Mau Eksis atau Narsis?

Seorang gadis sedang selfie dengan latar lukisan mural di Jakarta
Sumber :
  • REUTERS/Agoes Rudianto

Sementara, bagi Azas Tigor Nainggolan, medsos adalah sarana ia kampanye. Selain itu juga untuk memperkenalkan diri. “Kalau saya memang hobi setiap kegiatan atau pemikiran, ide, kritik terhadap kebijakan pemerintah saya upload,” ujar pegiat sosial yang juga pendiri Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA) ini kepada VIVA.

“Prinsipnya sosial media itu buat saya untuk berbagi. berbagi pengalaman, berbagi ide, berbagi pemikiran,” ujar aktivis ini menambahkan.

Kecanduan Narsis

Yana mengakui, ‘eksis’ di medsos sudah menjadi kebutuhan. Meski ia aktivitasnya itu kadang mengganggu interaksinya dengan orang-orang di sekitarnya.  Sementara bagi Filani, medsos itu antara butuh dan tak butuh. Ia mengaku membutuhkan medsos untuk hiburan, update kehidupan orang dan yang utama eksistensi diri sendiri.

“Kalau dipaksa tanpa itu sebenarnya pasti bisa. Tapi, selama akses ke sana terbuka lebar kayaknya aku enggak bakal menutup diri buat terus jadi bagian Instagram, Twitter atau Facebook sih,” ujarnya.

Sementara, Chelzea mengaku sangat membutuhkan medsos. Menurut dia, jika tak ada medsos hidupnya serasa hampa. “Rada hampa gitu. Bukan soal media sosial atau instagram aja ya. Handphone dan media sosial lainnya sudah kayak kebutuhan wajib sehari-hari,” ujarnya.

Ia juga mengakui, karena sudah kecanduan medsos kerap mengabaikan lingkungan sekitar. “Kalau lagi keasyikan lihat - lihat instagram suka lupa orang di sekitar. Pernah sampai ditegur.”

Menurut sosiolog Devie Rahmawati, setiap hari ada 80 juta foto yang diunggah di Instragram, 3,5 milyar like per hari di media sosial, dan 1,4 milyar orang yang mempublikasikan kehidupan mereka setiap hari melalui facebook. Menurut dia, kondisi ini diyakini sebagai salah satu tanda bahwa manusia di dunia telah terjangkit virus narsis.

“Data di US memang menunjukkan dalam waktu 10 tahun terakhir ada peningkatan manusia yang mengidap penyakit Narcissistic Personality Disorder (NPD), yaitu penyakit gangguan mental narsis, yang angkanya terus bersaing dengan penyakit obesitas,” ujarnya kepada VIVA.

Seorang wanita melakukan selfie menggunakan smartphone di Jakarta. (REUTERS/Beawiharta)

Gangguan ini ditandai paling sedikit dalam tujuh karakter yakni, keinginan untuk terus dikagumi, merasa diri paling penting, rendahnya empati dan memiliki mimpi tentang kesuksesan yang besar. Selain itu juga menunjukkan rasa kasih yang rendah terhadap orang lain, memilih teman berdasarkan status yang dimiliki bukan kualitas seseorang dan selalu mencari perhatian orang lain