Terhipnotis Magis Spinner

Seorang wanita sedang memainkan finger spinner di Jakarta.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Dhana Kencana

VIVA.co.id – Bentuknya mungil dengan tiga baling-baling yang bisa berputar. Ini mainan ketangkasan tangan, pakai ujung jari telunjuk dan jempol menekan bagian poros. Jari lain membantu memutar baling-baling hingga muncul gerakan cepat seperti kipas angin yang berputar.

Sederhana tapi sensasinya luar biasa. Kecepatan berputarnya menciptakan warna menarik dari desain mainan itu. Kelihaian jari dan keseimbangan menjaga mainan tetap di jari serta beberapa kreativitas memainkannya memberi pengalaman inderawi bagi pemainnya.

Mainan ini lagi nge-tren di banyak tempat, juga di mancanegara. Fidget spinner namanya. Jika dialihbahasakan, fidget berarti gelisah atau cemas dan spinner memiliki arti pemutar, sehingga bisa diartikan bahwa fidget spinner adalah alat yang bisa berputar untuk mengusir rasa cemas.  

Mainan milenial ini memiliki banyak penggemar di seluruh dunia. Menurut Huffington Post, fidget spinner bahkan menjadi barang bawaan standar siswa-siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah di seluruh Amerika Serikat. Namun, orang dewasa juga tak mau ketinggalan menjajal mainan yang juga sudah tersedia dalam bentuk aplikasi di android dan IOS ini.

"Akibatnya, industri mainan ini meledak dalam enam bulan terakhir dengan lebih dari 500 desain berbeda sedang dibuat," kata Max Salientes, pendiri merek Stealth Spinner dan klub fidget spinner bernama Spinner Box.

Tak hanya desain, model, bahannya pun beragam mulai plastik, alumunium hingga logam. Bahkan demam mainan ini membuat perusahaan terkemuka di dunia rela menciptakan fidget spinner dengan harga mencapai ratusan juta rupiah. Dilansir dari Mashable, perusahaan yang membuatnya bukan perusahaan mainan, melainkan perusahaan khusus perhiasan mewah asal Rusia bernama Caviar.

Dengan harga jual mencapai Rp223 juta, mainan ini sangat mewah dengan lapisan emas 100 gram. Selain itu, ada juga yang dilapisi serat karbon atau kristal swarovski. Caviar memang dikenal sebagai perusahaan yang beberapa kali membuat aksesori untuk produk-produk yang sedang heboh dan tengah menjadi sorotan di dunia. [Baca juga: Berkah Putaran Si Mungil]

Kehebohan mainan itu pun memaksa masyarakat Indonesia membuka mata dan ikut memviralkannya. Meski umur mainan ini masuk ke Tanah Air baru sekitar satu semester alias enam bulan, namun popularitasnya sudah cepat menyebar.

Orang memainkan fidget spinner kini sudah jamak ditemukan. Saat sedang antre, di kampus atau kantor, stasiun atau kereta rel listrik (KRL), pemandangan anak-anak atau orang dewasa memainkan alat kecil itu di tangannya atau media lain mulai familiar.

Seorang prajurit dari TNI Angkatan Darat (AD) bernama Risman sedang melintas di sekitar pasar Gembrong, Jakarta Timur. Dia tampak asyik memainkan fidget spinner di atas meja pedagang mainan sambil menghitung waktu putaran dengan menggunakan stopwatch di telepon selularnya.

"Saya ingin tahu yang seperti ini bisa berputar berapa lama. Anak saya punya di rumah, itu bisa berputar sampai lima menit. Kalau ada yang bisa lebih lama, saya mau belikan untuk anak saya," kata Risman kepada VIVA.co.id
 
Sayangnya, kendati sudah heboh di muka bumi dan banyak penggemarnya, asal muasal mainan tersebut hingga kini masih belum jelas. Sebelumnya disebut-sebut bahwa penemunya adalah wanita asal Florida, Amerika Serikat bernama Catherine Hettinger, namun sebuah laporan Bloomberg membantah klaim itu. [Lihat infografik: Fakta Fidget Spinner]

Menurut ahli kekayaan intelektual dari firma hukum Merchant & Gould, Jeffrey Blake, mainan hasil temuan Hettinger adalah Spinning D-stressor Finer Toy, yang sempat dipatenkan pada tahun 1997. Tapi itu berbeda dengan fidget spinner yang baru ramai satu tahun terakhir ini.

