Mengembalikan Khitah Facebook

Logo aplikasi media sosial Facebook.
Sumber :
  • REUTERS/Thomas White

Perubahan algoritma Facebook akan membawa wajah baru dalam beranda atau News Feed pengguna. Sesuai arahan Zuckerberg, Facebook akan memastikan beranda pengguna akan memprioritaskan postingan dari teman dan akun keluarga yang berkaitan, dan mengenyahkan postingan iklan dari produk dan penerbit. Sejalan dengan itu, untuk menarik pengguna menikmati kualitas bermakna di Facebook, beranda akan lebih menonjolkan berita lokal yang diperkirakan akan membuat relevan dengan ketertarikan pengguna. Dengan demikian, menurutnya, akan terjadi interaksi bermakna pada pengguna Facebook. 

Untuk mengembalikan percakapan yang bermakna kembali ke Facebook, Zuckerberg memerintahkan Manajer Produk Facebook untuk memfasilitasi interaksi yang paling bermakna antarpengguna dan membantu pengguna menemukan konten yang paling berarti bagi mereka masing-masing. 

Sikap jelas Facebook adalah meneruskan keinginan Zuckerberg untuk mengurangi konten pasif, yakni konten video dan artikel yang 'memaksa' pengguna menonton dan membaca, sehingga waktu pengguna terbuang pada konten tersebut, alih-alih berinteraksi dengan teman pengguna. 

"Kami ingin memastikan produk kami tak hanya menyenangkan, tapi bagi untuk semuanya. Kami perlu memfokuskan kembali sistem kami," jelasnya. 

Tahun sulit

Perubahan algoritma itu bukan tanpa asap layaknya api. Dalam beberapa bulan terakhir termasuk tahun lalu, Facebook memang mengalami beberapa ujian.  

Dalam bidang politik, Facebook tersangkut dengan dugaan ikut terlibat dalam Pemilu Amerika Serikat 2016. Platform teknologi itu disalahgunakan oleh agen Rusia dalam kepentingannya dalam Pemilu Negeri Paman Sam yang dimenangkan oleh Donald Trump. Facebook dituding telah mempengaruhi jutaan penggunanya secara negatif melalui postingan di berandanya. Algoritma Facebook diduga sengaja memprioritaskan berita dan informasi yang menyesatkan alias hoaks di beranda, demi mempengaruhi publik  dalam Pilpres AS. Facebook juga dituding melakukan siasat serupa dalam agenda politik di banyak negara. 

Facebook menjawab tudingan itu dengan menjalankan riset kolaboratif dengan politikus, akademisi, media dan lainnya.

Awalnya Zuckerberg tak yakin tentang efek Facebook membelah masyarakat dan menyebarkan hoaks yang menyerang Hillary Clinton. Kemudian dia akhirnya sadar atas kesalahan tersebut. 

Belakangan Facebook mengakui hal tersebut. Para agen Rusia disebutkan menggunakan Facebook untuk mengumumkan event atau menghimpun massa pada hajatan yang berkaitan dengan kampanye Pemilu Amerika Serikat pada 2016.