Muka Dua Facebook

Media sosial Facebook.
Sumber :
  • REUTERS/Dado Ruvic

Parakilas mengatakan, sejatinya dia sudah mengingatkan eksekutif Facebook atas bahaya data bocor, setelah melalui pengembang eksternal. Namun, eksekutif Facebook malah mengabaikannya dan meminta Parakilas tutup mulut, tidak usah sok pintar. 

"Apakah kami benar-benar ingin melihat apa yang kamu temukan?" ujar eksekutif yang tak disebutkan namanya itu.

Dari jawaban petinggi itu, Parakilas berkesimpulan Facebook sudah tahu akan terjadi masalah dan media sosial itu sengaja mengacuhkan, karena merasa punya posisi kuat jika digugat dalam penyalahgunaan data.  

Fakta lainnya, Parakilas mengatakan, Facebook ternyata tidak tegas. Penindakan kepada pengembang nakal tergolong 'sangat langka' dan 'santai'. Dia mengaku selama bekerja di Facebook, tidak melihat adanya audit tunggal dari sistem pengembang.

Selama berada di Facebook, Parakilas menuturkan, ternyata media sosial raksasa itu mendorong lebih banyak pengembang untuk membuat aplikasi. Untuk menarik minat pengembang, Facebook menawarkan akses data pengguna dan teman pengguna.

Belakangan, aplikasi dari pengembang subur di Facebook pada tahun-tahun jelang IPO Facebook pada 2012. Namun, anehnya kebijakan Facebook untuk mencari data teman dihentikan pertengahan 2014. Parakilas menuturkan, ada puluhan atau ratusan ribu pengembang yang melakukan pemanenan data teman pengguna. 

Facebook menolak berkomentar soal pengakuan Parakilas. Media sosial pemilik WhatsApp ini malah meminta The Guardian untuk melihat sikap resmi Facebook di blog perusahaan pada 2017. Pada sikap tersebut, Facebook merasa tidak ada yang salah dalam praktik berbagi data yang menjadi ‘meningkat signifikan’ selama lima tahun terakhir.

"Meskipun adil untuk mengkritik bagaimana kami menegakkan kebijakan pengembang kami lebih dari lima tahun yang lalu, tetapi salah menuding kami belum atau tidak peduli dengan privasi. Fakta-faktanya menceritakan cerita yang berbeda," tulis pernyataan Facebook.

Berikutnya, respons Indonesia>>>

Respons Indonesia

Borok baru dari Facebook sampai terdengar di Indonesia. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyatakan, pemerintah tetap akan menunggu proses audit Facebook dari otoritas Inggris, yang masih menyelidiki skandal penyalahgunaan data yang menyeret Facebook dan Cambridge Analytica. Hasil dari audit itu akan menjadi landasan sikap dari Kominfo terhadap Facebook.