Usman-Harun, dan Aksi Bom Singapura

usman harun sorot
Sumber :
  • VIVAnews/Sonik Jatmiko

 
Radio buat ibu
 
Sebelum menyusup ke Singapura, Usman sempat pulang ke rumahnya di Purbalingga, Jawa Tengah. Saat itu, anak kesepuluh dari 11 bersaudara itu membelikan radio transistor untuk ibundanya, Siti Rokiyah. “Bunda, lewat radio ini, kabar apapun di luar sana bisa didengar,” kata dia sumringah.
 
Ironis, radio itu pula yang mengabarkan kematian Usman kepada keluarganya. Menjelang eksekusi Usman, para saudaranya bergeming di dekat radio. Mereka menyimak berita dengan tegang. Tak satupun berani memberitahukan kepada sang ibu, bahwa Usman akan segera digantung.
 
Rokiyah sempat heran melihat anak-anaknya tahan berjam-jam di dekat radio. “Ada apa ini, kok semua pada tegang?” kata Rokiyah kepada mereka. Setelah saling berbisik, akhirnya anak kesembilan, Siti Rodiyah, mengabarkan berita buruk itu. Air mata Rokiyah pun jatuh. Putranya yang masih berusia 25 tahun itu tak bisa diselamatkan lagi.

Rodiyah, sang adik,  pun tak tahan dirundung sedih. Pada pagi yang muram itu, ia pergi ke belakang rumah, lalu berwudu untuk salat subuh. Ada pengalaman yang diingatnya kala itu. Usai wudu, Rodiyah mendongak ke atas pohon kelapa. Ada gagak hitam berkoak-koak. Hati perempuan itu mendadak seperti bolong. Persis pada menit itu, Usman dieksekusi di Singapura.
 
Usman hidup dalam kenangan Rodiyah, sebagai pemuda cilik yang bernama aslinya, Janatin bin Haji Muhammad Ali. Ia  adalah idola di kampung itu. Ia kerap menjadi pemain utama dalam pertandingan sepakbola antarkampung. Hobi lainnya: main perang-perangan.
 
Dia memang datang dari keluarga tentara. Tiga kakaknya menjadi prajurit. Itu sebabnya, Usman kecil betah mendengarkan cerita kakak sulungnya, Husni, saat berperang di medan tempur. Husni adalah seorang letnan TNI Angkatan Darat.

Husni suka berkisah tentang pasukan Gurkha, pasukan khusus Inggris asal pegunungan Himalaya yang amat tangguh. Ironisnya, ia kelak tewas di tangan pasukan Sekutu, saat bergerilya di masa perang kemerdekaan.
 
Sejak itu Usman seperti menyimpan dendam. Saat pamit hendak ke Serawak di awal masa konfrontasi itu, ia berkata kepada ibunya: “Aku ke Serawak agar bisa bertemu tentara Gurkha,” kata dia. Ibunya meminta agar ia tak usah ke Serawak, cukup tinggal di markasnya di Surabaya. Tapi, keluarga paham, ada bayang-bayang Husni, dan dendamnya pada tentara sekutu.