Cendana Menjual Rindu
- Istimewa
Sama dengan PDIP dan Bung Karno. Sejauh ini, tidak ada satu pun partai yang berani mengambil Bung Karno sebagai ikon kecuali partai berlambang banteng moncong putih tersebut. "Semestinya ada yang mengambil Soeharto, selain Berkarya," ujarnya.
Terlepas dahulu ada Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) yang dipimpin Tutut, dan kemudian kalah dalam pemilu, Pangi menilai belum tentu Berkarya punya nasib serupa. Dia beranggapan Tommy berbeda juga dengan Tutut. Apalagi, dia melihat caleg-caleg yang dipasang Berkarya juga lumayan kuat.
Karena bagi mereka, target paling minimal adalah lolos parliamentary threshold. Dan untuk mewujudkan itu, mereka cuma butuh 16 kursi. "Mereka juga siapkan 16 caleg yang kuat. Kami memahami Tommy jadi caleg. Itu saja bisa jadi kursi. Menghitung kursi 16 tidak terlalu rumit termasuk artis. Tinggal di samping kader inti partai, tetapi sosok figur dan popularitas serta logisitik tak bisa dipungkiri," kata dia.
Pangi mengingatkan, di negara mana pun, kerinduan terhadap mantan Presiden tidak pernah hilang apalagi Soeharto. Dengan demikian, Berkarya memang memiliki peluang untuk mengembalikan kejayaan Orde Baru di kancah perpolitikan nasional.
"Ketika bapaknya berkuasa, pasti ada kerinduan. Jadi ada kebanggaan untuk meneruskan cerita-cerita kejayaan masa lalu. Bagi mereka, momentum itu ada. Sepanjang bisa mengelola isu tadi, program dan punya figur," tuturnya.
Sementara itu, Direktur Riset Roda Tiga Konsultan, Rikola Fedri, strategi 'menjual' romantisme Orde Baru dan Soeharto ala Partai Berkarya itu bisa ampuh di kalangan ekonomi bawah yang minim informasi terkait massa kepemimpinan Soeharto.
Agar tidak senasib dengan PKPB, dia mengatakan, Berkarya harus menemukan strategi dan pendekatan yang lebih zaman now untuk mendulang suara. Namun, Rikola melihat partai ini memiliki perbedaan dengan PKPB yaitu lebih terlihat identitas "Keluarga Cendana"-nya.