Kala Kekeringan Meradang

Kekeringan di Jawa Tengah
Kekeringan di Jawa Tengah
Sumber :
  • ANTARA/Aditya Pradana Putra

VIVA.co.id - Puluhan orang tampak berendam dalam kubangan sungai di Desa Mapeganda, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pria dan wanita beragam usia ini mandi di kubangan yang sama.

Mereka tak terlihat jijik dan canggung, meski air kubangan tersebut keruh karena bercampur lumpur dan kotoran hewan. Tak jauh dari mereka, kawanan hewan ternak melakukan hal yang sama.

Puluhan kerbau dan sapi milik warga tersebut ikut mandi dan berendam di kubangan yang sama.

Mapeganda merupakan salah satu desa di NTT yang mengalami kekeringan. Warga terpaksa mandi di kubangan, berbagi tempat dengan hewan piaraan mereka. Mereka tak hanya memanfaatkan air kubangan untuk mandi, namun juga untuk masak dan mencuci.

Sumur yang mereka miliki sudah kering kerontang sejak sebulan lalu. Satu-satunya sumber air yang bisa dimanfaatkan warga hanya dari kubangan di sungai yang melintasi desa yang berada di pantai utara Sikka ini.

"Hanya di tempat ini yang masih ada airnya. Dan kami harus berbagi dengan ternak," kata Marsiadi, salah seorang warga yang ditemui VIVA.co.id, beberapa waktu lalu.

Di tempat berbeda, ratusan orang terlihat hilir mudik ke luar masuk hutan. Mereka adalah warga  dari Desa Cemara, Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah.

Meski terpaut jauh dari Sikka, nasib mereka hampir sama, yakni mengalami krisis air akibat kemarau panjang yang mendera. Akibatnya, mereka rela antre di sendang yang terletak di tengah hutan demi mendapatkan air bersih.

Tiap hari, ratusan orang antre di Sendang Cemara ini. Sumber air bersih yang diburu warga ini adalah sebuah mata air kecil di bawah pohon besar.

Sendang yang berdiameter tujuh meter ini ramai dikunjungi warga sejak tiga bulan terakhir, meski letaknya jauh dari permukiman warga.

Tak hanya jauh, jalan menuju ke sana juga terjal, sempit, dan curam. Meski jauh dan sulit, warga tetap berbondong-bondong menuju sendang ini, demi mendapatkan air.

Desa Cemara merupakan salah satu wilayah yang mengalami kekeringan terparah di wilayah Semarang. Warga terpaksa mengambil air di sendang. Sebab jika tidak, mereka harus merogoh kocek lumayan dalam untuk membeli minimal empat jeriken sehari seharga Rp10 ribu.

"Kalau beli yang tangki besar kami harus membayar Rp170 ribu per tangki. Karena mahal, kami mending relakan tenaga untuk mandi dan mencuci di sendang," ujar Eko Wartono (37), salah satu warga kepada VIVA.co.id, Rabu, 5 Agustus 2015.

Namun, warga tetap cemas, air sendang yang menjadi tumpuan mereka semakin lama akan semakin habis, seiring kemarau panjang. Sementara itu, mereka tak punya uang untuk membeli air bersih guna memenuhi kebutuhan.

Tak hanya di Semarang. Antrean panjang juga terjadi di Lapangan Gelaran, Kecamatan Paranggupito, Wonogiri, Jawa Tengah. Puluhan warga berdiri memanjang dengan jeriken dan ember di tangan.

Kekeringan di Wonogiri
Puluhan warga berdiri memanjang dengan jeriken dan ember di tangan. Foto: VIVA.co.id/Fajar Sodiq


Hari itu, ada jadwal bantuan air bersih. Mereka datang berbondong-bondong untuk bisa mendapatkan air bersih. Sebab, selama musim kemarau, mereka hanya mengandalkan kebutuhan air bersih dari dropping tangki.

Di daerah ini tak ada sumber mata air. Selama ini, warga mengandalkan air bersih dari bak penampungan air tadah hujan.

Salah seorang warga, Ngatmin, mengatakan, sejak musim kemarau melanda, dia harus membeli air bersih. Air itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti memasak, minum, mandi, cuci dan keperluan lain.

"Sejak dua bulan lalu saya sudah mulai membeli air bersih dari tangki. Satu-satunya sumber air, ya, dari membeli tangki itu," ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 5 Agustus 2015.

Untuk bisa memenuhi kebutuhan air sehari-hari, Ngatmin terpaksa menjual hewan ternaknya berupa seekor kambing. Hasil penjualan kambing tersebut bisa untuk membeli 4-6 tangki air bersih.

