Mitsubishi: yang Salah Bukan Tape Mobil, Tapi Pengendara

ilustrasi audio mobil.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Jeffry Yanto

VIVA – Kabar mengenai adanya larangan bagi pengemudi mobil untuk mendengarkan musik saat sedang berkendara membuat banyak pihak terhenyak.

Komentar tak hanya datang dari masyarakat sebagai konsumen, namun juga beberapa agen pemegang merek. Salah satunya Mitsubishi.

Direktur Pemasaran dan Penjualan PT Krama Yudha Tiga Berlian, Duljatmono mengatakan, aturan mengenai tidak diperbolehkannya mendengarkan musik karena dianggap mengganggu konsentrasi dianggap tidak biasa.

“Kalau enggak boleh dengarkan musik itu agak aneh. Truk saja ada radio. Saya juga enggak tahu, sampai mana batasan aturan itu,” ujarnya kepada VIVA, Jumat 2 Maret 2018.

Oleh sebab itu, ia meminta agar aturan tersebut diperjelas lagi, sehingga tidak menimbulkan salah persepsi di kalangan masyarakat.

“Harus jelas tujuannya, apa yang mengakibatkan mendengarkan musik itu berpengaruh pada safety driving. Jadi konteksnya, dalam perilaku yang mana?” tuturnya.

Ia juga menjelaskan, pihak Kepolisian tidak bisa mengetahui apakah pengemudi sedang mendengarkan musik atau tidak.

“Fasilitas yang ada di dalam mobil, seperti musik itu normal. Penggunaannya tergantung perilaku pengemudi, jadi bukan itu (sistem audio) yang harus dihilangkan,” ujarnya menjelaskan.

Duljatmiko mengaku, yang harus dibenahi adalah perilaku pengemudi, bukan menghilangkan fitur yang sudah ada sebelumnya.

“Perilaku pengemudi diedukasi. Kalau dipakainya sambil joget-joget, pasti berbahaya. Kalau suara kecil-kecilan, daripada macet terus stres, dihidupkan kan enggak masalah.” (mus)