Kembalinya Kegembiraan Masa Kecil

Sejumlah murid sekolah dasar memainkan permainan anak tradisional Maluku, Toki Gaba-gaba, di arena Pameran Hari Pers Nasional (HPN) dan Maluku Expo 2017, Lapangan Merdeka, Ambon, Maluku
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Embong Salampessy

Panitia penyelenggara pameran itu, Endi Aras, mengatakan, permainan tradisional anak saat ini memasuki masa-masa kritis. Permainan modern kini banyak menjadi pilihan atau sarana bermain anak-anak. 

Selain itu, Endi melanjutkan, salah satu pemicu permainan tradisional anak mulai jarang ditemukan adalah karena minimnya ruang atau tempat bermain anak. 

Pesatnya pembangunan gedung-gedung pencakar langit hingga rumah-rumah mewah, menurut Endi, telah menutup alam yang sebelumnya sangat mendukung anak-anak untuk berkreativitas menciptakan permainan tradisional, termasuk memainkannya. 
 
“Sekarang itu kita ingin main gobak sodor atau bentik itu sudah susah, tidak ada tempatnya," kata Endi yang juga pemerhati permainan tradisional anak itu kepada VIVA.co.id

"Kalau dulu kita ingin main tembak-tembakan itu sangat mudah, tinggal mencari batang pohon pisang kita buat jadi tembak-tembakan. Dulu alam juga sangat mendukung kepada anak-anak,” ujar Endi. 
 
Tidak hanya itu, pria kelahiran 29 Agustus 1963 itu menyatakan, dilupakannya permainan tradisional anak juga diwarnai oleh budaya atau pendidikan yang dominan didapatkan dari orangtua. Saat ini, lanjut Endi, kesibukan orangtua, khususnya di kota-kota besar, tanpa disadari ikut memengaruhi hubungan orangtua dan anak. 

Pola pendidikan yang disuguhkan oleh orangtua terhadap anak-anak pun otomatis dipengaruhi dengan budaya hidup yang serba instan atau cepat.
 
Sebagian orangtua sekarang, dia menjelaskan, sudah tidak mau mengajarkan permainan tradisional kepada anak-anaknya. Orangtua lebih memilih membuat anak-anaknya anteng dengan memberikan gadget. 

Restu Cahya (12) misalnya. Ia tak lagi memainkan permainan tradisional. Kalaupun tahu beberapa jenis di antaranya, Restu tidak pernah memainkannya. 

"Ya, saya tahu cara memainkan egrang. Tapi kalau gobak sodor dan gasing, saya belum pernah memainkannya," ujarnya kepada VIVA.co.id.

Meski Restu kerap bermain dengan teman-teman sebayanya, tidak semua memainkan permainan tradisional. Ia tak menampik, era gadget dan game modern lainnya sedang hits untuk remaja zaman sekarang.

Kondisi serupa dialami Doni Sinaga (12). Tak banyak permainan tradisional yang dikenalnya. Meski gasing dan gobak sodor pernah dimainkannya, ia tidak tahu cara membuat egrang. 

Pun teman-teman sebayanya. Mereka lebih memilih bermain sepakbola. "Jarang sih, paling main bola. Gasing kalau lagi musim," kata siswa yang tinggal di Depok ini.