"Dengan uang hasil penjualan kambing itu sudah saya gunakan untuk membeli 4 tangki air bersih. Setiap tangki harganya sekitar Rp150 ribu," dia menambahkan.

Ngatmin terpaksa menjual hewan ternaknya, karena sudah tak memiliki uang lagi guna membeli air. Karena, hasil uang dari lahan pertaniannya sudah habis untuk membeli air saat awal musim kemarau melanda dua bulan lalu.

"Sekarang mau menjual hasil pertanian juga sudah tidak ada yang bisa dijual. Punyanya hewan ternak, ya, dijual saja untuk membeli air,” tuturnya.

Kebiasaan warga menjual hewan ternak untuk mencukupi kebutuhan air bersih diamini Camat Paranggupito, Haryanto. Menurut dia, setiap kali musim kemarau datang, warga beramai-ramai menjual hewan ternaknya untuk membeli kebutuhan air bersih.

"Satu-satunya jalan, ya, dengan membeli tangki air bersih karena untuk mengambil air bersih dari telaga jelas tidak memungkinkan. Telaga di wilayah sini airnya hasil dari tadah hujan. Kalaupun masih ada, airnya pasti sudah keruh dan kotor," ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 5 Agustus 2015.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto, mengatakan, di Kabupaten Wonogiri ada 8 kecamatan yang mengalami kekeringan. Kecamatan itu adalah Paranggupito, Selogiri, Manyaran, Eromoki, Nguntoronadi, Giriwoyo, Giritontro, dan Pracimantoro.

"Dari 8 kecamatan itu ada sekitar 38 desa yang daerahnya mengalami kekeringan,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 5 Agustus 2015.

Berdasarkan data BPBD Wonogiri, jumlah warga yang mengalami kekeringan mencapai 67.320 jiwa dari 18.169 kepala kerja (KK). Untuk memenuhi kebutuhan air, warga mengandalkan pasokan tangki air bersih.

"Warga hanya bisa menggantungkan kebutuhan air bersih dari dropping tangki," ujarnya.

Untuk itu, BPBD Wonogiri telah melakukan kegiatan bantuan dropping air di daerah yang dilanda kekeringan tersebut. Jumlah tangki air bersih yang sudah didistribusikan mencapai 264 tangki.

"Tangki tersebut mendistribusikan air bersih di sejumlah bak penampungan air milik warga,” ujarnya.

Kekeringan di Wonogiri

BPBD Wonogiri telah melakukan kegiatan bantuan dropping air di daerah yang dilanda kekeringan. Foto: VIVA.co.id/Fajar Sodiq



Kekeringan Panjang
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, musim kemarau sudah terjadi sejak Maret dan April. Kekeringan terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia khususnya di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) dari BMKG menunjukkan, sejumlah wilayah di Jawa, Bali, NTB, dan NTT telah mengalami HTH lebih dari 60 hari. Dengan kata lain telah mengalami kekeringan ekstrem.

Kepala Sub Bidang Analisis dan Informasi Iklim BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan, kemarau diperkirakan berlangsung hingga akhir Oktober 2015. Menurut dia, fenomena El Nino menyebabkan kemarau tahun ini lebih panjang dari biasanya.

“Daerah-daerah di Indonesia yang berpotensi terkena dampak El Nino adalah Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan,” ujarnya kepada VIVA.co.id saat ditemui di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis, 6 Agustus 2015.

Selain BMKG, beberapa badan pemantauan serupa milik negara lain juga memprediksi El Nino akan terus menguat. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dari Amerika Serikat memperkirakan, tren El Nino semakin menguat pada September-Desember.

Menurut dia, Indonesia harus siap dengan dampak terburuk dari El Nino ini seperti kekeringan dan berkurangnya cadangan air. “Dalam jangka panjang kita harus punya kesiapsiagaan. Untuk musim kemarau selanjutnya, harus ada upaya untuk menyimpan air seperti membangun waduk dan sejenisnya,” katanya.

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menyatakan, berdasarkan ramalan, musim kemarau tahun ini akan lebih panjang dari sebelumnya. Manajer Penanganan Bencana Walhi Indonesia, Mukri Friatna, mengatakan, dibanding 2013 dan 2014, tingkat kekeringan sekarang ini jauh lebih parah.

Pertama, durasinya jauh lebih panjang. Selain itu, dampak dari kekeringan ini juga akan lebih parah terhadap sektor pertanian.

Halaman Selanjutnya
img_title