Mengubur 'Teluk Suci'

Sejumlah pengunjuk rasa menggelar aksi tolak reklamasi Teluk Benoa di perairan Pantai Lebih, Gianyar, Kamis (10/3).
Sumber :
  • ANTARA/Wira Suryantala

Selanjutnya...Siapa Untung


Siapa Untung?

Lantas, bagaimana sesungguhnya reklamasi Teluk Benoa yang digagas oleh PT. Tirta Wahana Bali Internasional? Mengutip dari laman resmi mereka, proyek ini dinamakan dengan revitalisasi Teluk Benoa atau Nusa Benoa.

Nantinya, kawasan perairan Teluk Benoa sebagian besar akan diperuntukkan untuk area residensial atau perumahan. Rencananya kawasan yang akan dikelola seluas 638 hektare atau seluas 52,1 persen dari total perairan Benoa.

Seluas 332,9 hektare akan dimanfaatkan untuk perumahan. 127,5 hektare untuk taman kota, 48,8 hektare untuk infrastruktur, 44,4 hektare untuk komersial, 26,6 hektare untuk vila dan hotel, 35,2 hektare untuk taman rekreasi dan sisanya 22,6 hektare untuk fasilitas umum.

Perusahaan ini mengklaim akan bisa menyerap 210.806 tenaga kerja dan sebanyak 75 persennya masyarakat lokal akan diperkerjakan bila reklamasi ini berjalan.

"Kami ingin jadikan ini (Teluk Benoa) pulau budaya, komitmennya tegakkan filsafat Tri Hita Karana," ujar Komisaris PT TWBI Marvin Lieano dalam presentasi AMDAL Januari silam.

Lalu apakah ini tidak menarik? Sepenuhnya memang harus dikaji lebih dalam. Konsep kearifan masyarakat Bali soal air sebagaimana tertuang dalam Kitab hukum Hindu Bali, Manawa Dharmasastra, tak bisa diabaikan begitu saja.

Sebab Bali selain menjadi ikon untuk wisata alam, sektor budaya dan adat istiadat mereka justru yang paling memiliki nilai jual di mata wisatawan.

Apa pun itu, di sisi lain, Gus Adhi, nelayan yang sudah 20 tahun mencari ikan di kawasan perairan Teluk Benoa mengeluh. Sebabnya, pendangkalan telah membuat para nelayan kesulitan.

"Dulu, kami tak perlu mencari ikan ke tengah laut. Cukup di bibir pantai tangkapan sudah lumayan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Paling di saat situasi tertentu terjadi air pasang baru ada ikannya," kata Adhi.

Begitu pun dengan Arik. Pemburu ikan dan kepiting bakau ini sudah semakin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hariannya. "Dulu di pinggir pantai saja anak-anak bisa menangkap kepiting atau hewan laut lainnya. Sekarang jangan ditanya, sulit sekali.  Dapat 10 atau 20 kilogram saja itu sudah lumayan," ujar dia. (ren)