Fesyen Muslim Menuju Kiblat

Konferensi pers Muslim Fashion Festival di Jakarta
Sumber :
  • VIVA.co.id/Lynda Hasibuan

VIVA.co.id – Kamis 19 Mei 2016. Hari baru beranjak siang saat ruang auditorium Kementerian Perdagangan mulai dipenuhi tamu undangan, pengusaha dan pejabat pemerintah. Sebagian memenuhi empat sofa berwarna putih susu. Sebagian lagi duduk di kursi yang berjajar rapi di seberang sofa.

Tuan rumah, Tjahya Widayanti yang menjabat Plt Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, menyambut ramah tamu-tamunya. Ia juga menyempatkan diri menyampaikan sepatah dua patah kata sambutan, disusul Deputi Bidang Pemasaran Badan Ekonomi Kreatif Joshua Simanjuntak.
 
Suasana lalu hening sejenak sebelum musik berirama beat menghentak, mengiringi wanita-wanita cantik semampai yang dengan gaya elegan memperagakan busana muslim besutan sejumlah desainer.

Bukan tanpa sebab peragaan busana yang biasa digelar di hotel berbintang “pindah” tempat ke gedung di Jalan Ridwan Rais itu. Kementerian Perdagangan memang berencana menghelat Muslim Fashion Festival Indonesia 2016 pada 25-29 Mei. Ajang ini sekaligus menunjukkan keseriusan pemerintah menjadikan Indonesia sebagai kiblat fesyen muslim dunia.

Keseriusan pemerintah ini tidak terlepas dari perkembangan industri busana muslim dan hijab Indonesia yang kian populer dan digemari di pasar domestik dan luar negeri.

Bangkitnya fesyen muslim Tanah Air tentu tidak luput dari peran desainer baju-baju muslim. Salah satunya, Dian Wahyu Utami. Jika masih mengerutkan dahi mendengar nama ini, maka nama Dian Pelangi mungkin lebih akrab di telinga, karena desainer berusia 25 tahun tersebut dikenal sesuai label busananya.

Bangkitnya fesyen muslim Tanah Air tentu tidak luput dari peran desainer baju-baju muslim. FOTO: VIVA.co.id/Linda Hasibuan

Dian menjadi sorotan setelah ikut berpartisipasi dalam peragaan busana muslim di Jakarta Fashion Week pada 2010. Rancangannya yang stylish dan penuh warna bagai oase di industri busana muslim Tanah Air, sehingga langsung dicintai kalangan muda yang tidak hanya ingin busananya sekadar menutup aurat, tetapi juga modis.

Lima tahun setelah kiprahnya di ajang fesyen tersebut, nama desainer jebolan ESMOD Jakarta itu ditasbihkan majalah Business of Fashion sebagai salah satu desainer paling berpengaruh di Bumi. Dian menjadi satu-satunya warga Indonesia, desainer termuda dan berhijab yang disandingkan dengan nama desainer besar dunia, seperti Donatella Versace dan Christian Louboutin.
 
Selain Dian, nama lain yang mulai diperhitungkan karyanya adalah Zaskia Sungkar, Jenahara, dan Restu Anggraini. Dalam gelaran fesyen di Tanah Air, koleksi yang mereka tampilkan memiliki “DNA” masing-masing, yang membedakan dengan karya lainnya.

Tentu masih lekat dalam ingatan soal kiprah mereka pada 19-23 Februari 2016 lalu. Keempat desainer ini plus Vivi Zubedi mendapat kesempatan pamer koleksi di London Fashion Week 2016. Mereka mengusung tema Modest Cosmopolitan mewakili elemen api, air, udara dan cahaya. Sedangkan Vivi hadir sebagai representatif tenant dari Hijup.com.

Dan, berkat bakatnya di dunia rancang pakaian, Dian Pelangi dan Zaskia Sungkar yang baru tiga tahun menekuni profesi anyarnya menjadi soroton media asing.
 
Sementara itu, pada tahun sebelumnya di ajang fesyen yang tak kalah bergengsi, New York Fashion Week, Dian Pelangi, Zaskia Sungkar dan Barli Asmara mendapat kesempatan menonjolkan koleksi fesyen hijab dengan menggunakan kain tenun Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kala itu karya mereka  memukau ratusan tamu undangan di The Crown Plaza Times Square, Manhattan, New York.

