Amuk El Nino

El Nino muncul lagi tahun ini
Sumber :
  • NASA

Oleh karena itu, sepanjang sejarah, kami baru bisa menentukan adanya dua El Nino paling dahsyat yang pernah terjadi di dunia. "Satu fenomena di 1982-1983 dan satu lagi di 1997-1998,” lanjut Goldenberg.

Dijelaskan Goldenberg, saat fenomena El Nino di 1982-1983, wilayah Ekuador dan Timur Peru ditempa hujan deras terus menerus. Hujan berkelanjutan memacu pertumbuhan tanaman dan menarik kawanan belalang. Populasi katak dan burung pun melonjak.

Suhu lembab dan basah menyebabkan nyamuk tumbuh subur dan jentik menyebarkan malaria. Lalu pd 1997-1998, El Nino kembali menyebabkan bencana, khususnya kekeringan, yang melanda banyak negara, khususnya Indonesia dengan suhu udara yang sangat tinggi.

Sama seperti NOAA, BMKG juga mengakui El Nino yang berkunjung di tahun 1997-1998 merupakan yang terburuk sepanjang sejarah Indonesia. Saat itu area yang terkena dampak mencapai 11,6 juta hektar dengan total kerugian USD2,75 miliar.

El Nino yang tidak diundang dan kerap datang sekitar 5 sampai 7 tahun sekali, di tahun itu menyebabkan kebakaran lahan gambut sekitar 1,45 juta hektar dan menyumbang 2,5 gigaton emisi CO2.

“Paling parah memang tahun 1997. Apalagi saat itu pengetahuan kita soal El Nino juga masih kurang. Tahun ini El Nino dalam level moderat tapi diprediksi menguat hingga akhir tahun. Kita harus bersiap dengan dampak terburuknya, seperti kekeringan dan berkurangnya cadangan air,” ucap Ardhasena.

BMKG mengakui El Nino di tahun 1997-1998 merupakan yang terburuk sepanjang sejarah Indonesia. Foto:  ANTARA/Sigid Kurniawan

Bukan Penyebab Tunggal

BNPB menganggap El Nino bukanlah penyebab tunggal bencana kekeringan. Selain populasi penduduk meningkat, daerah aliran sungai (DAS) yang rusak, berkurangnya daerah resapan air, dan pencemaran lingkungan.

“Sebenarnya, El Nino ini hanya memperparah saja. Kalau bicara soal kekeringan yang berdampak pada pemenuhan kebutuhan rumah tangga dan kekeringan lahan pertanian , penyebabnya itu komplek sekali.

Selain kerusakan lingkungan, kerusakan daerah aliran sungai (DAS), pencemaran lingkungan, hal lainnya karena kebutuhan air meningkat namun ketersediaan air berkurang atau relatif tetap. Jadi gak imbang antara supply and demand,” ujar Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB.

BMKG juga meyakini jika El Nino bukanlah penyebab satu-satunya kekeringan di Indonesia. Hanya saja, fenomena ini adalah yang paling dominan, selain letak geografis Indonesia yang dekat dengan laut, alam yang sudah rusak, serta udara yang semakin tercemar.