Kembalinya Kegembiraan Masa Kecil

Sejumlah murid sekolah dasar memainkan permainan anak tradisional Maluku, Toki Gaba-gaba, di arena Pameran Hari Pers Nasional (HPN) dan Maluku Expo 2017, Lapangan Merdeka, Ambon, Maluku
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Embong Salampessy

“Saya sengaja datang ke sini. Kebetulan ini hari terakhir (pameran). Hitung-hitung bernostalgia dengan permainan masa kecil dulu,” kata Triwiyanti (38 tahun) kepada VIVA.co.id.

Saat itu, ia tengah memainkan congklak. Sambil meraup beberapa biji congklak, Triwiyanti mengisi lubang-lubang kosong di papan congklak di hadapannya. 
 
Perempuan yang tinggal di bilangan Tebet, Jakarta Selatan itu mengaku bahwa permainan tradisional anak-anak seperti congklak, gasing, hingga lompat karet, langka ditemukan saat ini. 

Semakin pesatnya teknologi, disinyalir berdampak pada munculnya permainan-permainan anak yang lebih modern.
 
“Ini asyik kok, tidak membosankan lah memainkannya. Bisa mengenang masa lalu," tuturnya. 

Di masa kecilnya, ia memainkan permainan congklak itu dengan teman-teman sebaya. Namun, sekarang, anak-anak sudah jarang yang memainkan permainan itu. (VIVA.co.id/M Ali Wafa)

Menurut dia, permainan tradisional lebih alami. Dapat dimainkan dengan riang dan mampu mengasah kreativitas anak. "Lebih have fun daripada main di gadget,” kata perempuan yang akrab disapa Yanti itu.
 
Hanya saja, ia tetap menyayangkan minimnya antusiasme masyarakat yang datang mengunjungi Pameran dan Gelaran Dolanan Nusantara itu. Di saat maraknya serbuan permainan anak yang jauh lebih modern seperti games online hingga playstation

Meskipun, menurut salah satu relawan pameran itu, Sintia Ramadani, sejak hari pertama dibuka hingga sepekan kemudian, jumlah pengunjung sudah lebih dari 250 orang. Jumlah itu di luar pengunjung yang berasal dari sekolah-sekolah yang berada di sekitar Jabodetabek. 

Menurut dia, selama digelarnya pameran permainan tradisional anak itu, tidak kurang dari delapan sekolah sudah datang membawa siswa-siswanya yang rata-rata memiliki usia 3-12 tahun.
 
“Kalau antusias pengunjung itu sudah termasuk lumayan ramai lah Mas, ada orang tua membawa anak-anaknya. Anak-anak senang bermain dengan permainan tradisional yang ada di sini,” kata Sintia kepada VIVA.co.id, Selasa 28 Februari 2017.

Selanjutnya, mulai terlupakan

Mulai Terlupakan
 
Bukan tanpa alasan, pameran dan gelaran dolanan nusantara itu digelar. Era teknologi modern cenderung memicu anak untuk memainkan permainan yang serba praktis.

Kondisi yang akan membuat ribuan permainan tradisional makin terpinggirkan. Kenangan permainan di masa kecil bagi orangtua itu, dikhawatirkan juga tergerus karena minimnya ruang terbuka untuk bermain.