Selanjutnya...Redakan Stres

Redakan Stres

Terlepas siapa penemunya, mainan modern yang awalnya diciptakan untuk anak berkebutuhan khusus itu memiliki banyak penggemar karena beragam alasan. Di antaranya untuk kesenangan, mengubur kebosanan hingga meredakan stres. Salah satu yang gemar main fidget spinner adalah Rio. Karyawan salah satu bank swasta di Jakarta ini mengaku memainkan fidget spinner karena ingin menghilangkan kebosanan, sehingga kini sudah menjadi kebiasaan saat tak punya aktivitas.  

"Asyiknya lebih ke arah kebiasaan. Karena terbiasa kalau sedang menganggur main fidget spinner. Jadi alternatif untuk mengusir kebosanan," kata pria yang memilih fidget spinner dari desain dan lama putarannya ini kepada VIVA.co.id.

Fidget spinner menjadi alternatif memecah kebosanan aktivitas kantor. (REUTERS/Danish Siddiqui)

Menurut dia, mainan ini juga bisa mengurangi kadar adiktifnya terhadap gadget. Karena itu, kadang dia membawanya saat ke luar rumah. Hingga kini, pria berusia 26 tahun tersebut sudah punya banyak model fidget spinner yang dibeli melalui situs belanja daring, dengan harga mulai Rp35 ribu hingga Rp200 ribu.

Seia sekata dengan Rio, Andri seorang mahasiswa Universitas Mpu Tantular, Jakarta Timur mengakui seru dan asyiknya main fidget spinner. Itu karena memainkannya santai dan tidak perlu media rumit, hanya cukup diputar di tangan dan bisa dilakukan sambil melakukan aktivitas santai lainnya.

"Cukup diputar di tangan, iseng sambil ngobrol, nongkrong, ngopi. Mainnya enggak ribet, santai saja," ujar dia.

Selain bisa dimainkan sendiri di tangan, dia juga sering memainkan fidget spinner bersama teman-teman kampusnya. Paling seru saat dimainkan bersama karena mereka akan saling adu fidget spinner siapa yang paling lama berputar.

Saat ini, mahasiswa berusia 21 tahun tersebut telah mengoleksi empat fidget spinner dengan bahan plastik dan logam. Adapun harga fidget spinner miliknya mulai Rp80 ribu untuk bahan plastik dan besi mulai Rp250 ribu hingga Rp300 ribu.

Tak jauh berbeda, Alif Farhan, pelajar lulusan Madrasah Tsnawiyah (setingkat Sekolah Menengah Pertama/SMP) di Gresik, Jawa Timur mengatakan bahwa main fidget spinner bisa mengisi waktu luang dan menunggu antrean. Remaja berusia 16 tahun tersebut menyatakan bahwa main fidget spinner tidak mengganggu jam belajarnya selama ini lantaran hanya dilakukan saat bosan dan di luar rumah bersama dengan teman-temannya, sehingga tak ada keluhan dari orangtua maupun guru.

"Belajar tidak terganggu karena main fidget spinner biasanya saat sedang bosan dan kumpul dengan teman-teman," ujar dia.  

Sementara itu, Magdalena, ibu dari seorang putra penggemar fidget spinner mengatakan bahwa dia mengizinkan putranya main fidget spinner karena alat tersebut tidak berbahaya. Bahkan, dia membelikan satu fidget spinner untuk buah hatinya.

Putranya pun hanya main fidget spinner ketika sedang bosan. Kendati demikian, mainan ini, menurut dia, tidak banyak membantu untuk mengalihkan kegemaran anaknya terhadap gadget.

"Mainan ini lagi booming saja makanya dimainkan. Enggak lama lagi juga fidget spinner-nya enggak akan dimainkan lagi," ucap Ibu Rumah Tangga (IRT) di Depok tersebut.

Sedangkan ibu dua putra bernama Astuti berpendapat bahwa fidget spinner membosankan karena hanya berputar, namun putranya bernama Diffy yang masih berusia 7 tahun justru menyukainya. Itu lantaran menurut pengakuan Diffy, main fidget spinner bisa menghilangkan stres.

Mainan itu, dia menambahkan, juga memberi manfaat seperti membuat putranya menjadi lebih tenang, memberi kepuasan sensorik dan sensasi dari setiap putaran fidget spinner serta membantu bersosialisasi dengan teman-temannya. "Sampai mulutnya kadang ikut muter-muter saking seriusnya. Kalau ketemu teman-temannya jadi saling berbagi cerita bagaimana keunggulan fidget spiner miliknya," kata Astuti.

Hingga kini, putranya memiliki lima fidget spiner dengan beragam model dan warna. Adapun harga mainan itu termurah Rp7.000 dan termahal mencapai ratusan ribu rupiah.  

Karyawan swasta di kawasan Jakarta Timur itu menuturkan, tidak pernah membatasi putranya main fidget spinner lantaran tidak pernah kebablasan dan bisa memangkas waktu main gadget. Terpenting, tidak mengganggu jam belajar Diffy.

