Usman-Harun, dan Aksi Bom Singapura

usman harun sorot
Sumber :
  • VIVAnews/Sonik Jatmiko

 
Upaya banding ke Pengadilan Federal Malaysia juga ditolak. Banding selanjutnya sampai harus diajukan di London karena Singapura adalah anggota Negara Persemakmuran Inggris. Tapi upaya itu pun berujung gagal (lihat).
 
Upaya diplomasi Indonesia, yang berliku dan makan waktu itu,  akhirnya kandas. Presiden Singapura menolak grasi kedua marinir itu. Lobi Presiden Soeharto ke Singapura lewat Perdana Menteri Malaysia tak digubris. Bahkan, permintaan Soeharto agar eksekusi hukuman gantung ditunda sepekan ditolak. Padahal Soeharto ingin Usman-Harun bertemu orangtua dan kerabat mereka sebelum maut menjemput.

Pemerintah RI seperti membentur tembok. Usman dan Harun tak bisa lagi diselamatkan. Soeharto lalu mengutus Brigjen TNI Tjokropranolo bertemu dua prajurit yang berani itu. Ia tiba di penjara Changi, 16 Oktober 1968 –persis sehari sebelum eksekusi hukuman gantung Usman-Harun.

Ditemui seorang jenderal utusan presiden, kedua marinir itu tegak bak batu karang.  Mereka bersikap sebagai militer: memberi hormat, dan menyampaikan laporan lengkap aksi mereka di Singapura. Menyimak laporan tanpa rasa gentar itu, Brigjen Tjokropanolo tak dapat menahan haru.

Tjokropranolo lalu menyampaikan pesan Presiden Soeharto, bahwa keduanya diberi gelar Pahlawan Nasional. Seluruh rakyat Indonesia menaruh hormat atas jasa-jasa mereka. Permintaan Usman dan Harun untuk dimakamkan berdampingan di tanah air pun dikabulkan Soeharto.

Esoknya, 17 Oktober 1968, kedua prajurit itu dibangunkan oleh petugas penjara. Usai salat, dengan tangan terborgol mereka dibawa ke kamar kesehatan untuk dibius. Dalam kondisi terbius, dokter lalu memotong urat nadi mereka hingga keduanya lumpuh. Setelah itu, Usman-Harun dibawa ke tiang gantungan. Tepat pukul 06.00 pagi waktu Singapura, tubuh kedua lelaki itu tergantung lunglai di tiang itu. Hidup keduanya telah tamat.

Di Indonesia, hari itu, bendera Merah Putih dikibarkan setengah tiang. Dua jenazah itu tiba di tanah air dengan  peti berselubung bendera Merah Putih. Sepanjang Kemayoran dan Jalan Merdeka Barat penuh lautan manusia menyambut sang hero.

Esoknya, usai salat Jumat, keduanya dimakamkan. Tembakan salvo pun bersipongang. Pemerintah memberi tanda kehormatan Bintang Sakti. Keduanya diangkat sebagai Pahlawan Nasional.