Sepakbola Indonesia Berduka
- ANTARA/Hafidz Mubarak A.
Sebagai simbol terhadap duka sepakbola Indonesia, Aremania juga sempat mengibarkan bendera setengah tiang.
Suporter Persipura Jayapura melakukan aksi damai terkait kisruh Kemenpora-PSSI di Bundaran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Jumat (5/6/2015). Foto: ANTARA/Andreas Fitri Atmoko
Asal Mula Sanksi FIFA
Sanksi FIFA bermula dari kisruh yang melibatkan PSSI dan Kemenpora. Ini bermula saat Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) yang berada di bawah Kemenpora tidak menerbitkan rekomendasi bagi dua tim asal Jawa Timur, Persebaya Surabaya dan Arema Cronus untuk tampil di QNB League 2015 dengan alasan masih mengalami dualisme kepemilikan.
Namun, PSSI melalui PT Liga Indonesia tetap mengikutsertakan kedua klub tersebut. Menpora berang serta menerbitkan tiga surat peringatan dalam waktu singkat dan berujung kepada pembekuan PSSI.
Surat itu dikirimkan sehari sebelum Kongres PSSI yang digelar di Surabaya. Lewat kongres tersebut, La Nyalla Mattalitti terpilih secara aklamasi sebagai ketua umum PSSI.
PSSI sudah berusaha menemui Menpora Imam Nahrawi untuk membicarakan hal ini. Namun, tiga kali upaya La Nyalla cs menemui politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu selalu gagal.
Tindakan menpora sampai ke telinga FIFA. Lewat suratnya kepada PSSI tanggal 4 Mei, FIFA mengultimatum agar menpora menghentikan intervensinya terhadap PSSI paling lambat 29 Mei. Bila tidak diindahkan, Indonesia akan dijatuhi sanksi sesuai statuta FIFA pasal 13 dan 17.
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bahkan sampai ikut turun tangan. Namun, harapan baru muncul saat Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, memanggil Menpora Imam Nahrawi, ke kantornya, 25 Mei lalu. Hadir juga Wakil Ketua PSSI, Hinca Panjaitan, dan mantan ketua Komite Normalisasi, Agum Gumelar, serta Ketua KOI, Rita Subowo.
Usai pertemuan, JK mengatakan, PSSI harus segera diaktifkan kembali agar sepakbola Indonesia kembali normal. Karena itu, katanya, menpora telah sepakat mencabut SK pembekuan PSSI secepatnya.
Namun, harapan itu kembali pupus setelah menpora bertemu Presiden RI, Joko Widodo. Dengan restu Jokowi, menpora kian percaya diri melanjutkan pembekuan PSSI yang berujung sanksi FIFA.
Belakangan, permasalahan Arema dan Persebaya sudah dilupakan. Fokus menpora justru kepada tata kelola sepakbola yang, menurut dia, perlu direformasi total. Bahkan, menpora sempat menyatakan siap bertanggung jawab seandainya Indonesia mendapat sanksi dari FIFA.