"Belajarnya malam, kalau siang dibebaskan main. Jadi tidak mengganggu jam belajarnya," katanya.

Selanjutnya...Tanggapan Sekolah

Tanggapan Sekolah

Soal main fidget spinner di sekolah, Elissa Sinaga, Wali Kelas XI MIPA SMAK 6 Penabur, Jakarta Utara, tidak mempermasalahkannya. Dia pun mengaku tak mau ambil pusing karena alat tersebut seperti pengganti pulpen atau penggaris yang biasa diputar siswa saat di kelas.

Bahkan, ada siswa yang memainkan fidget spinner, ketika ditanya soal bisa menjawab dengan baik. Meski demikian, tidak bisa digeneralisir bahwa alat itu bisa meningkatkan konsentrasi atau fokus siswa. Menurutnya, alat itu mungkin saja hanya berlaku pada anak dengan tipe kinestetik, yang memerlukan olah tubuh untuk meningkatkan konsentrasi.

"Menurut saya, tidak semua anak bisa konsentrasi dengan cara itu, perlu ada penelitian. Ada anak yang perlu melakukan gerakan, baru bisa menyimak dengan baik. Tapi ada juga harus dalam keadaan tenang, baru bisa menyimak," ujar guru mata pelajaran Bahasa Indonesia ini.

Sementara siswanya yang memainkan alat tersebut di kelasnya pun tak lebih dari lima orang. Dan mereka tidak mengganggu dan tahu kapan harus menyimpan atau memainkannya. Karena itu, hingga kini belum ada kebijakan pelarangan main fidget spinner di sekolah tersebut. Kendati demikian, sekolah juga berperan mengontrol agar anak tidak keasyikan main fidget spinner saat belajar di kelas.

"Kalau mainnya sudah mengganggu atau bisa membuat mereka bermasalah di kelas, mau enggak mau harus diberlakukan (pelarangan main fidget spinner) ke semua anak, supaya nanti enggak ada yang sirik-sirikan," ujarnya.

Jika di SMAK 6 Penabur siswa belum dilarang main fidget spinner selama tidak menggangu, berbeda dengan siswa di SMAN 1 Jakarta yang dilarang membawa mainan, termasuk fidget spinner. Otomatis hal itu membuat tak ada siswa yang berani membawa atau memainkannya di lingkungan sekolah.

"Tidak ada yang membawa hal-hal seperti itu ke sekolah. Yang dibawa ke sekolah sesuai dengan kegiatan ekstrakurikuler, misal musik boleh bawa gitar atau biola dan olahraga bisa bawa bola basket," ucap Kepala Sekolah SMAN 1 Jakarta, Mas Ayu Yulianta.

Menurutnya, aturan itu sudah ada dalam tata tertib (tatib) sekolah yang dituangkan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan. Hal itu sudah disampaikan dan disosialisasikan kepada orangtua siswa di awal penerimaan siswa. Di samping itu, orangtua juga sudah menandatangani pernyataan bahwa anak mereka akan mengikuti aturan dan tatib yang berlaku di sekolah tersebut.

Sementara di Amerika, beberapa sekolah di Kansas dan Illinois sudah melarang mainan ini dibawa ke sekolah. Alasannya, fidget spinner mengganggu konsentrasi belajar siswa.

Selanjutnya...Timbulkan Efek Samping

Timbulkan Efek Samping

Mengenai potensi mengganggu konsentrasi, psikolog Ayoe Sutomo menuturkan bahwa hal itu belum terbukti benar. Menurutnya, dampak fidget spinner tak sama dengan bermain gadget atau game daring yang bisa menganggu konsentrasi lantaran stimulasinya jauh lebih sedikit dibanding gadget, yang melakukan stimulasi hampir memakai semua sensor indra.

"Kalau fidget spinner sejauh ini hanya perabaan dan koordinasi visual dan motorik saja yang terpakai. Dia masih menerima stimulus lain," ucapnya.

Dia pun tak sepakat jika ada yang menyebut mainan mini dalam bentuk fisik bisa menimbulkan kecanduan. Jika pun ada, potensinya secara psikologis sangat minim. Namun yang dikhawatirkan adalah mainan daring lantaran adanya kompetisi, level, penghargaan maupun hukuman yang menjadi faktor pemicu kecanduan.

Sementara soal manfaat fidget spinner bisa membantu anak berkebutuhan khusus, seperti penderita autisme dan gangguan konsentrasi atau attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD), meningkatkan fokus dan konsentrasi, Ayoe mengemukakan perlu dilakukan penelitian yang komprehensif. Namun, jika menilik cara kerja dari mainan ini, potensi itu mungkin saja ada lantaran untuk sebagian orang, memandangi benda yang bergerak secara statis bisa meningkatkan fokus dan konsentrasi.

