Berdamai dengan Bencana
- ANTARA FOTO/Akbar Tado
Smong adalah tsunami dalam bahasa Semeulue. Cerita dahsyatnya Smong atau tsunami yang pernah menerjang Pulau Semeulue diceritakan secara turun temurun melalui syair yang dilantunkan menjelang tidur. Syair itu menuturkan bagaimana jika terjadi gempa besar, maka harus ada anak muda yang lari ke pantai. Mereka harus melihat bagaimana kondisi air. Jika air surut, maka itu pertanda Smong akan datang.
Lalu melalui teriakan berantai, semua pemuda akan menyampaikan Smong. Jika sudah demikian, maka dahulukan wanita, anak-anak, dan lansia untuk diajak berlari ke bukit yang tinggi. Smong terbukti efektif. Hanya tujuh orang dari 70.000 jiwa di Pulau Semeulue yang menjadi korban.
Dampak tsunami di Mentawai
Kogami paham, bencana tak akan pernah beranjak dari negara yang memang sudah takdirnya berada dalam garis api ini. Tapi, mereka menolak mengabaikan. Ada tujuh poin yang mereka rekomendasikan dan akan selalu terus dipublikasikan.
Pertama adalah melakukan kajian lebih mendalam mengenai potensi tsunami dan pemodelan penyebab terjadinya tsunami, prakiraan waktu kedatangan setelah gempa, ketinggian tsunami dan jauh landaan ke darat. Pemodelan ini nantinya juga menjadi data bagi BMKG untuk melakukan pemodelan sehubungan dengan layanan peringatan dini tsunami.
Kedua adalah mengevaluasi dan menyempurnakan SOP BMKG itu sendiri. Ketiga adalah menciptakan alat deteksi dini tsunami yang berbiaya murah dan pemeliharaannya juga murah. Hal keempat adalah mengevaluasi semua peralatan terkait peringatan dini tsunami mulai dari alat deteksi, alat penerima informasi di Pusdalops PB BPBD dan media interface dan juga alat diseminasi kepada masyarakat, memperbaiki ataupun melengkapinya.
Di poin kelima, kata Patra, adalah penting untuk melatih aparat dan masyarakat dalam merespon peringatan dini tsunami itu sendiri, termasuk melakukan uji SOP secara rutin. Keenam adalah mengalokasikan anggaran yang memadai untuk pengadaan dan pemeliharaan alat peringatan dini dan juga untuk sumber daya manusia yang berada dalam rantai peringatan dini seperti petugas BMKG yang piket ataupun petugas Pusdalops PB BPBD yang piket.
Dan poin terakhir yakni, menyediakan tempat evakuasi sementara bagi masyarakat berupa bangunan tinggi ataupun bukit buatan maupun bentuk lainnya. Jika masyarakat terdampak, maka disesuaikan dengan kebutuhan Daerah masing-masing.