Karut Marut Bikin Terpuruk

Para pemain Timnas Indonesia tertunduk lesu usai Mohamadou Sumareh cetak gol
Sumber :
  • ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

SUGBK kembali jadi kuburan bagi Indonesia ketika menjamu Vietnam di laga keempat Grup G kualifikasi Piala Dunia 2022 pada 15 Oktober 2019. Skuat Garuda kembali menelan kekalahan dari tim tamu, kali itu dengan skor 1-3.
 
Deretan hasil negatif ini rupanya tak membuat PSSI bertindak responsif. Mereka masih saja mempercayakan kursi pelatih kepada Simon. Publik pun dibuat bertanya-tanya dengan sikap otoritas tertinggi sepakbola di Tanah Air tersebut.

"Kalau saya tetap, akan mengkomparasikan dengan Luis Milla. Meski belum ada trofi, tapi eranya dia, para pemain pintar. Ada harapan kita akan wajah sepakbola Indonesia. Tapi apa dengan Simon, maaf saja pemainnya bukannya pintar," kata mantan pemain Timnas Indonesia Primavera, Supriyono Prima kepada VIVAnews, Jumat 1 November 2019.

Supriyono meyakini, sebenarnya PSSI sudah melakukan evaluasi terhadap kinerja Simon selama ini. Namun, bisa saja karena faktor finansial, federasi memilih untuk mempertahankan juru taktik asal Skotlandia itu.

"Evaluasi pasti sudah dilakukan. Di situ ada pertimbangan lain, mungkin masalah kompensasi. Harganya pasti lebih murah dibanding Luis Milla," imbuh Supriyono.

Sejak Indonesia terpuruk di kualifikasi Piala Dunia 2022, nama Luis Milla memang santer didengungkan untuk kembali. Pelatih asal Spanyol itu dianggap mampu menyulap permainan Evan Dimas dan kawan-kawan menjadi lebih baik pada Asian Games 2018 Jakarta-Palembang.

Kendalanya, gaji yang harus dibayarkan kepada Luis Milla teramat mahal. Akhirnya PSSI memilih untuk mencari penggantinya, dan jatuhlah pilihan tersebut kepada Simon.

Korelasi Keterpurukan

Penampilan buruk Timnas senior di kualifikasi Piala Dunia 2022 ini dianggap menjadi cermin karut-marutnya kepengurusan PSSI. Sejak mencuatnya berbagai kasus pengaturan skor hingga akhirnya membuat Edy Rahmayadi mundur pada Januari 2019, sorotan negatif selalu menghiasi.

Pengamat sepakbola nasional, Yusuf Kurniawan menilai korelasi keterpurukan Timnas dengan federasi amatlah erat. Terlihat bagaimana kelola Timnas yang buruk berdampak kepada banyaknya program mandek. Ditambah lagi jadwal kompetisi Liga 1 yang amburadul.

"Seringkali program pelatih itu tidak terakomodasi oleh PSSI. Entah itu fasilitas, atau desakan dari klub. Karena sering kan terjadi tarik-menarik antara klub dengan Timnas. PSSI harus bisa memberi pengertian. Tidak lepas juga dengan jadwal yang amburadul. Karena tersandera dengan jadwal yang tidak karuan, akhirnya pemain kelelahan," kata Yusuf kepada VIVAnews.