"Tapi perlu penelitian lebih lanjut untuk memastikan bahwa fidget spinner memiliki banyak manfaat seperti yang disebutkan. Namun saran saya, jangan terlalu lama karena saya yang dewasa saja, megang beberapa waktu sudah pegal," kata dia.

Kegiatan belajar mengajar di sebuah sekolah berkebutuhan khusus di Surabaya, Jawa Timur. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

Senada dengannya, psikolog anak dan praktisi Theraplay dari PION Clinician, Astrid W.E.N mengatakan bahwa mainan ini dapat meredakan stres memang harus dibuktikan dengan penelitian lantaran tak semua orang merasakan manfaat yang sama. Sementara untuk penderita autis dan ADHD, fidget spinner bisa menjadi salah satu media yang dipakai untuk tumbuh kembang anak lebh optimal, bukan faktor penentu.

"Itu hanya dipakai sebagai media di dalam sistem support, sistem intervensi dalam sesi intervensi sebagian ahli atau orang. Tapi itu bukan faktor penentu, hanya faktor kecil dan tidak bisa diterapkan ke semua anak dengan ADHD dan autis," tutur dia.

Kendati demikian, sebagai sebuah mainan, fidget spinner memiliki efek positif yang nyata sebagai penyalur imajinasi dan kreativitas anak, melatih kemampuan motorik jari, membantu menghilangkan rasa bosan dan alat untuk bersosialisasi. Di balik manfaat baik dari mainan ini, ternyata fidget spinner juga menyimpan efek buruk jika digunakan secara tidak tepat dan terkontrol.

Misalnya, penggunaan yang berlebihan sehingga mengorbankan waktu atau kegiatan rutin seperti makan dan belajar. Selain itu, jika mainan tersebut justru dijadikan simbol status sosial karena harganya mahal, mengganggu dan menyakiti orang lain.

Seperti kasus yang baru-baru ini menimpa bocah laki-laki berusia 11 tahun nyaris kehilangan bola matanya karena ingin pamer trik bermain fidget spinner kepada teman-temannya. Molly, ibu bocah laki-laki itu, mengatakan bahwa anaknya melempar fidget spinner sedikit lebih tinggi tapi tidak berhasil menangkap kembali dan terjatuh di sudut matanya.

"Beruntung dia tidak jadi buta atau kehilangan bola mata," ujar Molly, seperti dilansir dari Mirror.

Kejadian buruk juga dialami Kelly Rose Joniec dari Texas, Amerika Serikat. Putrinya yang duduk di sekolah dasar tidak sengaja menelan bagian fidget spinner. Benda kecil itu menyangkut di tenggorokannya saat dia memasukkan ke mulut dengan maksud untuk membersihkannya.

Sementara seorang aktris Irlandia, Ayoola Smart juga mengalami hal buruk karena seorang bocah main fidget spinner yang tidak terkontrol. Saat berdiri di sebuah toko, seorang anak kecil bermain fidget spinner di dekatnya, anak itu kehilangan kendali mainannya hingga tidak sengaja memukul Smart di belakang telinganya hingga mengalami benturan keras.  

Untuk membatasi efek buruk, dokter spesialis anak dan konsultan tumbuh kembang anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) RSCM, dr. Bernie Endyarni Medise, SpA(K) menyarankan agar orangtua atau orang dewasa memperhatikan durasi main fidget spinner. Jangan sampai main secara berlebihan dan asyik sendiri hingga membuat lupa untuk bersosialisasi.

Khusus untuk anak-anak usia balita, orangtua wajib memberikan perhatian lebih lantaran kejadian buruk seperti memasukkan mainan ke mulut atau tersedak bisa saja terjadi. Batas usia anak memainkan fidget spinner, menurut dia, sebaiknya di atas tiga tahun. Dan yang perlu perhatikan adalah cara memainkannya. Menggunakan jari dan diadu di media lain masih aman, namun jika dilempar bisa berpotensi melukai diri sendiri atau orang lain.

Setali tiga uang dengannya, Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, dr. Eni Gustina, MPH mengatakan, meski mainan itu tampaknya tidak membahayakan bila dimainkan dengan benar dan tepat, namun orangtua harus mengawasinya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan menimpa buah hatinya.

"Untuk anak yang hiperaktif, autis, agak kurang perkembangannya, susah berkonsentrasi dikasih alat seperti ini (fidget spinner) akan memicu konsentrasinya. Bisa menjadi salah satu alternatif. Namun untuk anak dengan kondisi apapun, orangtua harus tetap mengawasi anak memainkannya," ujar dia. (ren)