Akhir Krisis Mako Brimob
- ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Komandan Korps Brimob Polri, Irjen Rudy Sufahriadi menambahkan, bom-bom rakitan itu ditemukan di sel napi teroris itu merupakan barang bukti kasus terorisme yang belum sempat digudangkan oleh penyidik Densus 88.
"Itu yang mereka ambil alih, mereka rebut lagi. Itulah yang dijadikan bahan bom buat ranjau nanti di sini. Dan sudah kita ledakkan semua," ujar Rudi di Mako Brimob.
Mantan Kapolda Sulawesi Tengah ini tak bersedia menjelaskan berapa jumlah bom yang berhasil dirakit para napi teroris di dalam tahanan. "Ada cukup banyak, kedengaran tadi ada ledakan yang cukup banyak. Saya enggak sebut ada berapa, tapi tadi terdengar cukup banyak," tegasnya.
Baca: Kronologi Lengkap Horor di Markas Pasukan Elite Polri
Selain temuan bom rakitan di dalam sel tahanan, yang tak kalah mengejutkan adalah keberadaan senjata tajam, yang digunakan napi teroris untuk membunuh lima anggota Polri. Entah darimana mereka mendapatkan senjata tajam masuk ke dalam sel tahanan di komplek pasukan elite Polri itu.
"Nah, saya belum tanya juga, itu yang jadi pertanyaan saya juga," kata Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto di Mako Brimob, Rabu malam, 9 Mei 2018.
Setyo menduga senjata tajam itu sudah disiapkan sebelum kerusuhan. Namun, ia belum dapat memastikan asal senjata tajam tersebut. "Katanya begitu (sudah disiapkan sejak awal kerusuhan), di dalam mungkin sudah disiapin," ujar Setyo.
Sedangkan untuk senjata api di dalam rutan, para napi teroris ini merebut senjata yang menjadi barang bukti dari kelompok teroris yang berhasil diamankan polisi dalam operasi antiteror di beberapa daerah. Barang bukti itu belum sempat digudangkan oleh penyidik Densus 88.
Setidaknya ada 30 pucuk senjata yang diamankan, disamping senjata yang dirampas dari anggota Polri yang tewas. Menko Polhukam Wiranto menyebut senjata-senjata ini seluruhnya diserahkan napi teroris saat menyerahkan diri pada Kamis pagi.
"Mereka keluar tanpa syarat dan senjata diserahkan kurang kebih 30 pucuk. Itu senjata hasil sitaan dari aparat kepolisian melawan terorisme," ujar Wiranto.
Penjara 'High Risk'