Demi mengakomodasi kebutuhan para penggemarnya nun jauh di negeri Paman Sam, Zaskia dan sejumlah desainer lain lalu membuka butik Indonesia Fashion Gallery di pusat perbelanjaan bergengsi Soho, New York.

Tak hanya Dian Pelangi dan kawan-kawan saja yang berkiprah di mancanegara, salah satu produsen busana muslim pertama dan terbesar Tanah Air, Shafira, berkontribusi dengan menggelar pameran di Kristallwelten Swarovski (Museum Kristal Swarovski), Austria.

Ada lima koleksi yang dipamerkan dalam ajang bertema Twenties Metropolis pada Rabu 18 Mei 2016 itu. Kelima koleksi yang sempat ditampilkan dalam ajang Indonesia Fashion Week 2016 ini dirancang dengan nuansa warna merah muda. Rancangan menggunakan material songket Silungkang khas Sumatera Barat dihiasi taburan kristal Swarovski.

Produsen busana muslim pertama dan terbesar Tanah Air, Shafira, berkontribusi dengan menggelar pameran di Kristallwelten Swarovski (Museum Kristal Swarovski), Austria. FOTO: VIVA.co.id/Linda Hasibuan

Tak cuma perancang lokal, pesona fesyen muslim ikut menyedot perhatian desainer dunia sekaliber Oscar de la Renta, Dolce & Gabbana, hingga peritel ternama Uniqlo dan Zara. Rumah-rumah mode dan peritel yang biasanya menjual pakaian berbahan tipis dan minim ini ikut-ikutan memproduksi busana muslim dan hijab. Mereka mulai sadar fesyen muslim bisa menjadi komoditas potensial dan menguntungkan.

Tumbuh suburnya fesyen muslim, menurut Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Ari Satria, itu tidak terlepas dari kesadaran masyarakat, khususnya wanita muslim di Tanah Air menjalankan syariat. "Kita punya basis sumber daya. Ini yang menjadi kekuatan kita," kata dia kepada VIVA.co.id, Kamis 19 Mei 2016.

Ari tak menepis menggeliatnya industri fesyen muslim tidak terlepas dari peran desainer dan pencinta mode yang membangun citra positif di kancah domestik dan global. Juga industri lokal yang membangun pasar di Tanah Air, baik offline maupun online. Karenanya kini pemerintah tak sungkan-sungkan memberi pendanaan, dan promosi melalui gelaran fesyen agar ambisi menjadikan Indonesia kiblat fesyen muslim tidak hanya sekadar mimpi.

Selanjutnya...Menjadi Kiblat

Menjadi Kiblat

Soal menjadi kiblat fesyen muslim, Dian Rahmawati, pemilik lini fesyen muslim berlabel Her Saturday, menegaskan, bukan hal mustahil. Ia merujuk banyaknya hijaber-hijaber yang diundang ke berbagai event di luar negeri. Tak hanya itu, ia juga melihat gaya berbusana dan hijab Indonesia kini banyak ditiru muslim di banyak negara karena lebih inovatif, modis, dan modern.

Nadya Karina pemilik lini produk Kami Idea menguatkan analisis Dian. Dari pengalamannya, banyak muslimah di luar negeri yang mencari produk asal Indonesia. "Mereka bahkan menawarkan membawa brand original Indonesia ke negaranya," kata Nadya.

Mengusung Hijup.com, Vivi Zubedi mencatat data penjualan online label busana muslimnya, banyak yang berasal dari negara lain di kawasan Asia, Eropa, Uni Emirat Arab hingga Afrika Selatan. Menurut dia, fesyen muslim di Indonesia jauh lebih berkembang, variatif, modis dan berani dibanding negara lain, seperti Eropa dan Timur Tengah. Bahkan Amerika.

"Karena itu, jika dikatakan Indonesia menjadi kiblat hijab dunia, saya rasa sah-sah saja," ujarnya.

Untuk “menguasai” dunia, Dian Rahmawati menuntut peran pemerintah yang lebih besar lagi dari sekadar promosi di mancanegara. Kata dia, dibutuhkan pelatihan bagi pebisnis pemula di industri ini.
    
