Usman-Harun, dan Aksi Bom Singapura
Jumat, 14 Februari 2014 - 23:25 WIB
Sumber :
- VIVAnews/Sonik Jatmiko
Baca Juga :
Setiap tahun, keluarga Usman mendapat kehormatan diundang ke Jakarta menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun Korps Marinir. Selain itu, rumah sederhana Usman di Purbalingga dijadikan museum oleh TNI. Di dalamnya, tersimpan barang-barang Usman seperti foto-foto dan surat terakhir dia.
Harun, anak Romusha
Harun bernama asli Tohir bin Said adalah anak seorang romusha –orang Indonesia yang dipekerjakan paksa pada masa penjajahan Jepang. Ketika Harun masih kecil, ayahnya dibawa pergi tentara Jepang. Ia tak pernah kembali.
Harun seorang anak pemberani dan bandel. Dia sering pergi ke hutan sendirian. Kadang dia tidur di kuburan dekat rumahnya. Selama bersekolah, Harun kerap membolos. Ia optimistis akan pandai dengan sendirinya meski jarang masuk sekolah.
Kendati malas sekolah, Harun amat rajin membantu ibunya bertani di sawah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga mereka di Desa Ciponggo, Pulau Bawean, Gresik. Harun sadar betul keluarganya miskin. Sambil bersekolah, dia bekerja sebagai pelayan di kapal dagang.
Pekerjaannya itu membuat dia bisa tinggal berhari-hari di Pelabuhan Singapura. Ia juga bergaul dengan banyak orang. Tak heran, Harun menguasai tiga bahasa asing sekaligus –Inggris, China, dan Belanda.
Keluarga Harun tak pernah tahu ia bergabung dengan TNI AL. Mereka baru sadar setelah Harun dipenjara Singapura. Melalui kerabat di Singapura, keluarga diberi tahu tak ada rasa takut di wajah Harun meski tahu akan digantung.
Sepeninggal Harun, pemerintah memberikan perhatian kepada keluarganya. Aswiyani, ibundanya Harun, misalnya diberangkatkan haji gratis ke Mekkah oleh pemerintah. Ia juga diberi rumah di Jakarta. Tapi rumah itu akhirnya dijual karena kebutuhan ekonomi. Bantuan uang, dan juga beras, itu terus mengalir setiap bulan, sampai Aswiyani wafat pada 1996.