Insan Sepakbola Merana

Kantor PSSI di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta.
Sumber :
  • ANTARA/Hafidz Mubarak A.

Pemain Persipura Jayapura saat merayakan gol di ajang AFC Cup. Foto: ANTARA/Roy Ratumakin


Kekesalan yang sama juga dirasakan Direktur klub PSM Makassar, Sumirlan. Yang sangat dia sesalkan adalah karena awalnya kisruh ini hanya melibatkan dua klub, Arema Cronus dan Persebaya, yang tidak direkomendasikan BOPI, tapi justru keduanya tetap berlaga di QNB League.

"Sepakbola ini memengaruhi kehidupan banyak orang. Kami berharap orang-orang di atas bisa islah dan mencari jalan keluar yang terbaik bagi sepakbola Indonesia," ujar Sumirlan dalam wawancara dengan tvOne.

"Kalau memang cuma masalah Arema dan Persebaya, ayo kita selesaikan masalah ini. Jangan kita bertengkar hanya karena masalah sepele yang masih bisa diselesaikan. Kasihan klub lain yang jadi korban orang di atas," tambahnya.



Pemain Waswas, Suporter Protes

Sejumlah pemain juga mulai buka suara mengungkapkan kecemasan mereka. Sebab, jika situasi tidak berubah, tidak menutup kemungkinan profesi mereka sebagai pemain profesional bakal terganggu.

"Bapak bapak yang di sana.. Tolong jangan rusak masa depan kami dan pekerjaan kami.." tulis gelandang Persija Jakarta, Adam Alis, di akun Twitternya.

Sementara itu, pemain senior Persija, Bambang Pamungkas, tak habis pikir dengan kekisruhan ini. Menurutnya, mengapa begitu rumit untuk menyelesaikan masalah jika kedua belah pihak punya niat yang sama.

"Jika (konon katanya) semangatnya saja sama 'untuk masa depan sepakbola Indonesia yang lebih baik', terus mengapa sulit sekali?" kicau pemain yang akrab disapa Bepe tersebut.

Lain lagi dengan bek Sriwijaya FC, Wildansyah. Dia berharap, kisruh ini segera berakhir dengan hasil yang lebih baik.

"Akankah lebih baik atau sebaliknya? Saya hanya selalu berdoa semoga sepakbola Indonesia semakin maju & lebih baik. Aamiin.." ujar eks pemain Persib Bandung tersebut.

Hal senada juga dilontarkan kiper Persib Bandung, Shahar Ginanjar. "Pihak Menpora dan BOPI sebenarnya ingin membantu pemain, tapi sangat disayangkan waktunya tidak tepat," tulisnya di twitter.

"Bila liga dibekukan juga, pihak sponsor pada setiap klub akan menarik kembali sponsor dan pemain bola pun akan beralih profesinya. Kita sebagai pemain was-was bila seperti ini, kita kerja di sepakbola belum tentu bisa kerja di bidang lain secara instan," tulis Shahar.

Bukan hanya mengorbankan para pemain dan klub-klub yang ada, secara tidak langsung, kisruh ini juga turut mengusik para suporter yang terancam tidak bisa melihat klub kesayangannya berlaga.

Ketua Umum The Jakmania, Richard Achmad, pun berharap suporter tidak menjadi korban dari kisruh persepakbolaan Indonesia. Dia juga berharap agar Menpora bisa memberikan solusi atau jalan keluar dari kisruh ini.

“Jakmania berharap kejadian ini tidak menjadikan suporter sebagai korban maupun saling berhadapan. Menpora dan stafnya hanya bisa membekukan PSSI tanpa memberi solusi atau exit plan,” kata Richard, seperti dikutip dari @jakmaniaontweet.

"Sebaiknya Presiden turun tangan untuk memperbaiki persepakbolaan serta mengevaluasi kinerja Menteri Pemuda dan Olahraga. Seharusnya Tim 9 bukan hanya berperan mendampingi menteri, tapi juga menggali persoalan persepakbolaan nasional, termasuk mengenai manajemennya,” tuturnya.