Sementara itu, Nadya menambahkan, langkah lain yang bisa dilakukan, di antaranya bersama-sama mencari oportunitas untuk memperluas pasar internasional, memberi fasilitas dan kemudahan ekspor impor, serta meningkatkan akses informasi.

Di luar itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati berpendapat, diperlukan perangkat regulasi yang jelas dari pemangku kepentingan (stakeholder) terkait sinergitas antar stakeholder, dan kemudahan pembiayaan.

Peran pemerintah yang lebih besar tak sekadar promosi di mancanegara. Dibutuhkan pelatihan bagi pebisnis pemula di industri ini. FOTO: REUTERS/Murad Seze

Pemerintah juga perlu memberikan edukasi dan sosialisasi informasi kepada stakeholder pendukung, seperti perbankan, sehingga memiliki daya dukung dari para pemangku kepentingan terkait. "Intinya, tetap harus ada kepastian perlindungan bagi para pelaku industri dan regulasi yang jelas dari pemerintah," katanya.

Selanjutnya...Perputaran Uang Tinggi

Perputaran Uang Tinggi

Meningkatkan peran dan kapasitas stakeholder untuk memperkuat industri kreatif seperti busana muslim dinilai penting mengingat perputaran uang dalam industri ini sangat menggiurkan.

Berdasarkan data Thomson Reuters dalam State of the Global Islamic Economy 2015, Indonesia menempati posisi kelima sebagai negara konsumen busana muslim terbesar di dunia dengan nilai US$12,69 miliar. Sedangkan di urutan pertama Turki dengan nilai US$24,84 miliar, diikuti Uni Emirat Arab sebesar US$18,24 miliar, Nigeria US$14,99 miliar, dan Arab Saudi sebesar US$14,73 miliar.

Sementara itu, kinerja ekspor busana muslim pun semakin menggembirakan. Plt Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Tjahya Widayanti, mengungkapkan, sepanjang tahun lalu angkanya menembus US$4,63 miliar atau tumbuh 2,3 persen dibanding tahun 2014. Sedangkan posisi Januari 2016 terjadi kenaikan 2,13 persen (US$7,8 juta, setara Rp104 miliar) dibandingkan periode yang sama tahun 2015.

Adapun negara-negara yang menjadi tujuan ekspor produk fesyen muslim Indonesia, antara lain Amerika, Jepang, Jerman, Korea, Inggris, Australia, Kanada, Uni Emirat Arab, Belgia, dan China.

Di pasar lokal, Dian Rahmawati, pemilik Her Saturday memperkirakan jumlah uang yang  berputar di bisnis busana muslim, khususnya hijab, bisa menembus Rp10 miliar per hari. Peluang angka itu menggelembung pun masih ada lantaran bisnis fesyen muslim memiliki prospek yang bagus ke depannya. Sebab berhijab kini tidak hanya dianggap sebagai kewajiban, namun juga tren tampil modis tanpa meninggalkan syiar Islam.

"Lagipula dengan prospek yang cerah, banyak desainer dan wirausaha beralih ke bisnis ini. Modal yang tidak begitu besar, namun dengan prospek yang menjanjikan membuat hijab sebagai bisnis pilihan," katanya

Tak jauh berbeda diungkapkan pedagang hijab online dan offline, Wulan. Mengintip peluangnya yang bagus lantaran hampir semua wanita muslim saat ini mengenakan hijab, mulai orangtua, wanita muda, remaja hingga anak-anak membuatnya tertarik menceburkan diri di bisnis syar’i.

Awalnya ia hanya coba-coba. Dengan modal Rp4 juta, tiga tahun kemudian omzetnya menggelembung. "Omzet bisa turun naik, namun untuk garis besar sekitar Rp20-30 juta per bulan," ungkapnya kepada VIVA.co.id.

Bisnis ini sepertinya tak akan padam jika fesyen muslim terus bertransformasi sesuai perkembangan zaman, kebutuhan dan menawarkan keindahan serta kenyamanan.

Andai industri dan bisnis ini terus dipecut dan partisipasi pemerintah dijadikan harga mati, maka produk fesyen muslim Indonesia akan menginvasi dunia dan label fesyen muslim dunia sepertinya laik disematkan ke Indonesia. Bahkan, tak mustahil perputaran uang akan semakin tinggi, sehingga meningkatkan pertumbuhan ekonomi negeri. (umi)