari wartawan Belanda, CJ Goorhof, mengutip geschiedenis24.nl. Goorhof bahkan sempat berbincang dengan Sarosi usai laga. Menurut Goorhof, Sarosi memberikan pujian selangit kepada para pemain Timnas Hindia Belanda yang tampil agresif dan merepotkan mereka.

Pun dengan koran-koran lokal. Sin Po bahkan menulis tajuk utama dalam laman olahraganya dengan pujian untuk skuat Timnas Hindia Belanda. “Indonesia-Hongarije 0-6, Kalah Sesoeadahnja Kasih Perlawanan Gagah”, begitu judul koran Sin Po pada edisi 7 Juni 1938.

Koran Batavia, De Java Bode, juga memberikan ulasannya terhadap pertandingan Timnas Hindia Belanda melawan Hungaria. Kebetulan, salah satu reporternya, Jan Feith, menyaksikan langsung kiprah Timnas Hindia Belanda di Prancis.

Menurut Feith, para pemain Timnas Hindia Belanda tampil dengan nyali yang besar. Mereka tak gentar menghadapi permainan apik Hungaria yang diisi oleh pemain berpostur raksasa. “Kecil, tapi mereka terus berusaha mengatur permainan dalam pertandingan sepakbola internasional. Cara main mereka juga terbilang unik,” begitu ulasan Feith.

Jejak yang Sumir

Sempat memukau dunia, mereka hilang tanpa kabar yang jelas. Hanya beberapa pemain Timnas Hindia Belanda yang eksis di sepakbola nasional usai berlaga di Piala Dunia 1938.

Pattiwael dan Mo Heng jadi segelintir pemain yang diketahui masih setia mengembangkan sepakbola nasional hingga masa perang kemerdekaan tiba. Namun, sisanya tak tahu ke mana.

Ketika Jepang masuk ke Indonesia, beberapa diketahui ada yang menjadi pekerja paksa. Frans Meeng disebut-sebut sebagai pemain yang menjadi pekerja paksa di era pendudukan Jepang. Dan pada 18 September 1944, Meeng dikabarkan meninggal dalam peristiwa penembakan kapal Junyo Maru oleh torpedo kapal selam Inggris, HMS Tradewind, di dekat Mukomuko, Bengkulu.

Pemain sekelas Hong Djien yang jadi incaran klub Brasil, Santos, dan Barcelona pun menghilang begitu saja. Dari berbagai desas-desus yang ada, Hong Djien memilih untuk fokus mengembangkan bisnis pertanian milik keluarganya di Surabaya.

Dia sempat dikabarkan tinggal di dekat Monumen Bambu Runcing, Surabaya, namun itu tak terbukti. “Saya sendiri tak tahu itu. Memang perlu dikonfirmasi lagi kebenarannya. Memang, Hong Djien pernah main di Piala Dunia 1938,” kata sejarawan sepakbola Indonesia, Bayu Rojil, penulis buku ‘Tionghoa Surabaya dalam Sepakbola 1915-1942’.

Sedikit kabar, dan jejaknya samar-samar. Meski demikian, mereka dikenang sebagai pahlawan sepakbola nasional karena nama orang Indonesia mampu mentas di Piala Dunia, setelah diakui oleh FIFA pada 2010. (one)

Baca juga

Anak Maluku Gemparkan Piala Dunia

Para Pemain Indonesia di Piala Dunia