Berdamai dengan Bencana

Warga berada di dekat kapal TNI AL yang terdampar di jalanan akibat tsunami di Watusampu, Ulujadi, Palu, Sulawesi Tengah, 3 Oktober 2018.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Akbar Tado

Ihsan beruntung, ia bersama istri, kedua anak, dan ibunda mereka selamat. Setelah itu seharian ia berusaha mencari tahu kabar teman-teman sesama perantau dan mencari makanan untuk mereka. Ihsan juga mendapat informasi bahwa ada pesawat hercules yang bisa membawa ia dan keluarganya ke Jakarta. Dua hari setelah gempa, Ihsan dan keluarganya berangkat ke Jakarta.

Dari Jakarta, Ihsan baru bisa melihat dengan jelas, seperti apa dampak gempa, tsunami dan likuifaksi yang memporakporandakan Palu, Sigi, dan Donggala pada Jumat petang pekan lalu. Ihsan bersyukur ia dan keluarganya selamat. Ia meyakini, 80 persen rumah di Perumahan Griya Cempaka Alam tergulung lumpur. Entah bagaimana nasib tetangga sekitarnya.

Menurut Ihsan saat kejadian, ia sama sekali tak punya bayangan apa yang sedang terjadi. Apalagi bagi warga kota Palu, gempa adalah hal yang biasa. Siang itu, sebelum gempa kuat, ia juga merasakan dua kali guncangan gempa. Pertama saat usai salat Jumat, dan kedua sekitar jam tiga sore. Tapi ia tak merasa ada sesuatu yang aneh. Dan saat gempa yang menghempaskan ia sama sekali tak mendengar peringatan apapun. Ia hanya mengikuti nalurinya untuk menyelamatkan diri.

"Tak ada, tak ada peringatan apapun. Karena saya juga tak menonton televisi, maka saya juga tak tahu kalau ada peringatan tsunami," ujarnya.

Dampak likuifaksi di Petobo, Sulteng

Korban lainnya yang berhasil selamat adalah Firman Halide dan Bripka Arif Satya. Kedua laki-laki ini berada tak jauh dari pantai. Keduanya sedang menjalankan tugas masing-masing di persiapan acara besar "Festival Palu Nomoni." Sebuah acara festival seni dan budaya yang paling meriah di kota Palu. Sedianya acara tersebut akan diresmikan pada Jumat, 28 September 2018 pada pukul 19.00 waktu setempat. Menurut catatan Dinas Pariwisata Palu, acara Palu Nomoni akan diadakan pada 28-30 September 2018.

Festival Pesona Palu Nomoni  (FPPN) 2018 diselenggarakan Pemerintah Kota Palu dan didukung oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Kementerian Pariwisata dengan tujuan mengungkap kembali kearifan budaya masa lalu yang sudah ratusan tahun tenggelam, kemudian dimunculkan kembali dibalut dengan kemasan atraksi seni pertunjukan yang mengangkat kembali nilai-nilai kebudayaan yang arif dan luhur.