Amuk El Nino

El Nino muncul lagi tahun ini
Sumber :
  • NASA

Menurut pihak BMKG, jika wilayah Indonesia dingin tentu saja akan menyebabkan kemarau dan potensi kekeringan yang lebih tinggi karena tidak ada uap air untuk pasokan hujan.

“Jadi, wilayah pulau Jawa bagian tengah ke arah timur, kemaraunya lebih panjang.  Suhu muka laut Sulawesi Tenggara, Ambon, Papua bagian selatan lebih dominan pengaruhnya. Sedangkan Kalimantan cukup hangat," ujar Kukuh Ribudiyanto, Kepala Bidang Peringatan Dini Cuaca, BMKG.

Sumatera, Kalimanta Utara, tidak berpengaruh karena daerah ekuator. Agustus adalah puncak kemarau. "Normalnya hanya sampai Oktober namun sekarang mundur sampai November,” lanjut dia.

Menurut Kukuh, selain Indonesia, negara lain yang terkena dampak buruk El Nino berupa kemarau panjang atau kekurangan air, adalah negara Asia dan sekitarnya, seperti Australia dan Filipina. Sedangkan di benua seberang seperti Amerika, dampak cuaca ekstrim bisa berbentuk hujan lebat sampai banjir. 

Oleh karena hal ini sudah masuk dalam ketentuan alam, BMKG sendiri tidak bisa merekayasa cuaca untuk menghindari El Nino. “Paling hanya menggunakan teknik modifikasi cuaca, mempercepat hujan di wilayah yang berawan,” kata Kukuh.

Namun langkah itu diakui memang cukup memakan biaya. BNPB pun menyarankan pemerintah untuk mengantisipasi hal ini selama masih ada waktu.

Setidaknya, dampak buruk kekeringan tidak meningkat setiap El Nino menghantam Indonesia. Untuk hal ini yang harus dilakukan adalah kerja sama dari berbagai instansi, seperti Dinas Pekerjaan Umum maupun Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

“Benahi dulu sektor hulunya. BNPB dalam hal ini hanya menangani jangka pendek saja. Untuk jangka panjang, PU bisa melakukan manajemen sumber daya air dari sekarang.

Atau Kemenhut dan LH bisa menangani terkait kondisi alam, kehutanan dan lingkungan hidup. Kementerian Pertanian juga bisa membantu, atau tata ruang perijinan yang ditangani pemerintah daerah harus diperketat,” ujar Sutopo.

Sampai Awal 2016

NOAA memperkirakan El Nino, yang sudah berlangsung sejak Zaman Es (10.000 tahun lalu),  bisa berlangsung cukup lama, mulai pertengahan 2015 sampai Februari-Mei 2016. Sedangkan BNPB melihat adanya periode yang berbeda di tiap wilayah Indonesia yang mengalami kekeringan.

“Ada yang mulai sejak April kemarin, ada juga yang bulan Mei. Untuk wilayah Indonesia, ada berbagai macam karena kita memiliki 3 tipe hujan. Seperti Maluku dan perairan yang puncak hujannya bulan juli, otomatis  kekeringan berbeda dengan wilayah di Jawa. Sebagian besar kita memiliki tipe hujan yang puncak normalnya di September – Oktober,” ujar Sutopo.

Dalam pantauan BMKG, Musim Kemarau memang sudah terjadi sejak bulan Maret dan April di sebagian besar wilayah Indonesia khususnya di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.