Kembalinya Kegembiraan Masa Kecil

Sejumlah murid sekolah dasar memainkan permainan anak tradisional Maluku, Toki Gaba-gaba, di arena Pameran Hari Pers Nasional (HPN) dan Maluku Expo 2017, Lapangan Merdeka, Ambon, Maluku
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Embong Salampessy

"Minimal para perajin dolanan anak tidak lagi menjual produksinya ke pasar atau ke tempat-tempat karamaian, tapi memenuhi pesanan jika ada kegiatan outbond wisata minat khusus," ungkapnya.

Atemo Wiyono (81) salah satu perajin dolanan anak di Dusun Pandes mengaku ramainya mainan tradisional sebelum tahun 1980, hasilnya bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup.

"Kalau sekarang, memproduksi dolanan anak tak cukup untuk kebutuhan hidup. Usia saya juga sudah tua, mau jualan dolanan anak ke sekolah atau ke pasar juga sudah tak mampu," ujarnya.

Meski tak seproduktif saat usia muda, Mbah Atemo ini hingga saat ini masih memproduksi dolanan anak mulai dari payung, angkrek, kluntungan, dan manukan.

Harga yang ditawarkan, kata Atemo, relatif murah. Satu buah payung atau angkrek dijual Rp2.500. Biasanya dijual per paket Rp25.000. "Sebenarnya biaya dengan harga tak sebanding. Namun ini untuk isi waktu senggang saja," lanjut dia. (ren)

Baca juga:

Gadget Vs Permainan Tradisional

Ragam Permainan Tradisional