Pembuktian Band Kotak
- VIVA/Ikhwan Yanuar
Tantri: kita kayak yang tertantang saja, bagaimana ya kasih tahu orang-orang kalau Kotak itu masih ada. Kita bikin liriknya #Masih Ada, tapi lebih universal. Ini lagu bikinnya bareng-bareng juga dibantuin, lebih banyak curhatan. Ini salah satu alasan tepatnya aku berhijab ada di lagu ini juga. Ini lagu terjujur yang pernah kita buat, karena kita sendiri yang mengalami.
Lagu #MasihAda sebagai batu loncatan untuk rilis album baru?
Tantri: Harapan kita demikian, kita era band yang lebih mengutamakan fisik saat itu. Tapi sekarang transisinya ke digital dan rata rata banyak single yang dikeluarin dahulu, ya mau tidak mau Kotak ikuti. Tapi kita mau nantinya ada album.
Segudang penghargaan sudah pernah didapat. Dengan single terbaru ini apa Kotak berharap untuk bisa mendapat penghargaan kembali?
Tantri: Sebenarnya target kita bukan itu ya, buat kami itu semua bonus. Dahulu saat kami berjuang dari nol, kami tidak pernah punya target kami bakal dapat penghargaan. Kami cukup karya didengar banyak orang, dihargai itu sudah buat kami bahagia. Kebahagiaan Kotak saat lagu-lagu kami bisa menginspirasi hidup banyak orang. Kami bukan ingin penghargaan, pengakuan, ya mungkin itu bonus. Ya, minimal bisa jadi inspirasi beberapa orang.
Promo apa saja agar lagu #MasihAda ini didengar banyak orang?
Chua: Kalau promo berbagai macam cara. Seperti ketemu teman-teman media, redaksi, lalu kita menggerakkan misi sosial seperti #kotakmasihada.
Tantri: Sebenarnya karena sekarang era digital, mungkin lebih mudah untuk promo. Dibandingkan dahulu hanya lewat stasiun televisi. Karena sekarang orang-orang sudah lari ke Youtube, dan segala macam. Kita agak lebih gencar di digital dan media sosial.
Sudah 14 tahun Kotak berkarier, apa yang belum teruwjud sampai saat ini?
Cella: Saya sih mau bikin buku. Perjalanan Kotak dijadikan komik. Orang tahunya Kotak suksesnya saja. Orang tidak tahu Kotak susah kayak apa. Mungkin dikemasnya bisa lewat komik. Saya mau seperti itu.
Tantri: Pengennya banyak, kalau dijabarin satu-satu kebanyakan. Sebenarnya karena terlalu banyaknya itu, kita berpikir bagaimana cara mempertahankannya saja. Karena ternyata memang dari nol itu memang lebih mudah sepertinya, karena itu kayak ada jiwa berjuangnya. Tapi ketika kita ada di level nyaman, kita aman itu kayak rasa berjuangnya dikit. Untuk bikin karya, bagi yang 'tua' itu yang agak susah. Kita lagi menggali itu dan mempertahankannya saja.