Indonesia adalah Desa
- VIVA/Muhamad Solihin
Apa fokus Anda selama lima tahun ke depan?
Saya akan fokus pada dua hal, pertama edukasi dan kedua pertumbuhan ekonomi. Kedua hal ini yang kita urus betul di desa-desa selama lima tahun ke depan. Makanya saya juga sudah melontarkan beberapa gagasan untuk memberikan apresiasi kepada beberapa kepala desa yang berprestasi.
Maksudnya?
Satu periode itu enam tahun, kalau kepala desa itu bekerja secara maksimal dan berprestasi menurut hemat saya itu sudah layak disetarakan dengan lulusan S1 di bidang pembangunan masyarakat misalnya. Karena apa? Bedanya dengan yang kuliah, mereka (kepala desa) ini langsung praktek, implementasi dan langsung kelihatan hasilnya, dia berprestasi. Nah tinggal nambah beberapa mata kuliah dasar mungkin sifatnya filosofis, muatan ideologis, menurut saya layak mendapatkan gelar S1. Ini yang saya minta ke Kemendikbud dan juga ke rektor-rektor agar dicarikan formulanya.
Ini satu contoh, bagaimana saya ingin menerapkan pola-pola edukasi ini yang akan terus kita lakukan. Dan itu bukan hanya berlaku bagi kepala desa, bisa saja ini berlaku pada Kabag Keuangan yang punya tanggung jawab tidak ringan mengurusi duit dana desa. Sehingga mereka-mereka yang berprestasi itu bukan sekadar kita kasih penghargaan sertifikat, tapi ada yang lebih kongkret lagi, yang lebih substansi. Nah ini juga bagian dari edukasi.
Selain itu?
Terkait edukasi di 2020 ini saya juga fokus untuk meningkatkan kapasitas pendamping desa. Ini dilakukan supaya terjadi percepatan juga dalam proses pembangunan. Saya tidak ingin pendamping desa justru kalah dalam peningkatan kapasitas dibanding para aparatur desa. Targetnya sampai pada assessment supaya pendamping desa nantinya menjadi pendamping desa yang betul-betul memiliki kualifikasi di dalam pendampingan.
Selain itu saya kepingin jangka panjang dalam artian periode kedua Pak Jokowi ini digitalisasi desa betul-betul menjadi perhatian utama kita. Itu bukan hanya urusan pelayanan tapi ini juga terkait dengan pertanggungjawaban dana desa. Kalau semua penggunaan dana desa sudah cashless, maka akan sangat mudah untuk mempertanggungjawabkan. Karena semua ada jejaknya, duit dari kas desa itu perginya kemana, kapan dikeluarkan, berapa, siapa yang menerima, untuk keperluan apa dan lain sebagainya.